JAKARTA, Bisnistoday – Dampak perang Rusia -Ukraina akan mempengaruhi berbagai aspek global dan nasional, seperti krisis energi, ancaman inflasi serta gangguan supply chain (rantai pasok) dunia. Dari sisi masyarakat tentunya kondisi tersebut, membuat biaya pengeluaran terus melonjak.
“Perang Rusia – Ukraina memberikan dampak global dengan ancaman krisis energi dan ancaman inflasi, juga dampak dari sisi demand and supply,” ungkap Eisha M RAchbini, PhD, Ekonom INDEF saat webminar yang bertajuk “Mengantisipasi ancaman Terhadap Ekonomi Nasional di Balik Krisis Ukraina –Rusia” yang diselenggarakan Forum Diskusi Denpasar dengan Pimpinan Dr Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR RI, Rabu (16/3).
Seperti yang dirasakan, Eisha menuturkan, krisis saat ini telah mendorong naiknya harga minyak dunia menjadi di atas 100 USD per barel. Dalam beberapa hari terakhir malah sampai menyentuh 130 USD per barel. Terjadi juga kenaikan tinggi pada harga komoditas CPO, batubara, terutama gas bumi di mana Rusia dan Ukraina adalah ekportir dan pemain utama gas pasar global.
Berita Terkait : Perang Rusia-Ukraina Picu Krisis Kepemimpinan Global
Tidak hanya itu, lanjut Eisha, krisis Ukraina juga memunculkan supply chain disruption. Jika perang berkepanjangan dan banyak jalur-jalur supply global dan infrastruktur pelabuhan atau airport rusak maka global supply global chainakan terhambat. Padahal sebelum krisis Ukraine dunia baru saja berusaha pulih dari global supply chain crisis akibat pandemik covid 19. Krisis Ukraina menambah goncangan bagi sisi penawaran untuk bahan-bahan komoditas.
Dari sisi demand, menurut Eisha, ketika harga-harga naik yang mengakibatkan final goods meningkat maka masyarakat akan mengeluarkan lebih banyak uang. Akibatnya daya beli menjadi semakin turun. Ke depan jika krisis berlangsung lebih lama maka pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan akan lebih lemah, stagnan, dan cenderung menurun, dan inflasi terancam lebih tinggi lagi.
Pertumbuhan ekonomi dunia yang semula diramalkan 3,9 % pada 2022, dengan krisis Ukraine IMF dan World Bank diperkirakan akan mengoreksi pertumbuhan ekonomi dunia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semula diramalkan 5,6% pada 2022 diperkirakan akan lebih rendah jika perang berlanjut.
Rusia menyumbang 1,9 % total barang ekspor dunia, bermitra dengan China, Uni Eropa dan USA. Rusia juga mengekspor 49 % minyak bumi dan gas ke Uni Eropa dan negara ke 7 eksportir gas untuk Jepang, UE, Jepang dan China. Rusia juga mengekspor batubara. Krisis Ukraine telah memicu kelangkaan energi dunia dan memicu kenaikan tinggi harga CPO dan komoditas lain. Harga CPO telah menyentuh 8 ribu ringgit per ons, batubara mencapai 400 USD per ton.
“Perang Rusia dan Ukraina menyebabkan ketergantungan terhadap negara mana saja terutama hubungan perdagangan. Pada perdagangan internasional dengan Rusia dan Ukraine terjadi melalui supply chain tak lansung ekspor melalui negara lain dalam hal ini China,” ujarnya.
Eisha menambahkan, ketika terjadi kontraksi negative growth, maka akan menekan demand barang-barang dari China. Sedangkan, ekspor bahan baku Indonesia ke China terhitung besar. Tentu akan ada dampak tidak langsung terhadap supply perdagangan internasional yang juga akan mempengaruhi international trade Indonesia.
Dampak Ekonomi Dunia
Peter F.Gontha, Mantan Duta Besar RI untuk Polandia 2014-2019 mengatakan, perang Rusia Ukraina berdampak ekonomi dunia semakin terasa. Misalnya, harga gandum dan biji-bijian sudah melonjak tinggi. “Efek mengerikan terjadi jika USA mengancam China untuk tidak boleh ikut campur membela Rusia yang dikenakan sanksi. Sanksi ekonomi sudah berdampak pada aset pribadi warga Rusia di seluruh dunia,” tuturnya.
Hal itu preseden berbahaya, dikatakan Peter Gontha, karena Rusia mengancam melancarkan cyber war ke USA yang akibatnya bisa menakutkan. Indonesia juga sangat bergantung ke Rusia terutama industri pupuk, industri pertahanan terutama ketika Sukhoi pertama dulu dibeli sehingga harus bersiap-siap.
Sebenarnya, menurut Peter Gontha, bibit-bibit persoalan Rusia dengan negara-negara eks Uni Soviet berpotensi banyak. Terutama yang berbatasan langsung atau dengan Eropa Barat. Kasus Georgia dan Ukraina amat berpotensi untuk mengganggu rasa nyaman Rusia dari ancaman secara geopolitik dan militer setelah dua negara tersebut berniat bergabung ke NATO.
“Di Ukraina banyak warganya yang berasal dari suku Rusia yang berpotensi membuat perpecahan dan perang saudara di negara-negara eks Uni Soviet. Hal itu yang membuat Rusia khawatir,” pendapatnya.
Peter manambahkan, Ukraina merupakan negara di mana banyak infrastruktur dan peralatan perang Rusia ditempatkan. Saat ini sedang dalam proses dikembalikan Rusia sebelum invasi Rusia (25/2). Namun saat ini setelah beberapa kali perundingan, Ukraina sepakat untuk mengurungkan niat bergabung ke NATO. Rusia juga mengizinkan Ukraina untuk bebas formal dan non formal berhubungan ekonomi dengan EU, asal jangan bergabung dengan NATO./

