JAKARTA, Bisnistoday- Di tengah aksi beli investor asing, Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan awal pekan, Senin (6/9) ditutup stagnan. Sementara, indeks LQ45 naik 0,63 poin atau ke posisi 874,55.
Tim Riset Indo Premier Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Senin (6/9) menyebutkan, katalis positif perdagangan hari ini yaitu data non-farm payroll yang lebih rendah dari ekspektasi sehingga berpeluang mengurangi keagresifan rencana tapering. Katalis positif lainnya yaitu naiknya mayoritas harga komoditas.
Sementara itu katalis negatif bagi IHSG hari ini berupa terkoreksinya saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjelang penambahan modal melalui rights issue atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), serta melemahnya indeks di Bursa Wall Street.
Dibuka menguat, tak lama IHSG melemah dan terus melemah hingga penutupan sesi pertama perdagangan. Pada sesi kedua IHSG masih terus berada di teritori negatif hingga akhirnya naik jelang penutupan bursa saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor meningkat dengan sektor properti naik paling tinggi yaitu 1,75 persen, diikuti sektor perindustrian dan sektor kesehatan masing-masing 1,39 persen dan 1 persen.
Sedangkan lima sektor terkoreksi dengan sektor teknologi turun paling dalam yaitu 1,25 persen, diikuti sektor transportasi dan sektor keuangan masing-masing turun 0,72 persen dan 0,57 persen.
Menjelang penutupan perdagangan diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp361,98 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.421.755 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 20,64 miliar lembar saham senilai Rp10,19 triliun. Sebanyak 252 saham naik, 239 saham menurun, dan 158 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei menguat 531,78 poin atau 1,83 persen ke 29.659,89, Indeks Hang Seng naik 261,64 poin atau 1,01 persen ke 26.163,63, dan Indeks Straits Times meningkat 15,87 poin atau 0,51 persen ke 3.099,72.
Rupiah Menguat
Sementara itu, kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup menguat, seiring meredanya sentimen tapering atau pengurangan stimulus oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (Fed), pasca-rilis data tenaga kerja pada akhir pekan lalu.
Rupiah ditutup menguat 40 poin atau 0,28 persen ke posisi Rp14.223 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.263 per dolar AS.
“Rupiah masih menguat untuk sementara oleh sedikit meredanya kekhawatiran tapering yang ditunjukkan oleh pasar yang menguat oleh risk appetite,” kata Analis Valbury Asia Futures, Lukman Leong seperti dilansir Antara. Data ketenagakerjaan non-pertanian atau non-farm payroll AS yang dirilis tercatat jauh di bawah ekspektasi. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan hanya ada 235.000 pekerjaan pada Agustus, setelah lonjakan sebanyak 1,05 juta pekerjaan pada Juli.
Hal tersebut dinilai memberikan keraguan ke pelaku pasar terkait waktu pelaksanaan kebijakan pengetatan moneter AS ke depan, baik tapering ataupun kenaikan suku bunga.
Pada pekan ini, Lukman pun memprediksi nilai tukar rupiah masih akan relatif bergerak stabil. “Rupiah akan stabil dengan kecenderungan menguat tipis,” ujar Lukman./









































