JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah diminta untuk mengambil langkah antisipatif dan kebijakan yang adaptif menghadapi tantangan pelemahan ekonomi global. Tahun 2024, perekonomian diperkirakan masih menghadapi tantangan berat, baik eksternal maupun dalam negeri.
“Indonesia perlu mendefinisikan kembali industri yang dibutuhkan oleh global mengingat penurunan permintaan global,” ungkap Aviliani, Ekonom Senior INDEF dalam diskusi “Agustusan Ekonom Perempuan INDEF: Industrialisasi, Stabilisasi, dan Ekonomi Keuangan Indonesia” baru-baru ini.
Menurut Aviliani, terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi perkembangan sektor perbankan, yaitu kebijakan moneter AS dengan tingginya inflasi dan tingkat suku bunga, ekonomi China yang mulai membaik mampu tumbuh 6,3%, dan harga komoditas yang menurun.
“Sementara itu, ekonomi dan perdagangan global tahun 2023 diprediksi melambat karena permintaan dunia yang belum pulih.”
Sedangkan, dari sektor keuangan domestik, pertumbuhan jasa keuangan dan asuransi masih belum pulih dari pandemi covid-19, diproyeksikan baru pulih pada 2025.Dana desa juga perlu dievaluasi agar lebih menyasar pada pengentasan kemiskinan dibanding dengan pengembangan bisnis desa.
Aviliani menilai, kinerja bank umum cukup baik dan kokoh dengan CAR mencapai 26%, ROA 26%, BOPO 77%, LDR 82%, dan rasio aset likuid masih 13.85%. Demikian juga, kredit investasi naik 12,6%, namun mayoritas peningkatannya banyak pada investasi bidang kredit yang tidak menyerap banyak tenaga kerja.
“Di dalam negeri, perbankan memperhatikan perkembangan politik di dalam negeri yang mempengaruhi kinerja industri.”
Tantangan Tahun 2024
Sementara, lanjut Aviliani, ekonomi nasional masih sangat berat di tahun 2024, dengan kondisi negara maju yang sedang mengalami kesulitan. Seperti AS, dimana tingkat inflasi AS belum bisa ditekan agar berada pada angka 4,7%.
“Dari sisi impor, belum meningkat secara signifikan. Impor berpengaruh terhadap cadangan devisa. Negara maju masih akan mengalami perbaikan pada ekonominya pada tahun 2024. AS masih menurun, China menurun, Eropa meningkat, dan India akan meningkat,” terangnya.
Data terakhir untuk China pada Q2-2023 bahwa ekonomi mengalami peningkatan. Sektor primer China pada Q2 pada posisi tetap, sedangkan sektor sekunder dan tersier meningkat. Perlu ada definisi ulang berkaitan dengan industri yang memiliki potensi meningkatkan perekonomian.
“Daya beli pada negara AS sedang tidak baik, diperlihatkan dari impor Q2 AS yang menurun. Inflasi global pada tahun 2024 masih menjadi “momok,” terangnya.
Langsung Menyentuh Rakyat Bawah
Menurut Aviliani, angka kemiskinan dan stanting belum turun sampai sekarang. Malah, yang terjadi adalah anggaran lebih difokuskan hanya kepada organisasi, bukan kepada objek strategis seperti Ibu hamil. “Perlu ada evaluasi terkait dengan dana desa, dimana dana tersebut harusnya difokuskan kepada kemiskinan, bukan difokuskan kepada bisnis.”
Nilai investasi yang tinggi, tidak berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja. Pemerintah perlu berpikir pada bagian “demand side” dalam menyusun kebijakan.Pertumbuhan jasa keuangan dan asuransi masih menurun pada Q2 secara nasional Indonesia.
Lembaga non-bank perlu memiliki Lembaga penjamin yang lebih baik.Tugas OJK adalah meningkatkan kembalik tingkat kepercayaan terhadap Lembaga non-bank. DPK masih lebih rendah dibanding permintaan kredit. “Hal ini menggambarkan hal yang baik, dimana perusahaan sudah memiliki managemen risiko yang membaik.PR pemerintah adalah kebijakan kartu pra-kerja perlu dievaluasi.”/


