SEMARANG , Bisnistoday – Mie kopyok adalah hidangan berbahan dasar mie dari Semarang. Dengan isian mie kuning, kuah bawang, lontong, taoge, tahu, taburan seledri dan kerupuk gendar di atasnya.
Mie kopyok ini merupakan salah satu makanan khas kota Semarang yang susah ditemukan di tempat lain. Mie kopyok kebanyakan dijajakan dengan gerobak keliling dari kampung ke kampung.Mie kopyok adalah hidangan khas Semarang yang sederhana namun memiliki rasa yang istimewa.
Mie yang satu ini adalah salah satu kuliner khas dari Semarang, Jawa Tengah, yang begitu menggugah selera dengan kemudahannya.Hidangan ini sudah menjadi bagian dari budaya kuliner Semarang sejak lama, dan sering dijajakan oleh penjual kaki lima dengan gerobak dorong.

Baca Juga: Nasi Gandul Pak Memet, Hidangan Nikmat dan Menggoda di Semarang
Uniknya, mie kopyok tidak menggunakan daging seperti hidangan mie pada umumnya. Sebaliknya, bahan-bahan yang digunakan sangat sederhana dan lebih fokus pada sayuran, tauge, lontong, dan tentu saja mie itu sendiri.
Dengan siraman kuah yang gurih dan segar, hidangan mie khas Semarang ini menjadi sajian yang pas dinikmati kapan saja, terutama di tengah cuaca panas.Selain tampilannya yang sederhana, keistimewaan mie kopyok Semarang juga terletak pada rasanya yang khas.
Kombinasi mie, lontong, tauge, dan daun seledri yang diaduk bersama bumbu rempah, menjadikannya sajian dengan rasa unik yang sulit ditemukan di hidangan mie lainnya.
Bermula dengan mendorong gerobak keluar masuk kampung untuk mendatangi pelanggan, kini Pak Dhuwur sudah memiliki warung tetap.Disebut Mie Kopyok Pak Dhuwur lantaran banyak orang menyebut Pak Dhuwur adalah sosok yang memiliki postur tubuh tinggi atau dalam Bahasa Jawa disebut dhuwur.
Narno (45), generasi kedua penerus usaha ini, tak henti-hentinya melayani pembeli bersama para pegawainya. Ia melanjutkan jejak mendiang ayahnya, Harso Dinomo, yang dilu dikenal sebagai penjual keliling dengan tubuh jangkung. Ciri khas itu yang akhirnya menjadi jenama kuliner ini.
“Dulu sejak 1970, Bapak keliling bawa pikulan. Karena posturnya tinggi, pelanggan manggil ‘Pak Dhuwur’ biar beda sama tukang mi kopyok yang lain,” kata Narno di warungnya.
Awalnya, Pak Dhuwur berjualan keliling di kawasan Pandansari, Sekayu, dan Jalan Thamrin. Barulah pada tahun 1990-an, ia menetap di sebuah lapak pujasera milik PLN. Saat lokasi itu ditutup, lapak dipindah ke trotoar, lalu akhirnya menetap di lokasi yang kini menjadi warung permanen itu.
“Tempatnya dari dulu ya kayak gini, cuma sempat sampai di halaman depan. Sekarang yang punya inginnya halaman depan dikosongi, jadi masuk ke dalam,” jelas Narno.
Di dalam warung, suasana ramai tak pernah reda. Pelanggan dari berbagai usia memadati meja-meja kayu kecil sejak warung dibuka pukul 08.00 WIB pagi tadi. Aroma kuah bawang, campuran seledri, dan kecap khas Semarang menguar di udara.
Kata ‘kopyok’ sendiri memiliki arti ‘diaduk’, sama dengan cara memakan mi kopyok ini. Mie Kopyok Pak Dhuwur terdiri dari mie kuning basah, lontong, tauge, tahu pong, kerupuk gendar, dan kuah gurih ringan. Tersedia pula sambal kacang, yang bisa menciptakan rasa yang lebih nendang.
“Nggak ada resep rahasia, sih. Bahannya sama kayak mie kopyok lain, cuma mungkin racikan Bapak itu cocok di lidah orang. Dan konsisten dari dulu,” ujar Narno.
Menu mie kopyok dibanderol hanya Rp 15.000 per porsi. Warung mie ini juga sudah punya cabang di berbagai titik, termasuk di Srondol, Pujasera Kiai Saleh, dan dua cabang di Istana Buah. Mie Kopyok Pak Dhuwur baru tutup sekitar pukul 16.00 WIB.
Adapun sepiring mie kopyok ini disajikan bersama potongan lontong, mie, tauge, irisan tahu, kemudian ditambahkan bumbu air bawang putih.
Selanjutnya, mie kopyok itu ditaburi irisan seledri dan bawang merah goreng. Adapun pelengkapnya berupa karak atau gendar, yaitu kerupuk dari beras. Kerupuk itu disajikan dengan diremas dan ditaburkan di atas mie kopyok. (Puri)








































