JAKARTA, Bisnistoday – Bencana alam terus datang silih berganti secara nasional baik banjir, gempa bumi maupun erupsi gunung berapi. Masyarakat tidak sadar bahwa dirinya tinggal di daerah rawan bencana dan harus mendapatkan perhatian.
“Indonesia merupakan daerah pertemuan tiga lempeng tektonik dunia dan punya potensi bencana yang besar, dibanding dengan negara lain. Lalu bagaimana mitigasinya,” ungkap Ketum Partai Gelora Indonesia, Anis Matta, saat Gelora Talks bertema: Indonesia dan Ancaman Bencana Alam. Bagaimana kita memitigasinya? di Jakarta, Rabu (7/12).
Anis Matta mengatakan, masyarakt hidup dalam situasi ancaman kebencanaan. Setelah pandemic disusul rangkaian bencana, banjir dan gempa bumi Cianjur. Pemerintah sebenarnya telah memberikan perhatian seperti pembentukan PNBP, pasca Tsunami Aceh, serta penguatan anggaran kebencanaan.
Disisi lain, Indonesia juga dihadapkan peristiwa lain seperti ancaman krisis ekonomi, terjadi perang Rusia maupun era memasuki tahun politik yang sangat krusial. “Sehingga mesti mengukur kemampuan, suatu ketika terjadi peristiwa bersamaan,” ujarnya.
Iman Fatchurohman Kapala Bidang Informasi dan Komunikasi BMKG menerangkan, bahwa upaya mitigasi terhadap bencana telah dilakukan. Terkait bencana, BMKG juga telah membahas serta menyodorkan peta rawan bencana dengan mengajak keterlibatan pemerintah daerah untuk memitigasinya. “Wilayah Indoneisa ada 13 zona megatrust serta 295 sesar aktif yang harus diwaspadai,” ujarnya.
Menurutnya, gempa darat di Indonesia mayoritas mendatangkan kerusakan parah dan banyak menelan korban. Hal ini terjadi karena bangunan rumah tidak tahan gempa, dan apabila terjadi gempa di bantuan lunak makin merusak dengan gempa tertentu.”Korban meningggal pada umumnya disebabkan karena bangunan rumahnya sendiri,” tuturnya.
“BMKG telah berkontibusikan untuk tata ruang, serta koordinasi dengan BNPB serta Kementerian PUPR. Sejak 2017, data rawan gempa sudah disediakan dan termasuk dengan menggandeng BRIN,” terangnya.
Rumah Tahan Gempa
Sementara, Abdul Muhari Kepala Pusat Data Informasi dan Kounikasi Kebencanaan BNPB, peristiwa gempa di Jepang saat tahun 2011 lalu, mencapai 9,1 magnitude namun bangunan sedikit yang rusak akibat gempa. “Kerusahaan bangunan akibat gempa minim, namun kerusakan terjadi karena diterjang tsunami.”
Sedangkan gempa yang terjadi di Indonesia dengan skala 5-6 magnitude sudah terjadi kerusakan berat untuk rumah penduduk. “Gempa Cianjur magnitude 5,6 tetapi kerusakan luar biasa. Kini tercatat 334 jiwa meninggal, 37 ribu rumah rusak belum termasuk sekolah,” terangnya.
Abdul Muhari menuturkan, mayoritas yang meninggal adalah anak-anak atau sekitar 44%. Berbeda dengan kondisi Jepang, yang meninggal mayoritas usia produktif sekitar usia 20-50 tahun.
“Untuk itu, perhatian adalah perbaiki rumah agar kuat terhadap gempa. Dengan 270 juta jiwa, dengan perkiraan 60 juta KK, maka dengan perkiraan warga miskin sekitar 5 juta KK atau rumah yang menjadi sasaran. Ini yang menjadi fokus kedepan,” tuturnya.
Pemerintah Harus Tegas
Surono,Pakar Vulkanologidan Bencana Gunung Berapi mengatakan, pemerintah harus tegas dalam upaya mitigasi bencana. Pemerintah daerah khususnya, harus mengutamakan perlindungan warganya ketimbang kesejahteraan.
“Harus ditegapkan mana yang layak huni dan tidak untuk mitigasi bencana dan harus ada law enforcement yang kuat. Peta sudah ada dan berharap pemda mengikutinya,” cetusnya.
Menurut Surono, peristiwa gempa tidak membunuh, tetapi infrastrukturnya yang membuat masyarakat korban. Masyarakat yang berada di daerah rawan bencana harus kembali kea lam (back to nature). “Sekarang ini, law enforcement tak ada, jadi pemerintah harus tegas saja,” tegasnya.
Terjadinya korban, menurut Surono karena ulah manusia sendiri. Sejak tahun 1855, gunung Semeru sudah mengeluarkan awan panas, tetapi aman saja karena tidak penuhi penduduk. Seiring perkembangan zaman, lahan gunung merupakan area subur sehingga masyarakat memadatinya.
“Jadi kalau lahar turun, akan melewati jalannya.Dan lahar itu tidak mengejar orang, hanya melintas saja, karena jalannya. Ini bencana terus berulang, dan begitupun tangisan dan menghitung korban jiwa. Kita ini kalau ke gunung posisikan sebagai tamu, jadi harus tahu diri,” terangnya./



