JAKARTA-Bisnistoday: Kebijakan Donald Trump untuk berperang dengan Iran membuat harga-harga di Amerika Serikat melonjak. “Bukan hanya harga bensin. Ini termasuk bahan makanan, tagihan listrik, dan bahkan hipotek,” kata Senator Demokrat Chris Coons dalam sebuah unggahan di X, Selasa (31/3/2026)
Coons yang merupakan anggota Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS ini mengatakan akibat kebijakan Trump itu keluarga-keluarga di Amerika yang menanggung akibatnya.
Sebelumnya, Coons juga mengkritik kurangnya kejelasan dari pemerintahan Trump tentang mengapa perang itu dilancarkan atau kapan konflik tersebut bakal berakhir.
Sejauh ini, Trump banyak mendapat kritik lantaran kebijkan perangnya tersebut, termasuk unjuk rasa besar-besaran yang melanda sejumlah kota di AS beberapa waktu lalu.
Tidak Konsisten
Ucapan Presiden AS itu juga kerap kali tidak konsisten. Di satu sisi, ia mengatakan bahwa negosiasi dengan Iran, melalui perantara Pakistan, berjalan dengan baik.
Namun kemudian ia juga mengatakan bahwa ia tidak perlu kesepakatan. Menurut dia Iran-lah yang “memohon” kepada AS, untuk semacam akomodasi politik guna mengakhiri perang ini.
Al Jazeera mewartakan, Trump juga mengatakan bahwa pembicaraan terus berlanjut, sehingga tidak jelas apa yang dia harapkan dan lakukan untuk mengakhiri keterlibatan militer AS di Iran.
Menurut Trump, Teheran tidak perlu membuat kesepakatan agar ia mengakhiri perang dan mengatakan AS akan meninggalkan Iran dalam dua hingga tiga minggu.
Namun, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ia tidak percaya dengan AS.
Sementara itu, kabar terbaru menyebutkan China dan Pakistan telah merilis lima poin inisiatif untuk memulihkan perdamaian di Timur Tengah, namun tidak ada rincian apa isi lima poin tersebut.
Kabar lainnya, Sheikh Tamim bin Hamad al Thani dari Qatar dan Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohammed bin Zayed juga mengadakan pembicaraan untuk membahas tentang perang melawan Iran dan upaya untuk memulihkan stabilitas wilayah.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, sesumbar akan menghancurkan perkampungan di Lebanon selatan. Israel, kata dia, juga tidak akan mengizinkan ratusan ribu warga Lebanon yang mengungsi untuk kembali ke desa mereka.//


