www.bisnistoday.co.id
Rabu , 1 Juli 2026
Home OPINI Gagasan Carpe Diem ala Nadiem?
Gagasan

Carpe Diem ala Nadiem?

Social Media

Ketika penyair Romawi, Horatius (Horace), menggoreskan ungkapan carpe diem dalam bait puisinya di Odes lebih dari 2000 tahun silam, dia tentu tidak pernah membayangkan bahwa kata-kata itu akan bergema lintas abad, lintas bahasa, hingga melintasi samudra kebudayaan.

“Carpe diem, quam minimum credula postero,” tulisnya. “Petiklah hari ini, dan jangan terlalu percaya pada esok yang tak pasti.”

Sebuah ajakan sederhana namun sarat makna: menghargai detik yang hadir, merayakan momen kini, dan tidak menunda kebahagiaan pada hari yang mungkin tak pernah datang.

Saat itu Horace hanya hendak menasihati seorang wanita bernama Leuconoë, agar jangan menggantungkan hidup pada ramalan yang samar.

Pada perkembangannya, hal itu dimaknai sebagai dorongan untuk memanfaatkan dan menikmati waktu saat ini, karena masa depan tidak pasti.

Ia tak akan menyangka bahwa ungkapannya kadang dimaknai sebagai ajakan merayakan hidup dengan bijak, kadang pula diselewengkan menjadi tameng bagi kerakusan.

Di tanah air kita, frasa itu kerap bergema dalam wujud yang getir, yaitu budaya aji mumpung. Frasa ini pun menjadi pembenaran bagi sebagian besar pejabat dari tingkat terendah hingga tataran elit yang bermental korup.

Mumpung duduk di singgasana kekuasaan, mumpung pena kebijakan ada di genggaman, mumpung rakyat masih percaya pada jargon dan janji, maka hari ini harus “dipetik”l.

Petiklah hari, mumpung kursi masih empuk. Petiklah hari, mumpung rakyat masih diam. Petiklah hari, mumpung kekuasaan masih menutup mata. Dan esok? Ah, biarlah esok menjadi tanggung jawab sejarah, dan generasi yang muak menyaksikan drama yang berulang.

Horatius tentu akan geleng kepala. Sebab, yang ia maksud dengan “memetik hari” bukanlah memetik keuntungan dari kecurangan, melainkan memetik kebijaksanaan dari kefanaan waktu. Ironis, betapa sebuah frasa yang lahir dari perenungan puitis tentang hidup, bisa menjelma menjadi senjata retoris bagi para penguasa yang terperosok dalam nafsu duniawi.

Lihatlah bagaimana publik menatap kasus yang menjerat Nadiem Makarim, mantan Mendikbudristek yang pernah dielu-elukan sebagai pembawa semangat baru. Dia, sosok muda yang dahulu datang membawa bendera perubahan, kini harus menanggung stigma tersangka. Bersama lima orang lainnya, Nadiem ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan laptop Chromebook, di kementeriannya, Kamis (4/9).

Pertanyaan pun bergaung: benarkah carpe diem telah berubah rupa di tangannya, dari semboyan untuk menghargai hidup, menjadi alasan untuk mengeruk?

Pada akhirnya, carpe diem di tangan Horatius adalah seruan untuk merayakan hidup dengan jernih, bukan dengan tamak. Tetapi di tangan sebagian penguasa kita, seruan untuk hidup bijak justru dipelintir menjadi pembenaran untuk sesuatu yang tak layak.
Ah sudahlah!?

Penulis : Dhany Bagja (Wartawan Senior)

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Orasi Ilmiah
Gagasan

“Dramaturgi” Dibalik Skandal Riset “Bodong”

DUNIA akademik Indonesia baru saja dihantam badai yang memalukan di panggung internasional....

Kopdes Merah Putih
Gagasan

Jangan Dipersempit, Koperasi Desa Merah Putih Mesti Dipandang Lebih Holistik

RASANYA, perlu diselaraskan dalam pemikiran koperasia atas hadirnya program Koperasi Desa /Kelurahan...

Dream Job
Gagasan

Secercah Harapan Muncul, Semoga Badai Ekonomi Segera Berlalu

BELUM LAMA INI, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan perlunya disiplin fiskal. ...

KTT BRICS+
Gagasan

Ketika “The President’s Men” Mengalahkan Peraih Adhi Makayasa

JAKARTA, Bisnistoday - Pada penutupan Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVI Tahun 2026 di...