JAKARTA, Bisnistoday- Sejak zaman penjajahan Belanda, daerah Pangalengan yang berada di Bandung Selatan, Jawa Barat memang sudah dikenal sebagai daerah penghasil susu sapi. Saat Belanda kalah perang dan meninggalkan Pangalengan, peternakan sapi perah tersebut diteruskan oleh warga Pangalengan.
Masyarakat khususnya peternak sapi perah kemudian menjalin kerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan dan sepakat pada tahun 1969 mendirikan sebuah koperasi dengan nama Koperasi Peternakan Bandung Selatan yang disingkat KPBS.
Salah satu tokoh yang menginisiasi, yaitu dokter hewan Daman Danuwijdaja yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Bandung dan kemudian dipercaya sebagai Ketua
Umum KPBS Pangalengan dari tahun 1969 sampai tahun 1995.
Ketua KPBS Pangalengan saat ini, Aun Gunawan memaparkan masalah utama yang dihadapi oleh koperasi pada awal pendirian adalah masa penyimpanan susu segar yang hanya bisa bertahan satu jam sampai dua jam sebelum basi. Karena itu, perlu alat penanganan khusus seperti alat pendingin
(cooling unit) sehingga susu dapat bertahan lebih lama dalam transportasi dan mendapat harga terbaik.
Berkat jasa Pak Daman pada waktu itu, KPBS berhasil mendapat bantuan alat pendingin dari pemerintah sehingga KPBS bisa terus berkembang hingga sekarang sepeninggal Pak Daman yang wafat pada Februari 1995.
Saat ini KPBS Pangalengan memiliki anggota sekitar 2.600 peternak yang tersebar di 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Pangalengan dan Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung. Populasi sapi perah sekitar 14 ribu ekor dimana sekitar 7.000 ekor merupakan sapi indukan. Adapun produksi susu segar di kisaran 75-78 ton perhari.
KPBS, menurut Aun, merupakan koperasi produsen susu yang memproduksi produk olahan susu dari industri pengolahan susu milik koperasi. “Kami punya pabrik pengolahan susu pasteurisasi, yoghurt,
dan keju mozzarella. Sebanyak 20 persen susu kami telah diolah sendiri di industri pengolahan milik kami sendiri,” kata Aun yang mulai bergabung dengan KPBS pada 1987 bersamaan dengan pembangunan gedung baru 3 lantai sebagai kantor KPBS.
Produksi susu segar yang tidak diolah oleh KPBS, kata Aun, dipasok ke PT Frisian Flag Indonesia dan PT Ultrajaya. Kedua perusahaan tersebut merupakan mitra KPBS yang saling menguntungkan sejak dulu.
Menurut Aun, KPBS merupakan koperasi produsen susu yang memiliki tempat penerimaan susu modern dengan pencatatan penerimaan secara online yang mulai dirintis sejak enam tahun yang lalu. “Kami mendapat bantuan dari negeri Belanda, percontohannya. Sistem penerimaan susu ini namanya MCP (Milk Collection Point) atau titik penerimaan susu dari anggota,” katanya.
Pada setiap lokasi MCP tersedia komputer untuk pengolahan data penerimaan susu beserta alat scanner barcode, mesin pendingin dan timbangan digital yang hasil penimbangannya terhubung langsung ke komputer. Anggota yang menyetorkan susu cukup melakukan scan kartu barcode anggota kemudian menimbang susu setelah susu dinyatakan dan layak diterima.
“Jadi kartu anggota di scan barcode, maka muncul nama peternaknya dan nomor
IDnya. Susunya ditimbang, hasilnya terhubung langsung dengan komputer kami di kantor dengan penyimpanan data server komputer di awan (cloud server)” kata Aun.
Saat ini KPBS telah mempunyai 7 MCP (1dalam proses pembangunan), sementara pada tempat penerimaan susu lainnya juga telah dilengkapi sistem penerimaan susu berbasis digital dengan menggunakan perangkat smartphone android yang diberi istilah MCPM (Milk Collection Point Mobile). Perbedaan MCP dan MCPM terletak dari ada tidaknya mesin pendingin di lokasi.
