SABANG,Bisnistoday- Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam) Mahfud MD dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian bersama pejabat unsur pimpinan daerah Aceh mendatangi titik “Kilometer 0” di Kota Sabang, Banda Aceh, Rabu (21/12).
“Kami sekarang berada di titik 0, itu sebagai simbol suatu garis batas di mana pihak luar tidak boleh masuk sembarangan dan kita akan mempertahankan segala daya dan upaya, “ tegas Mahfud saat memberikan keterangan resmi di Kilometer 0, Sabang.
Sejatinya Pulau Rondo merupakan titik nol kilometer Indonesia. Namun, karena sulit untuk mencapai Pulau Rondo, maka titik nol kilometer pun dipindah ke Kota Sabang, sehingga sebagian besar masyarakat Indonesia lebih mengetahui Kota Sabang lah titik nol kilometer Indonesia.
Jarak Pulau Rondo dengan Kota Sabang sekira 15,6 kilometer, sementara dengan Kelurahan Iboih 9,3 kilometer, dan yang terdekat jaraknya dengan Kelurahan Ujung Ba’u sekira 4,8 kilometer. Sedang luas Pulau Rondo sendiri hanyalah 0,4 kilometer persegi, dapat dicapai dengan kapal motor dari Kelurahan Ujung Ba’u selama 40 menit saja, sedangkan dari Kota Sabang lebih lama, sekira 1,75 jam.
Mahfud menegaskan pemerintah akan memberikan perhatian serius dan akan memprioritaskan pembangunan di daerah perbatasan ini.
Presiden, kata Mahfud, menggunakan istilah negara harus hadir ke perbatasan, pembangunan dimulai dari pinggiran, pinggiran itu artinya daerah-daerah terluar itu.
“Wilayah perbatasan itu merupakan wajah kita ke dunia internasional. Dan saya sekarang berada di titik 0 ini, artinya saya mewakili negara menyatakan bahwa kami akan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang garisnya ada di sini.” tegas Mahfud.
Mahfud juga mengingat negara luar untuk tidak mencoba-coba masuk ke NKRI tanpa izin dari pemerintah Indonesia.
“Negara luar jangan masuk tanpa izin kami dan ini wewenang kedaulatan kami Negara Kesatuan Republik Indonesia.Apa yang diamanatkan oleh Konstitusi bahwa kami melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah, “ tegas Mahfud.
Mahfud menjelaskan bahwa tumpah darah itu buminya, airnya, sering kita sebut tanah air. Dan itu yang disebut bagian dari Ibu Pertiwi, dari rahim ibu, Indonesia lahir dari rahim Ibu Pertiwi, bernafas di udara Ibu Pertiwi, minum dari air Ibu Pertiwi, dan nanti akan kembali lagi ke Ibu Pertiwi, ke Sabang, daerah barat.
Dan Sabang ini sangat unik, bukan hanya karena secara resmi menjadi titik nol garis batas Indonesia, tapi juga karena sudah masuk ke dalam lagu wajib Indonesia, “Dari Sabang Sampai Merauke”.
“Itu sudah menjadi bagian dari lagu yang sudah sangat dikenal, dari barat sampai ke timur, dari Sabang sampai Merauke itu dan anak-anak kita juga bisa, bukan hanya di Sabang ini, tapi juga di seluruh Indonesia.”
Harus Dijaga
Sementara itu Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menjelaskan bahwa secara official dirinya adalah Kepala Badan Nasional Pengelola Perbatasan, yang tugasnya ada tiga.
Pertama adalah menjaga keutuhan perbatasan kita, termasuk penyelesaian segmen-segmen yang bersengketa. Ada beberapa perbatan yang masih bersengketa, seperti dengan Malaysia dan kemudian dengan Timor Leste.
“Ini kita selesaikan dalam proses, banyak yang sudah diselesaikan juga, termasuk yang kedua adalah melaksanakan operasional Pos Lintas Batas Negara (PLBN). “tegas Tito.
Ada beberapa pos lintas batas di masa pemerintahan Jokowi yang menjadi terrace kita dan membanggakan kita karena lebih baik dari pos lintas batas negara sebelah.
Yang ketiga adalah membangun daerah-daerah perbatasan dengan konsep yang tadi disebut Bapak Menko, membangun Indonesia dari pinggiran.
Yaitu membangun daerah-daerah perbatasan kemudian titik sentralnya adalah di kecamatan-kecamatan.
“Jadi tidak desa, terlalu kecil, tidak kabupaten, karena ada bagian dari kabupaten yang bukan dari perbatasan, tapi desa, bukan dari kecamatan.Nah ini yang kita buat konsep sampai dengan tahun 2024.” kata Tito.
Kemudian berkaitan dengan kunjungan ke Pulau Rondo, Tito menegaskan bahwa kunjungan ini menjadi penting bagi kita karena riilnya titik yang paling barat itu ada di Pulau Rondo.
“ Titik Kilometer 0 itu atau Pulau terluar itu adalah Pulau Rondo, cuman yang memang dikenal oleh publik adalah dari Sabang sampai Merauke. “ tegas Tito.
Sama seperti di Merauke, sebenarnya titik terluar iu namanya Sota yang paling selatan, tapi yang paling dikenal publik adalah Merauke.
Pulau Rondo itu dijaga oleh TNI, terutama dari Marinir. Bagi kita bukan hanya pulau itu saja yang menjadi masalah, yang perlu kita jaga, tapi ini menjadi titik batas dalam rangka penentuan batas kedaulatan negara.
Termasuk Zona Ekonomi Eksklusif sesuai dengan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), atau konvensi PBB tentang hukum laut. Di mana titik terluar itu adalah batas negara dan perairan di dalamnya itu adalah masuk wilayah negara itu.
“Kalo dulu kan enggak, sebelum ada UNCLOS itu. “
Pulau Rondo mesti kita jaga, meskipun pulau kecil, tapi dia menentukan wilayah yang sangat luas sekali. Kalo sampai Pulau Rondo itu nggak kita jaga, diambil orang lain, berarti akan ditarik 200 meter ke dalam wilayah kita menjadi ZEE negara lain.
“Sekarang dari titik itu, kita hitung batas kontinen 12 mil laut menjadi batas negara kita, kedaulatan penuh. “
Dan ZEE yang bisa dieksplotasi kita tarik menjadi 200 meter dari Pulau Rondo ke utara, ke selatan, ke barat, itu pentingnya bagi kita.
“Kita akan berusaha memperbaiki supaya titik yang sangat penting ini betul-betul menjadi titik penghitungan internasional yang penting bagi kedaulatan negara kita. “ kata Tito.
Jangankan satu pulau yang sebesar Rondo itu, satu karang saja di pulau terluar itu menjadi titik penting yang bisa menjadi batas penentuan antarnegara.
“Oleh karena itu satu karang pun yang tenggelam pada saat pasang, kita harus tetap jaga, seperti di Selat Malaka. “tegas Tito.




