JAKARTA, Bisnistoday – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (28/2), akhir pekan kemarin anjlok 3,3% ditutup pada level 6.270,6, terendah sejak pertengahan Maret 2021. Angka ini, merupakan pelemahan terdalam sejak awal bulan Agustus 2024.
Hal ini diungkapkan oleh Rully Arya Wisnubroto, Tim Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia di Jakarta, Senin (3/3). Menurutnya, aksi jual investor asing mengalami akselerasi selama pekan lalu, di hari Jumat mencapai Rp2,1triliun.
Ia mengutarakan, selama sepekan IHSG terjerembab 7,8% dan pasar saham Indonesia menjadi yang terburuk tahun 2025, melemah 11.3% YTD (Year to Date). Sedangkan, Indeks bursa saham Malaysia dan Filipina tahun ini melemah, masing-masing 4,1% YTD dan 8,1% YTD. Arus modal asing keluar juga dialami oleh Malaysia dan Filipina di bulan Februari, masing-masing mencapai USD351juta dan USD145juta.
“Secara akumulasi pekan lalu arus modal asing keluar Rp10,2triliun (USD624juta). Setengah dari outflow tersebut dilakukan terhadap saham saham perbankan. Pekan lalu asing menjual saham BBRI Rp2,1triliun, disusul oleh BBCA Rp1,8triliun, dan BMRI Rp 1,1triliun.”Jadi total outflow di February mencapai Rp 21,9triliun (USD1,3miliar).” Disisi lain, lajut Rully Arya, obligasi pemerintah Indonesia (SBN), masih tercatat inflow Rp8,1triliun (USD503,1juta).
Tim Riset Mirae Asset Sekuritas memperkirakan, pada perdagangan Senin (3/3), IHSG masih bergerak konsolidasi, dengan rentang perdagangan di level 6,224 hingga 6,354. Support di level 6,200./




