JAKARTA, Bisnistoday – Lebih dari belasan orang tewas akibat tanah longsor yang dipicu hujan lebat saat Topan Bavi menerjang Filipina, akhir pekan kemarin.
Di wilayah Malapatan, Provinsi Sarangani, Pulau Mindanao, sedikitnya 10 orang kehilangan nyawa setelah longsor menimbun permukiman pada Jumat (10/7/2026) dini hari. Di Provinsi Lanao del Sur, longsor juga merenggut sedikitnya lima korban jiwa.
Topan yang di Filipina dikenal dengan nama Inday sebenarnya tidak diperkirakan mendarat langsung di negara tersebut. Namun, ekor badai sudah cukup untuk membawa hujan deras yang memicu banjir dan longsor di berbagai wilayah. Badan Meteorologi Filipina (PAGASA) bahkan mengeluarkan peringatan dini bagi sejumlah daerah, termasuk ibu kota Manila.
Sebelumnya, kantor berita AFP melaporkan Topan Bavi menghantam Guam dan Kepulauan Mariana Utara di Samudra Pasifik, merusak berbagai infrastruktur. Kini badai itu bergerak menuju Taiwan, Jepang, dan Tiongkok, memaksa ratusan warga mengungsi dan pemerintah setempat menutup sekolah serta perkantoran sebagai langkah antisipasi.
Kian sering
Peristiwa seperti ini semakin sering terjadi di Asia Tenggara. Badai tropis, hujan ekstrem, banjir, dan longsor bukan lagi sekadar bencana musiman, melainkan pengingat bahwa perubahan iklim telah mengubah pola cuaca di kawasan ini.
Laut yang semakin hangat memberi lebih banyak energi bagi pembentukan badai, sementara atmosfer yang lebih hangat mampu menyimpan lebih banyak uap air sehingga hujan turun dengan intensitas yang jauh lebih tinggi.
Meskipun di Indonesia topan relatif jarang menerjang secara langsung, bukan berarti kita aman. Justru dampak tidak langsung dari sistem badai di sekitar wilayah Indonesia sering kali memicu cuaca ekstrem, hujan berkepanjangan, angin kencang, banjir, hingga tanah longsor.
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia semakin akrab dengan berita banjir bandang, gagal panen akibat musim yang tidak menentu, kebakaran hutan saat kemarau panjang, hingga gelombang panas yang mulai terasa di sejumlah daerah. Semua ini menunjukkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang kita hadapi.//









































