JAKARTA, Bisnistoday – Kabar gembira bahwa Badan Pusat Statistik (BPS) baru-baru ini telah mengumumkan pertumbuhan ekonomi pada Kuartal II-2025 sebesar 5,12%. Hanya saja, para ekonom masih mempertanyakan pertumbuhan fantastis ini, karena berkaca pada tafsiran ekonom Indonesia, tidak sedahsyat itu. Wajar saja, para ekonom memperkirakan GDP Kuartal II-2025, bertumbuh sekitar 4,69% – 4,81%.
Bukan tidak berdasar, malah para ekonom ini memperkirakan pertumbuhan ekonomi semestinya melemah pada kuartal II-2025. Karena masa kejayaan konsumsi belanja masyarakat misalnya, pasca lebaran dan libur panjang sudah tidak ada moment lagi. Industripun, tercermin dalam PMI manufaktur cenderung melemah. Tidak banyak juga belanja dalam kuartal II-2025.
Begitupun, investasi lokal masih dipertanyakan, akankah sebesar itu pertumbuhan sebagai pembentuk GDP Kuartal II- 2025. Seperti diketahui, juga belanja pemerintah ketika periode ini malah mengerem pengeluaran yang ketat. Tetapi akankah ini, investasi lokal berasal dari dana hutang dan sebagainya, belum diketahui secara pasti.
Data pertumbuhan ekonomi yang diumumkan oleh BPS memang membuat geleng-geleng kepala para ekonom. Celakanya tidak hanya data ekonomi yang merasa sulit dipercaya dengan logikanya, para investor juga menganggap kurang percaya. “Intinya memang kejujuran BPS, jangan sampai ada intervensi kekuasaan, membuat rusak semua petunjuk arah ekonomi.”
Terkait data BPS ini, malah Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira ingin menelisik lebih jauh keberadaan serta metodologi BPS dalam pengambilan data. Tidak hanya itu, CELIOS bahkan melaporan kejanggalan data BPS ini ke Komisi Statistik PBB.
Menurutnya, ada logika ekonomi yang bertabrakan dengan data BPS tesebut, seperti kondisi riil ekonomi, khususnya soal pertumbuhan industri pengalohan. Investor apakah mempercayai data ekonomi ini valid menjadi acuan nasional?
Tidak hanya Bhima, seperti Ekonom INDEF, Andry Satrio Nugroho mengakui ada data yang terbalik dalam pertumbuhan GDP sebesar yang dilaunching sebesar 5,12%, sehingga data ini belum memcerminkan kondisi riil. Beberapa hal seperti masa penggerakan konsumsi sudah lewat, industri manufaktur juga belum memperlihatkan belanja yang fantastis.
Masih ada beberapa ekonom lainnya, juga mempertanyakan metodologi BPS dalam menjaring data sehingga menyimpulkan pertumbuhan ekonomi Kuartal II-2025 sudah valid. Karena, ini merupakan ranah akademik sehingga nilai kejujuran dan etik harus ditempatkan bagian teratas.
Kegundahan para ekonomi ini, sebenarnya juga sudah ditanggapi oleh Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, bahwa anggapan anomali dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi di kuartal-II 2025 sebesar 5,12% tidak berdasar. Bagi BPS, kesimpulannya sudah melalui kegiatan yang mengacu standar internasional. Bahkan Ia menegaskan, data pendukung dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi sudah sesuai.
Begitupun, Menkeu Sri Mulyani juga kekeuh akan tetap percaya dengan data BPS. Selama ini, Kemenkeu juga menggunakan data BPS. Tentunya, BPS menjelaskan mengenai datanya, metodologinya, sumber informasinya dan sebagainya.“Kita tetap mempercayai BPS,” ucapnya pada suatu kesempatan. (data dari berbagai sumber)
Jakarta, Agustus 2025
Tim Redaksi