Selain digitalisasi penerimaan susu, KPBS juga membangun sistem ERP yang mengintegrasikan semua pelayanan koperasi diantaranya keanggotaan, keuangan, distribusi kebutuhan barang-pakan,
kesehatan hewan, dan kesehatan anggota.
Kian Meningkat
Mewabahnya penyebaran virus corona, banyak usaha yang gulung tikar sehingga jutaan orang terancam kehilangan pekerjaan. Perusahaan yang masih bertahan pun terpaksa melakukan efisiensi besar-besaran. Namun tidak demikian halnya dengan usaha KPBS Pangalengan yang tetap bisa unjuk gigi.
Menurut Aun, usaha koperasi yang dipimpinnya justru meningkat. Produksi susu dan produk olahannya terkerek karena masyarakat menyadari pentingnya makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. “Ada tren peningkatan permintaan terhadap susu dan produk olahannya sejak pandemi ini,” ujarnya.
Di bawah kepemimpinan Aun, KPBS melakukan sejumlah inovasi seperti pola penyetoran susu sapi dari peternak tak lagi dilakukan pencatatan manual namun menggunakan aplikasi yang dioperasikan
melalui ponsel pintar. Selain itu, memiliki server khusus sebagai pusat data.
Selain mengolah susu pasteurisasi, KPBS juga memproduksi produk turunan susu seperti yogurt, keju, dan butter. Ini menjadikan usahanya semakin berkembang dan diminati masyarakat. Dari usaha tersebut, koperasi memiliki aset sebesar Rp146,61 miliar dan volume usaha mencapai Rp 281,28 miliar.
Dirikan Rumah Sakit
Seiring dengan kemajuan usahanya, KPBS pada 16 Oktober 2020 mendirikan sebuah rumah sakit dengan nama Rumah Sakit Umum (RSU) KPBS. Rumah sakit ini berada di samping kantor KPBS di Jalan Pangalengan Nomor 340, Kabupaten Bandung.
RSU KPBS merupakan rumah sakit pertama yang dibangun oleh koperasi di Jawa Barat. “Rumah sakit ini untuk melayani anggota KPBS dan juga anggota keluarganya. Dia mau dirawat, mau dioperasi, caesar, free. Asal anggota aktif dan mereka punya sapi dan setor susu,” kata Ketua KPBS, H Aun Gunawan.
Rumah sakit ini juga melayani semua warga Pangalengan dan sekitarnya. Pelayanannya pun tidak ada perbedaan antara anggota KPBS dan warga yang bukan anggota. “Cuma anggota gratis, umum bayar, bisa pakai BPJS kalau programnya nanti sudah jalan,” katanya.
Menurut Aun, di Pangalengan sebelumnya tidak ada rumah sakit. Warga Pangalengan yang ingin berobat ke rumah sakit harus menempuh jarak yang lumayan jauh ke rumah sakit terdekat yaitu ke RSUD Al Ihsan di Baleendah atau ke rumah sakit di Soreang. Jarak Pangalengan ke Baleendah 38,6 km sedangkan jarak ke Soreang 33,4 km. “Dari segi pelayanan, rumah sakit itu memang dibutuhkan oleh warga Pangalengan. Dan dari segi bisnis juga bagus. Tapi, kami memang tidak bicara bisnis, yang penting pelayanan saja dulu,” katanya.
Rumah Sakit KPBS bertipe D, tipe yang paling rendah untuk kategori rumah sakit. Dan menurut Aun perlengkapannya pun masih jauh dari rumah sakit yang established (mapan). “Kami sudah punya dokter spesialis yang praktik di sini. Karena syarat utama untuk mendirikan rumah sakit harus ada empat dokter spesialis, yaitu dokter penyakit dalam, dokter anak, dokter kandungan, dan dokter bedah,” katanya.
Menurut Aun sekarang sudah ada penambahan empat dokter spesialis lainnya. Dua di antaranya dokter spesialis mata dan fisioterapi. “Untuk dokter jantung dan paru-paru belum tersedia,” katanya.
Meski begitu, koperasinya merupakan salah satu koperasi yang paling optimistis dan yakin pada masa depan cerah meski di tengah pandemi./

