JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (07/05) ditutup melemah 12,28 poin ke posisi 7.123,60. Sementara indeks LQ45 turun 8,27 poin ke posisi 898,01.
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya menyebutkan; hari ini bursa Asia mixed (variatif) karena adanya sentimen positif maupun negatif.
Pertama, pada hari ini Bank Sentral Australia mempertahankan suku bunganya pada level 4,35 persen, seperti yang diharapkan, namun dolar Australia tergelincir dan pasar saham Australia menguat karena para pengambil kebijakan memang lebih mengharapkan adanya pemangkasan tingkat suku bunga.
Pernyataan dovish tersebut didukung oleh data pekerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan pada pekan lalu dan pernyataan dari Ketua The Fed Jerome Powell yang menegaskan kembali bahwa pergerakan suku bunga selanjutnya akan lebih rendah.
Dari Eropa, para pengambil kebijakan juga sedang mempersiapkan pemotongan suku bunga yang mungkin terjadi pada Juni 2024.
Dari Asia, suku bunga di Jepang diperkirakan tidak akan bergerak terlalu jauh di atas nol pada tahun ini, sehingga meninggalkan kesenjangan yang besar dengan negara-negara lain di dunia, dimana para pelaku pasar memperkirakan Jepang menghabiskan hampir 60 miliar dolar AS untuk mempertahankan Yen pada pekan lalu.
Dibuka menguat, IHSG bergerak ke teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, empat sektor meningkat dipimpin sektor barang baku yang naik 0,89 persen, diikuti sektor kesehatan dan sektor infrastruktur yang masing-masing naik sebesar 0,64 persen dan 0,36 persen.
Sedangkan tujuh sektor terkoreksi, yaitu sektor transportasi dan logistik turun paling dalam minus 0,90 persen, diikuti sektor keuangan dan sektor teknologi yang masing-masing minus 0,78 persen dan 0,66 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar, yaitu LABA, DATA, PICO, NASI, dan SURI. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar, yakni MHKI, TGUK, ATLA, NIKL dan MANG.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.076.554 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 19,34 miliar lembar saham senilai Rp10,34 triliun. Sebanyak 254 saham naik, 290 saham menurun, dan 230 tidak bergerak nilainya.
Baca juga: Pasar Tunggu Hasil Sengketa Pilpres, IHSG Melemah
Bursa saham regional Asia sore ini, antara lain indeks Hang Seng melemah 98,93 poin atau 0,53 persen ke 18.479,36, indeks Shanghai menguat 7,02 poin atau 0,22 persen ke 3.147,73, dan indeks Strait Times melemah 3,14 poin atau 0,10 persen ke 3.300,04. Sementara itu, indeks Nikkei (Jepang) libur memperingati hari libur nasional negara tersebut.
Rupiah Melemah
Sementara itu, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, melemah 20 poin atau 0,13 persen menjadi Rp16.046 per dolar Amerika Serikat (AS) dari penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp16.026 per dolar AS.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Senin (6/5) turun ke level Rp16.054 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.025 per dolar AS.
“Fokus minggu ini adalah pada komentar dari beberapa pejabat Fed (Federal Reserve) mengenai jalur suku bunga, terutama setelah data nonfarm payrolls (NFP) yang lebih lemah dari perkiraan membuat para pedagang sekali lagi mulai memperkirakan penurunan suku bunga oleh bank sentral,” kata Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi dalam keterangan tertulisnya.
Presiden Fed Richmond Thomas Barkin dan Presiden Fed New York John Williams memberikan pernyataan bahwa tingkat suku bunga saat ini sudah sesuai, yang berarti bisa membawa inflasi ke target 2 persen, sehingga tidak butuh dinaikkan kembali.
Alasan mereka memberikan pernyataan tersebut didasari data PMI (Purchasing Managers’ Index) Manufaktur ISM AS pada April 2024 yang hanya mencapai angka aktual 49,2, lebih rendah dari perkiraan sebesar 50,0 atau dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 50,3. Begitu pula dengan data NFP bulan April 2024 yang hanya mencapai angka aktual 175 ribu, lebih rendah dari dugaan sebesar 238 ribu atau dibandingkan bulan sebelumnya sebanyak 315 ribu.
Selain pernyataan dovish yang disampaikan pejabat The Fed, tidak ada data ekonomi penting dari dalam maupun luar negeri yang memberikan pengaruh signifikan terhadap nilai tukar rupiah.
Menurut Analis Bank Woori Saudara Rully Nova, optimisme pasar terhadap proyeksi penurunan suku bunga oleh The Fed pada September 2024 berpotensi menguatkan kurs rupiah.
“Optimisme pasar akan berlangsung lama mengingat pasar tenaga kerja AS sudah tidak seketat dibanding tahun lalu karena ekonomi AS mulai soft landing tahun ini akibat kebijakan suku bunga tinggi oleh The Fed,” ungkap dia./







































