JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (28/02) ditutup menguat 43,32 poin ke posisi 7.328,64. Sementara indeks LQ45 naik 4,56 poin ke posisi 997,24.
Pada perdagangan hari ini, IHSG dibuka langsung menguat, dan terus bertahan di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor meningkat di mana sektor barang konsumen primer paling tinggi yaitu 0,91 persen, diikuti sektor infrastruktur dan properti yang naik sebesar 0,63 persen dan 0,23 persen.
Sedangkan lima sektor terkoreksi dimana sektor teknologi turun paling dalam minus 1,48 persen, diikuti sektor kesehatan dan sektor barang konsumen non primer yang masing-masing minus 0,67 persen dan 0,06 persen.
Saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu FIRE, MPOW, AHAP, MMIX dan BESS. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni VISI, SMLE, ACRO, OASA, dan BIPI.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.291.456 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 25,07 miliar lembar saham senilai Rp10,75 triliun. Sebanyak 260 saham naik, 267 saham menurun, dan 246 tidak bergerak nilainya.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana alias Didit mengatakan pelaku pasar cenderung bersikap wait and see mencermati rilis data- data perekonomian domestik maupun mancanegara pada pekan ini.
Menurutnya, penguatan IHSG hari ini, dikarenakan technical rebound setelah sebelumnya mengalami koreksi selama empat hari berturut- turut.
Pada malam ini waktu Indonesia, ia menjelaskan akan terdapat rilis data Gross Domestic Product (GDP) Amerika Serikat (AS), serta terdapat pidato dari beberapa anggota Federal Reserve (The Fed) terkait arah kebijakan Fed Fund Rate (FFR) ke depan.
Selanjutnya, pada Kamis (29/2) waktu AS, akan terdapat rilis Indeks Harga Belanja Personal (PCE) AS atau PCE Price Index, yang diperkirakan akan meningkat ke level 0,4 persen dibandingkan sebelumnya di level 0,2 persen.
“Investor masih mencermati rilis data AS, dimana pada nanti malam akan ada rilis data GDP dan ada pidato dari beberapa anggota The Fed untuk melihat arah kebijakan The Fed ke depannya,” ujar Didit.
Baca juga: Pemberian Insentif Fiskal Kepada Sektor Pariwisata Disambut Positif, IHSG Menguat
Sementara itu, dari dalam negeri, akan terdapat rilis inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Indonesia periode Februari 2024 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Jumat (01/03), yang berpotensi meningkat di tengah lonjakan harga bahan pokok dan pangan.
“Jumat (01/03) akan ada rilis inflasi Indonesia, dimana secara konsensus meningkat jadi 2,6 persen, dibandingkan 2,57 persen,” ujar Didit.
Rupiah Melemah
Sementara itu, kurs rupiah terhadap dolar AS ditutup 46 poin menjadi Rp15.692 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp15.646 per dolar AS.
“Kinerja mata uang rupiah masih ditekan oleh kinerja mata uang dolar AS yang menguat akibat pasar yang sedang menunggu rilis data PDB AS untuk kuartal keempat dan juga Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE),” kata analis ICDX Taufan Dimas Hareva seperti dikutif Antara.
Namun, rilis Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE) akan menjadi fokus utama para pelaku pasar saat ini, karena Indeks PCE merupakan ukuran inflasi pilihan bank sentral AS atau The Fed.
Data yang lebih kuat dari perkiraan mungkin mendukung upaya untuk mempertahankan suku bunga tetap tinggi lebih lama, dan hal ini akan memperkuat kinerja dolar dan menjadi tekanan bagi mata uang rupiah.
Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu melemah ke level Rp15.673 per dolar AS dari sebelumnya Rp15.655 per dolar AS./







































