www.bisnistoday.co.id
Rabu , 5 Agustus 2026
Home OPINI Indepth Pembangunan Semestinya Mengangkat Martabat Manusia
Indepth

Pembangunan Semestinya Mengangkat Martabat Manusia

Kemiskinan
POTRET Kemiskinan warga di bantaran sungai.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Mengutip Amartya Sen, human dignity atau martabat manusia menempatkan posisi seseorang sebagai subyek dimana pembangunan tidak akan mendapatkan kemuliaan jika kebijakan pembangunan tidak mencapai human dignity.

Hal ini diungkapkan Amich Alhumami, Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan, Bappenas dalam diskusi yang diselenggarakan secara hibrid oleh Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC) dengan tema “Kualitas Hidup dan Pembangunan Berkeadilan” di Jakarta, Senin (12/2).

Diskusi ini merupakan rangkaian dari acara bedah buku berjudul “Konsep Kualitas Hidup dalam Kerangka Kapabilitas” yang ditulis oleh Sunaryo dan Pipip A. Rifa’i Hasan. Diskusi berlangsung secara hibrid di Auditorium Firmanzah Universitas, Universitas Paramadina, Jakarta.

Amich menilai bahwa dari akhir dekade 80-an dan awal 90-an, ada dua buku yang berpengaruh yaitu Mitos-Mitos Pembangunan dan Martabat Manusia.  “Ekonom lama hanya melihat bahwa orang yang miskin karena tidak bekerja tetapi Amartya Sen mengatakan bahwa seseorang akan mengalami kemiskinan jika tidak menjalani secara struktural,” ujarnya.

Menurut Amich, Soedjatmoko juga menulis mengenai kebebasan dengan judul Dimensi Manusia dalam Pembangunan dan beberapa judul buku lainnya.  Jika dikaitkan dengan buku tersebut, maka negara harus memenuhi tiga kebutuhan warga negara.

“Negara harus bisa memastikan ketersediaan lapangan kerja bagi setiap warga negara untuk mendapatkan kehidupan cukup dan layak, mendapatkan layanan pendidikan dengan itu dapat masuk pasar kerja, serta harus memastikan bahwa status izinnya baik dan terjamin dari sisi kesehatan,” papar Amich

Menurutnya, posisi Amartya Sen sebagai ahli ekonomi, tetapi kalau kita membaca karya beliau apakah membaca wajah sosiologi atau wajah ekonomi? Jadi sebenarnya Amartya Sen seorang ekonom atau antropolog? “Karena yang dilihat dalam konsep dignity ini  merupakan gabungan filsafat sosial, antropolog dan ekonomi,” tutur Amich.

Tak Menggambarkan Individu

Didin S. Damanhuri guru besar Universitas Paramadina  sebagai ekonom yang berfokus pada makro menyatakan bahwa pada awalnya menyangka tulisan Amartya Sen memiliki fokus pada ekonomi mikro. “Kemudian mengutip physical quality life index yang dianggap terlalu makro, maka tidak menggambarkan perkembangan individu” kata Didin.

Didin melihat Gross Domestic Product (GDP) menjadi ukuran negara berkembang, pecahnya Pakistan dan Bangladesh menjadi contoh negara yang gagal dengan untuk itu.

Dalam paparannya Didin menyebutkan mengenai kategori kebahagiaan sebagai sebuah ukuran yang di konseptualisasikan pada tahun 2015 dengan mengeluarkan index kebahagiaan ala Bhutan. “Sampai hari ini masih belum ada kepastian mengenai indeks kebahagiaan ala Bhutan ini akan diadopsi oleh PBB sehingga kedepannya akan dijadikan pembanding,” kata Didin./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Topan Bavi melanda Tiongkok (dok:AP/Southchinamorning)
Indepth

Topan Bavi Terjang Asia, Bukti Krisis Iklim di Depan Mata

JAKARTA, Bisnistoday -  Lebih dari belasan orang tewas akibat tanah longsor yang...

Kebakaran hutan (dok:Unsplash/Matt-Palmer)
IndepthLingkungan

Mengantisipasi Dampak El Nino

JAKARTA, Bisnistoday - Perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana ilmiah yang hanya...

Timnas Prancis yang didominasi keturunan imigran (dok:FFF)
IndepthSport & Health

Manuver Politikus Sayap Kanan yang Memalukan

JAKARTA, Bisnistoday – Pada 16 Juni 2026 lalu, di tengah udara gerah...

Didier Deschamps (dokLInstagram/FFF)
IndepthSport & Health

Sang Legenda yang tak Pernah Kehilangan Cinta

JAKARTA, Bisnistoday - Sebelum melakoni laga melawan Norwegia, para pemain Prancis dan...