TANGERANG SELATAN, Bisnistoday – Acara CSR Hemora Cegah Stunting dengan Penanganan Anemia yang diadakan oleh Mahasiswa Bina Sarana Informatika (BSI) cabang BSD pada Sabtu, (13/12/2025), berlangsung di Aula Kelurahan Pamulang Barat mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB. Acara ini menghadirkan narasumber Ahli Gizi UPTD Puskesmas Kelurahan Pamulang Barat, Yustika Fahreina Laila Mazidah, S.Gz., dan dr. Fitria Oriza, M.K.M., selaku dokter di Puskesmas Kelurahan Pamulang Barat. Peserta memperoleh edukasi penanganan anemia dan stunting, serta goodie bag berisi tablet tambah darah, jus jeruk, dan sembako.
Yustika membuka sesi dengan memaparkan kondisi gizi ibu hamil dan calon pengantin di Indonesia. Ia menyebutkan bahwa sekitar 28 persen ibu hamil dan 20 persen calon pengantin mengalami anemia. “Anemia tidak hanya membahayakan ibu, tetapi juga janin, berisiko menyebabkan berat badan lahir rendah, pertumbuhan anak terhambat, hingga stunting,” ujarnya.
Menurut Yustika, penyebab utama anemia adalah defisiensi zat besi. Namun, kekurangan vitamin dan mineral lain seperti asam folat, vitamin B12, vitamin A, dan vitamin D juga turut berkontribusi. Data survei Puskesmas menunjukkan sekitar 83 persen ibu hamil kekurangan zat besi dan hampir 99 persen kekurangan asam folat.
Ia menekankan pentingnya pemenuhan gizi sejak masa remaja, calon pengantin, hingga masa kehamilan. Konsep gizi seimbang menjadi kunci untuk mencegah anemia dan stunting. “Gizi seimbang berarti mengonsumsi makanan dari berbagai kelompok zat gizi dalam jumlah yang sesuai, agar tubuh dan janin dapat berfungsi optimal,” jelas Yustika.
Yustika juga menekankan empat pilar utama gizi seimbang, yaitu, keanekaragaman pangan, aktivitas fisik ringan, menjaga kebersihan diri, dan memantau berat badan sebelum dan selama kehamilan. Menurutnya, kombinasi zat gizi dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati, vitamin, dan mineral sangat penting bagi ibu hamil dan calon pengantin.
dr. Fitria Oriza, M.K.M., menambahkan penjelasan medis mengenai kondisi anemia pada ibu hamil. Ia menjelaskan fenomena hemodilusi, di mana volume darah meningkat sekitar dua liter selama kehamilan sehingga kadar hemoglobin (Hb) cenderung turun. “Hb ideal bagi ibu hamil minimal 12 gram per desiliter. Pada trimester ketiga, sebagian ibu biasanya berada di bawah angka ini, jadi suplementasi tetap dibutuhkan,” jelasnya.
dr. Fitria juga memaparkan data lokal di Pamulang Barat. Sepanjang 2025, tercatat 46 balita mengalami stunting, sementara 10 persen ibu hamil mengalami anemia. Ia menegaskan bahwa meski angka ini tergolong rendah secara nasional, upaya pencegahan tetap harus dijalankan secara konsisten.
Pencegahan anemia, menurut dr. Fitria, tidak cukup hanya dari makanan. Oleh karena itu, ibu hamil dianjurkan mengonsumsi tablet tambah darah atau MMS (Multiple Micronutrient Supplement) yang mengandung zat besi, asam folat, dan vitamin penting lainnya. “Makanan bergizi sangat penting, tapi untuk menaikkan Hb, suplementasi tetap diperlukan,” ujarnya.
Dalam sesi edukasi, Yustika memberikan tips praktis bagi ibu hamil yang mengalami mual dan sulit makan di trimester pertama. Ia menyarankan konsumsi ikan, telur, kacang-kacangan, dan sayuran hijau sebagai sumber protein, asam folat, dan omega-3.
Selain itu, dr. Fitria menekankan bahwa pemeriksaan rutin Hb melalui layanan ANC (Antenatal Care) di Puskesmas sangat krusial. “Minimal enam kali pemeriksaan selama kehamilan, termasuk memantau berat badan, tekanan darah, dan kadar Hb,” jelasnya.
Yustika juga menyinggung stunting sebagai masalah kronis yang dapat berawal sejak masa remaja. “Remaja putri yang mengalami anemia berisiko melahirkan anak stunting di kemudian hari. Konsumsi tablet tambah darah sejak remaja menjadi langkah preventif penting,” tegas Yustika.
dr. Fitria menambahkan, gizi ibu hamil juga memengaruhi perkembangan otak janin. Anemia mengurangi nutrisi yang sampai ke janin sehingga risiko gangguan perkembangan dan kecerdasan meningkat. “Untuk anak cerdas dan sehat, dimulai dari ibu yang tidak anemia,” ujarnya.
Selain edukasi nutrisi, Yustika menekankan pentingnya sanitasi dan lingkungan bersih. Infeksi berulang akibat lingkungan kotor dapat menyebabkan gangguan gizi dan stunting pada anak. “Air bersih dan higienitas lingkungan sama pentingnya dengan makanan bergizi,” tambahnya.
Program ini juga menekankan gizi calon pengantin. Kebutuhan asam folat bagi calon pengantin sekitar 400 mikrogram per hari, meningkat menjadi 600 mikrogram saat hamil. Zat besi juga meningkat dari 18 mg menjadi 27 mg per hari pada masa kehamilan.
dr. Fitria menjelaskan fase trimester kehamilan secara rinci. Pada trimester pertama fokus pada pembentukan otak dan organ vital, trimester kedua pada pertumbuhan organ, dan trimester ketiga pada penambahan berat janin. Pola makan disesuaikan di setiap fase untuk mencegah komplikasi dan kelebihan berat lahir.
Yustika menambahkan, konsumsi vitamin A, B6, D, serta mineral seperti seng dan yodium juga penting untuk sistem saraf, metabolisme, dan pertumbuhan tulang. Ia menekankan kombinasi sumber hewani dan nabati agar penyerapan zat besi optimal.
Peserta terlihat antusias mengajukan pertanyaan terkait pola makan, suplementasi, dan perawatan kesehatan ibu hamil. Interaksi ini menjadi salah satu fokus penting agar edukasi benar-benar terserap dan dapat diterapkan di rumah.
CSR Hemora ditutup dengan pembagian goodie bag berisi tablet tambah darah, jus jeruk, dan sembako. Shyva Fauziah Rahman, Ketua Pelaksana, menyebutkan distribusi tablet menjadi tantangan, namun didukung kerja sama sponsor dan kampus sehingga program berjalan lancar.
Dengan acara ini, mahasiswa BSI BSD berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam pencegahan anemia dan stunting melalui edukasi gizi yang dipandu langsung oleh ahli gizi dan dokter, sekaligus mendorong kolaborasi berkelanjutan antara kampus, CSR, dan layanan kesehatan masyarakat. (Khaylila Safitri).


