VENEZUELA pernah menjadi salah satu negara terkaya di Amerika Latin berkat cadangan minyaknya bahkan disebut memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Namun karenanya, malah negara ini menjadi bergantung ekstrim pada minyak. Persoalan lain muncul seperti kekayaan menjadi salah kelola ekonomi (kontrol harga, nasionalisasi luas, korupsi). Ini sangat berasa ketika terkjadi penurunan tajam harga minyak (2014-2016).
Kondisi ini, menciptakan krisis seperti hiper-inflasi, kelangkaan barang, runtuhnya layanan publik, dan eksodus jutaan warga. Dalam konteks inilah, relasi Venezuela-AS semakin memburuk, terutama di bawah Hugo Chávez lalu Nicolás Maduro.
Disisi lain, motivasi intervensi AS tidak tunggal melainkan kombinasi. Pertama adalah kepentingan Energi bahwa Venezuela notabene mitra minyak strategis, namun kebijakan nasionalisasi dan pembatasan investasi asing mengancam kepentingan perusahaan minyak AS.
Begitupun, Venezuela dipandang menjadi pusat jaringan anti-AS di Amerika Latin, punya kedekatan dengan negara rivalitas AS, seperti Rusia, China, Iran maupun, Kuba. AS melihatnya sebagai “tantangan ideologis” terhadap hegemoni Washington di kawasan.
Kemudin, AS membingkai intervensinya sebagai “mendukung demokrasi, menolak otoritarianisme.” Namun, ini sering dipandang selektif, karena disisi lain, bahwa AS tetap mendukung rezim otoriter lain selama mereka pro-Amerika.
Lalu Apa Yang Dilakukan AS
Intervensi tidak selalu berarti invasi militer. Dalam kasus Venezuela, intervensi bersifat komprehensif dan bertahap antara lain, pertama adalah melakukan tekanan diplomatik dan politik. Ini seperti, tidak mengakui legitimasi pemilu Venezuela, mendukung oposisi, termasuk klaim kepresidenan Juan Guaidó (2019), mendorong isolasi Venezuela melalui OAS dan sekutu regional. Ini bertujuan menggerakkan delegitimasi global terhadap Presiden Maduro.
Tidak hanya sanksi ekonomi, terbaca dari penerapan elemen paling destruktif antara lain, pembekuan aset perusahaan minyak Venezuela (PDVSA) di luar negeri, larangan transaksi dollar, sanksi individu pejabat mupun Pembatasan ekspor minyak. Tindakan ini akan berdampak langsung seperti; melemahkan pemerintah, memperburuk ekonomi rakyat (kelangkaan, inflasi, penurunan layanan publik) dan sanksi mempercepat krisis sekaligus jadi alat tawar.
AS juga melakukan intervensi intelijen dan operasi “Soft Power”. Ini terlihat dari pendanaan kelompok oposisi, kampanye informasi dan media, tekanan terhadap militer agar membelot serta upaya membentuk koalisi internasional anti-Maduro. Ada juga laporan mengenai dukungan terhadap aksi sabotase dan percobaan infiltrasi, meski sering dibantah secara resmi.
Tindakan atau Opsi Militer
Secara terbuka AS sering menyatakan “all options are on the table”. Hanya saja invasi langsung berisiko seperti perang regional, resistensi besar serta biaya politik internasional. Karena itu, AS memilih strategi proxy plus tekanan bertingkat, bukan invasi.
Jawabannya masih ambigu bahkan cenderung kontraproduktif. Bahwa dampak positif (dari sudut pandang AS) terhadap Venezuela adalah melemahkan struktur ekonomi rezim Maduro, memberi legitimasi kepada oposisi, tekanan membawa Venezuela ke meja negosiasi (sesekali).
Sedangkan, dampak negatif (lebih dominan) adalah memperparah krisis kemanusiaan, Memberi alasan Maduro menjustifikasi represi (ancaman imperialisme), membuat oposisi terbelah dan bergantung pada aktor asing, mupun menyulitkan rekonsiliasi internal. Dalam banyak kasus sejarah Amerika Latin, tekanan seperti ini menguatkan otoritarianisme, bukan sebaliknya.
Peran Rusia – China: “Permainan Catur Besar”
Intervensi AS memicu counter-balancing, bhw untuk Rusia Menyediakan pinjaman senjata dan pelatihan, investasi energi mupun Kehadiran simbolik militer. Sedangkan keterkaitan dengan China seperti pinjaman besar berbasis minyak, Infrastruktur & teknologi, Hubungan ekonomi pragmatis. Hasilnya bahwa Venezuela tidak runtuh, justru bergeser dari orbit AS.
Intervensi ekonomi dan politik yang bertujuan mengganti rezim: Bertentangan dengan prinsip non-intervensi PBB, Tetapi AS berlindung pada narasi “perlindungan demokrasi dan HAM”. Di sisi lain, pelanggaran HAM dan manipulasi politik dalam negeri oleh pemerintah Venezuela juga bermasalah. Jadi terjadi, Benturan antara kedaulatan bertentangan intervensi normatif.
Jawaban paling jujur, yang dirugikan adalah rakyat Venezuela. Konflik ini akan memicu hiperinflasi, eksodus lebih dari 7 juta warganya, runtuhnya layanan kesehatan, pendidikan, air, listrik mupun Frakmentasi sosial. Ini terjadi baik kebijakan domestik pemerintah Venezuela maupun intervensi AS sama-sama berkontribusi.
Skenario Arah Ke Depan
Setidaknya ada tiga terkait konflik Venezuela. Pertama atau skenario pertama, terjdinya Negosiasi Bertahap (paling realistis). Ini berpeluang terjadi Pelonggaran sanksi bertahap, Reformasi terbatas, Pemilu yang “cukup kompetitif” mupun Madurismo bertahan, tapi lebih pragmatis.
Apabila terjadi skenario kedua atau kebuntuan kronis, maka yang terjadi tetap sanksi tetap keras, ekonomi stagnan, eksodus berlanjut maupun konflik politik dingin berkepanjangan
Peluang skenrio ketiga, yakni transisi mendadak (risiko tinggi). Ini bisa saja terjadi pergantian rezim mendadak, potensi kekosongan kekuasaan, perebutan pengaruh asing maupun ketidakstabilan jangka pendek
Pada intinya, bahwa Intervensi AS ke Venezuela bukan sekadar urusan “demokrasi”, ini tentang kontrol geopolitik dan energi. Selain itu, sanksi dan tekanan memperlemah pemerintah, tetapi memperparah penderitaan rakyat. Selain itu, juga alih-alih menjatuhkan Maduro, intervensi justru mendorong Venezuela mendekat ke Rusia & China.
Sebagai jalan keluar realistis adalah melakukan negosiasi, reformasi bertahap, dan kebijakan ekonomi yang lebih rasional bukan tekanan sepihak. Kedepankan perundingan sebagai jalan damai, tidak berujung pada kekuatan senjata. /dirangkum dari berbagai sumber/
Jakarta, Januari 2026
Tim Redaksi


