www.bisnistoday.co.id
Minggu , 20 September 2026
Home EKONOMI Blokade yang Dilakukan AS akan Memperparah Krisis Energi
EKONOMIGLOBAL

Blokade yang Dilakukan AS akan Memperparah Krisis Energi

Direktur IEA Fatih Birol menyebut gangguan terhadap pasar energi global sebagai dampak perang tersebut merupakan tantangan keamanan energi terbesar dalam sejarah.

Selat Hormuz (Ilustrasi/dok:unsplash/scott-tobin)
Selat Hormuz (Ilustrasi/dok:unsplash/scott-tobin)
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Amerika Serikat mulai memblokade jalur lalu lintas kapal dari dan menuju Pelabuhan Iran.  Tindakan ini telah mengubah konflik yang telah berlangsung selama enam minggu antara koalisi AS-Israel dan Iran, menjadi ujian ketahanan ekonomi.

Komando Pusat AS (Centcom) tidak membuat pengumuman resmi, tetapi mereka mengatakan bahwa blokade berlaku pada pukul 17.30 waktu Iran (15.00 waktu Inggris) pada Senin (13/4/2026).

Blokade ini, menurut mereka, akan berlaku untuk kapal-kapal yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan atau daerah pesisir Iran, sementara kapal-kapal yang menggunakan pelabuhan non-Iran tidak akan dihalangi.

Donald Trump mengklaim bahwa 34 kapal telah melewati Selat Hormuz, pintu gerbang menuju Teluk, pada hari Senin, tetapi tidak ada bukti yang mendukung klaim tersebut.

Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump juga mengklaim: “Kami telah dihubungi oleh pihak lain,” yang menurutnya “sangat ingin membuat kesepakatan”.

Menurut Al Jazeera, berdasarkan data lalu lintas maritim setidaknya dua kapal tanker berbalik arah di dekat Selat Hormuz tak lama setelah blokade AS berlaku.

Satu kapal, kapal tanker Rich Starry sepanjang 188 meter, telah meninggalkan Pelabuhan Sharjah di pantai UEA . Kapal kedua, kapal tanker Ostria sepanjang 175 meter, juga berbalik arah setelah mendekati selat.

Dampak Ekonomi

Blokade AS ini menimbulkan kekhawatiran memicu krisis energi berkepanjangan. Para direktur Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia (WB), dan Badan Energi Internasional (IEA)  memperingatkan bahwa dampak perang AS-Israel di Iran dapat menyebabkan tingginya harga komoditas vital seperti energi dan pupuk.

Direktur IEA Fatih Birol menyebut gangguan terhadap pasar energi global sebagai dampak perang tersebut merupakan tantangan keamanan energi terbesar dalam sejarah. Ia mengungkapkan bahwa sekitar sepertiga dari fasilitas energi di kawasan yang mereka amati telah rusak.

Birol menambahkan bahwa kondisi ekonomi global dapat memburuk pada bulan ini (April), karena pasokan minyak dari kapal-kapal yang sudah dalam perjalanan ketika perang terjadi, mulai berkurang.//

 

 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

EKONOMIEkonomi & Bisnis

LPDB Koperasi Hadirkan Coaching Clinic Pembiayaan di Borobudur Expo 2026 

MAGELANG, Bisnistoday - Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi menghadirkan layanan Coaching...

EKONOMIKomunitasLIFESTYLE

15.000 Peserta Ramaikan Pocari Run 2026 Bandung, Pemkot Siapkan Rekayasa Lalu Lintas 19-20 September

BANDUNG, Bisnistoday - Pocari Run 2026 akan digelar selama dua hari di...

EKONOMI

Libatkan Pengemudi Lama, Bandung Angkot Utama Jadi Pintu Masuk Ekonomi Digital Berbasis Blockchain

BANDUNG, Bisnistoday - Pemerintah Kota Bandung mengembangkan Bandung Angkot Utama sebagai bagian...

EKONOMIEnergi

Listrik Jampang Sukabumi Belum Merata, DPRD Jabar Dorong Akses hingga Pedalaman

BANDUNG, Bisnistoday – Infrastruktur kelistrikan di wilayah Jampang, Kabupaten Sukabumi, mulai menunjukkan...