www.bisnistoday.co.id
Senin , 4 Maret 2024
Home OPINI Indepth Pembangunan Semestinya Mengangkat Martabat Manusia
Indepth

Pembangunan Semestinya Mengangkat Martabat Manusia

Kemiskinan
POTRET Kemiskinan warga di bantaran sungai.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Mengutip Amartya Sen, human dignity atau martabat manusia menempatkan posisi seseorang sebagai subyek dimana pembangunan tidak akan mendapatkan kemuliaan jika kebijakan pembangunan tidak mencapai human dignity.

Hal ini diungkapkan Amich Alhumami, Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan, Bappenas dalam diskusi yang diselenggarakan secara hibrid oleh Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC) dengan tema “Kualitas Hidup dan Pembangunan Berkeadilan” di Jakarta, Senin (12/2).

Diskusi ini merupakan rangkaian dari acara bedah buku berjudul “Konsep Kualitas Hidup dalam Kerangka Kapabilitas” yang ditulis oleh Sunaryo dan Pipip A. Rifa’i Hasan. Diskusi berlangsung secara hibrid di Auditorium Firmanzah Universitas, Universitas Paramadina, Jakarta.

Amich menilai bahwa dari akhir dekade 80-an dan awal 90-an, ada dua buku yang berpengaruh yaitu Mitos-Mitos Pembangunan dan Martabat Manusia.  “Ekonom lama hanya melihat bahwa orang yang miskin karena tidak bekerja tetapi Amartya Sen mengatakan bahwa seseorang akan mengalami kemiskinan jika tidak menjalani secara struktural,” ujarnya.

Menurut Amich, Soedjatmoko juga menulis mengenai kebebasan dengan judul Dimensi Manusia dalam Pembangunan dan beberapa judul buku lainnya.  Jika dikaitkan dengan buku tersebut, maka negara harus memenuhi tiga kebutuhan warga negara.

“Negara harus bisa memastikan ketersediaan lapangan kerja bagi setiap warga negara untuk mendapatkan kehidupan cukup dan layak, mendapatkan layanan pendidikan dengan itu dapat masuk pasar kerja, serta harus memastikan bahwa status izinnya baik dan terjamin dari sisi kesehatan,” papar Amich

Menurutnya, posisi Amartya Sen sebagai ahli ekonomi, tetapi kalau kita membaca karya beliau apakah membaca wajah sosiologi atau wajah ekonomi? Jadi sebenarnya Amartya Sen seorang ekonom atau antropolog? “Karena yang dilihat dalam konsep dignity ini  merupakan gabungan filsafat sosial, antropolog dan ekonomi,” tutur Amich.

Tak Menggambarkan Individu

Didin S. Damanhuri guru besar Universitas Paramadina  sebagai ekonom yang berfokus pada makro menyatakan bahwa pada awalnya menyangka tulisan Amartya Sen memiliki fokus pada ekonomi mikro. “Kemudian mengutip physical quality life index yang dianggap terlalu makro, maka tidak menggambarkan perkembangan individu” kata Didin.

Didin melihat Gross Domestic Product (GDP) menjadi ukuran negara berkembang, pecahnya Pakistan dan Bangladesh menjadi contoh negara yang gagal dengan untuk itu.

Dalam paparannya Didin menyebutkan mengenai kategori kebahagiaan sebagai sebuah ukuran yang di konseptualisasikan pada tahun 2015 dengan mengeluarkan index kebahagiaan ala Bhutan. “Sampai hari ini masih belum ada kepastian mengenai indeks kebahagiaan ala Bhutan ini akan diadopsi oleh PBB sehingga kedepannya akan dijadikan pembanding,” kata Didin./

Arsip

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

PERTAMINA IS THE ENERGY

PT WILMAR Padi Indonesia

SOROTAN BISNISTODAY

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Zuhdi Saragiih
Indepth

Zuhdi Saragih : AKHLAK Sebatas Corporate Management Ethics

JAKARTA, Bisnistoday- Menteri BUMN Erick Thohir telah mencanangkan budaya AKHLAK sebagai core values BUMN melalui Surat Edaran...

Hari Anak Nasional
Indepth

Kesehatan dan Pendidikan Anak Kunci Indonesia Emas 2045

JAKARTA, Bisnistoday - Kesejahteraan anak merupakan bagian penting dalam perekonomian dan pembangunan...

bansos tunai
Indepth

Bansos, Pengentasan Kemiskinan atau Tujuan Politik?

JAKARTA, Bisnistoday - ⁠⁠  Presiden Joko Widodo dinilai sudah sangat jelas bahwa...

Indepth

Forum Ekonom : Butuh Keselarasan Ekonomi dan Politik

JAKARTA, Bisnistoday – Ditengah situasi yang penting seperti sekarang, perlunya ekosistem keseimbangan...