JAKARTA, Bisnistoday – Kondisi sekarang hampir semua negara agak sulit memprediksikan kondisi ketersediaan pangan bagi warganya akibat kondisi global yang kian tidak menentu. Tahun 2023, sektor pertanian akan dihadapkan pada situasi yang berbeda, baik dampak, tantangan serta upaya yang harus dilakukan menghadapi Resesi Global Tahun 2023.
“Tak ada satupun negara yang firm terhadap kondisi saat ini, semua negara saat ini resah terhadap masalah pangan akibat kompleksifitas kondisi yang terjadi saat ini,” ungkap Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo saat diskusi Outlook Sektor Pertanian 2023; Dampak, Tantangan dan Upaya Menghadapi Resesi Global 2023, yang diselenggarakan oleh INDEF, baru-baru ini
“Belajar dari tahun 2022, sektor pertanian merupakan sektor kunci mengingat banyak komoditas yang mengalami Windfall, seperti CPO,” tegas Syahrul.
Ia mengutarakan, memasuki tahun 2023, resesi global diperkirakan akan terjadi dibanyak negara. Pertumbuhan ekonomi dunia yang semula diperkirakan akan tumbuh sebesar 3,6% akan berkurang menjadi 2,7%. Hal ini disebabkan ketidakpastian perang Rusia-Ukraina serta tingginya harga energi dan harga pangan, hingga lockdown China.
Syahrul menegaskan, pertanian itu penting dalam 2-3 tahun terakhir menghadapi climate change, menghadapi kekacauan antara Rusia dan Ukraina. Menurutnya, semua negara harus memberikan prioritas teratas pada sektor pertanian. Pangan adalah human right, tidak boleh ada negara yang menurut negaranya saat mengalami masalah pangan.
“Tidak boleh ada negara yang menutup negaranya yang menyebabkan kerusakan ekosistem pangan yang ada sekarang. Sepanjang rakyat bisa menangani sendiri maka berhentilah untuk impor,” cetusnya.
Syahrul mengatakan, perlunya intervensi yang lebih serius dalam pertanian karena penduduk yang besar ini perlu makan. Bisa apa manusia tanpa makanan. Kekuatan negara ini berada di sektor pertanian, namun jika bergantung pada lahan yang tidak bisa bertambah tanpa adanya intervensi ini akan menjadi persoalan kedepan.
“Karena itu kebiasaan menanam di lahan pekarangan perlu didorong terutama di Pulau Jawa minimal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari untuk mengurangi distorsi inflasi,” tuturnya.
Tahan Terhadap Resesi
Menurut M. Rizal Taufiqurahman, Kepala Center Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, potensi dan kontribusi sektor pertanian jika dilihat dari trennya termasuk sektor yang tidak goyang saat krisis, jika pun turun lebih disebabkan oleh kondisi iklim.
“Curah hujan yang ekstrim berpangaruh terhadap produksi sektor pertanian. Menurut BPS, komoditas cabai dan bawang merah serta ikan menyebabkan inflasi harga bergejolak hingga 11,47% sedangkan inflasi inti hanya sebesar 2,86%,” terangnya.
Rizal Taufiqurahman menambahkan, peningkatan produksivitas ini menjadi tantangan untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan produksi. Pentingnya bantuan bibit karena menjadi input produksi di sektor pertanian. Seperti, bantuan benih yang bermutu hortikultura cabai rawit, cabai besar, dan bawang merah memberikan dorongan terhadap jumlah produksi.
Tahun 2023, menurut Rizal, sektor pertanian masih tetap optimis tetap berkembang dengan melihat trend produksi akan naik. Hasil penelitian INDEF dengan menggunakan data survei ongkos usaha hortikultura pada tahun 2018 menunjukkan bahwa program bantuan benih bermutu pemerntah mempunyai pengaruh positif terhadap produksi.
“Studi INDEF memberikan gambaran, bahwa studi kasus bawang merah dengan koefisien sebesar 0.268. Artinya: Jika bantuan benih bawang merah meningkat sebesar 1 persen maka akan meningkatkan produksi bawang merah sebesar 0.268 perse,” terangnya./


