JAKARTA, Bisnistoday – Seiring melonjaknya penggunaan perangkat teknologi, tantangan pengelolaan sampah elektronik (e-waste) semakin mendesak. Laporan Global e-Waste Monitor 2022 mencatat 62 juta ton e-waste dihasilkan di seluruh dunia setiap tahunnya dan 77,7% diantaranya belum didaur ulang dengan benar.
Di Indonesia, tantangan ini sangat nyata: berdasarkan Global e-Waste Monitor 2024, Indonesia tercatat sebagai salah satu penghasil limbah elektronik terbesar di Asia Tenggara, dengan akumulasi timbunan mencapai 1,9 juta ton pada 2022.
Menyikapi urgensi tersebut, perusahaan infrastruktur e-waste sirkular EwasteRJ bersama Acer Indonesia resmi meluncurkan program “Sayang Bumi 2026” di SMAN 82 Jakarta. Kolaborasi berskala masif ini menantang 50 SMA di wilayah Jabodetabek untuk berkompetisi mengumpulkan sampah elektronik dengan target total 5 ton (5.000 kg) hingga November 2026.
Momentum ini sekaligus menjadi pembuktian atas konsistensi panjang Rafa Jafar, Founder & CEO EwasteRJ. Mempertahankan gerakan lingkungan dari nol memiliki tantangan tersendiri, namun Rafa berhasil membuktikannya dengan mengawal isu e-waste ini sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), melewati masa sekolah menengah, hingga kini ia menjadi mahasiswa. Perjalanan satu dekade ini sukses mengubah keresahan masa kecil seorang pelajar menjadi jaringan infrastruktur sirkular korporasi yang nyata.
“Sepuluh tahun lalu, saat masih SD, saya melihat sampah elektronik hanya ditumpuk di laci karena tidak ada wadah pembuangannya. Menjaga komitmen ini sedari saya kecil sampai saya lulus kuliah sekarang adalah tantangan besar, tapi hari ini keresahan itu bertransformasi menjadi sistem nyata di 50 sekolah,” ujar Rafa di Jakarta, beberapa waktu lalu.
“Sayang Bumi 2026 berjalan 55 hari sebelum Pemprov DKI Jakarta memperketat aturan pemilahan sampah dan menghentikan praktik open dumping per 1 Agustus nanti. Ketika kota baru bersiap fokus pada sampah organik dapur, sekolah-sekolah ini sudah ‘curi start’ mengamankan limbah B3 elektronik yang jauh lebih berbahaya bagi air tanah Jakarta. #SayangBumi bukan lagi program, ini masa depan yang kita jemput hari ini,” tambahnya
Program e-waste sekolah ini disediakan sepenuhnya gratis bagi seluruh sekolah yang berpartisipasi. Kontribusi Acer Indonesia memastikan sekolah mendapatkan paket fasilitas hulu-ke-hilir yang lengkap, meliputi workshop edukasi ekonomi sirkular, pembentukan agen “SayangBumi Changemaker”, instalasi fisik permanent dropbox, pengangkutan logistik yang aman dan terlacak, hingga penerbitan sertifikasi daur ulang resmi bagi sekolah.
Leny Ng, President Director Acer Indonesia, menyatakan, selama enam tahun, #SayangBumi telah membuktikan bahwa perubahan nyata dimulai dari langkah kolektif yang konsisten.
“Tahun ini kami memilih hadir di sekolah karena kami percaya bahwa generasi yang tumbuh dengan kesadaran lingkungan adalah generasi yang akan menentukan seperti apa bumi ini dua puluh hingga tiga puluh tahun ke depan. Ini adalah undangan untuk anak-anak muda Indonesia dalam memimpin perubahan,” tuturnya.
Guna menjaga akuntabilitas, seluruh sampah elektronik yang dikumpulkan oleh para siswa dari dropbox permanen akan ditimbang, dicatat, dan dialirkan langsung ke fasilitas daur ulang berizin resmi yang bermitra dengan EwasteRJ untuk diekstrak kembali menjadi bahan baku sirkular secara aman./E2

