www.bisnistoday.co.id
Jumat , 6 November 2026
Home EKONOMI Blokade yang Dilakukan AS akan Memperparah Krisis Energi
EKONOMIGLOBAL

Blokade yang Dilakukan AS akan Memperparah Krisis Energi

Direktur IEA Fatih Birol menyebut gangguan terhadap pasar energi global sebagai dampak perang tersebut merupakan tantangan keamanan energi terbesar dalam sejarah.

Selat Hormuz (Ilustrasi/dok:unsplash/scott-tobin)
Selat Hormuz (Ilustrasi/dok:unsplash/scott-tobin)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Amerika Serikat mulai memblokade jalur lalu lintas kapal dari dan menuju Pelabuhan Iran.  Tindakan ini telah mengubah konflik yang telah berlangsung selama enam minggu antara koalisi AS-Israel dan Iran, menjadi ujian ketahanan ekonomi.

Komando Pusat AS (Centcom) tidak membuat pengumuman resmi, tetapi mereka mengatakan bahwa blokade berlaku pada pukul 17.30 waktu Iran (15.00 waktu Inggris) pada Senin (13/4/2026).

Blokade ini, menurut mereka, akan berlaku untuk kapal-kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan atau daerah pesisir Iran, sementara kapal-kapal yang menggunakan pelabuhan non-Iran tidak akan dihalangi.

Donald Trump mengklaim bahwa 34 kapal telah melewati Selat Hormuz, pintu gerbang menuju Teluk, pada hari Senin, tetapi tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut.

Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump juga mengklaim: “Kami telah dihubungi oleh pihak lain,” yang menurutnya “sangat ingin membuat kesepakatan”.

Menurut Al Jazeera, berdasarkan data lalu lintas maritim setidaknya dua kapal tanker berbalik arah di dekat Selat Hormuz tak lama setelah blokade AS berlaku.

Satu kapal, kapal tanker Rich Starry sepanjang 188 meter, telah meninggalkan Pelabuhan Sharjah di pantai UEA . Kapal kedua, kapal tanker Ostria sepanjang 175 meter, juga berbalik arah setelah mendekati selat.

Dampak Ekonomi

Blokade AS ini menimbulkan kekhawatiran memicu krisis energi berkepanjangan. Para direktur Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia (WB), dan Badan Energi Internasional (IEA)  memperingatkan bahwa dampak perang AS-Israel di Iran dapat menyebabkan tingginya harga komoditas vital seperti energi dan pupuk.

Direktur IEA Fatih Birol menyebut gangguan terhadap pasar energi global sebagai dampak perang tersebut merupakan tantangan keamanan energi terbesar dalam sejarah. Ia mengungkapkan bahwa sekitar sepertiga dari fasilitas energi di kawasan yang mereka amati telah rusak.

Birol menambahkan bahwa kondisi ekonomi global dapat memburuk pada bulan ini (April), karena pasokan minyak dari kapal-kapal yang sudah dalam perjalanan ketika perang terjadi, mulai berkurang.//

 

 

Arsip

Beritasatu Network




BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Pemilu Sela di AS (dok: The GuardianSteven Garcia/NurPhoto/Shutterstock)
EKONOMIGLOBAL

Demokrat Menangi Pemilu Sela di AS, Apa Dampaknya bagi Asia?

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Partai Demokrat berhasil menang telak dalam pemili paruh waktu...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Suku Bunga Mekaar 8 Persen Resmi Berlaku

JAKARTA, Bisnistoday.co.id - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama PT...

Geoffrey Hinton (dok: University of Toronto)
GLOBALOtomotif & Tekno

Peraih Nobel Geoffrey Hinton Sebut Dunia akan Lebih Baik Tanpa AI

JAKARTA, Bisnistoday.co.id – Serangan siber yang melumpuhkan sejumlah supermarket di Prancis, baru-baru...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Pembahasan RUU Perkoperasian Capai 80 Persen, Ditargetkan Rampung Tahun Ini

JAKARTA, Bisnistoday – Sekretaris Kementerian Koperasi (Kemenkop) Ahmad Zabadi menyampaikan pembahasan Rancangan...