JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah diminta lebih kreatif menghadapi tantangan ledakan pengangguran mengantisipasi krisis global. Kebijakan pemerintah harus mampu menciptakan peluang kerja bagi masyarakat.
“Pemerintah harus menciptakan kebijakan yang pro terhadap penciptaan lapangan kerja,” ungkap Muhammad Ryano Panjaitan, Ketua Umum DPP KNPI, dalam Gelora Talks bertema : Pengangguran Anak Muda, Potret Negeri dan Mimpi Untuk Indonesia secara daring, Rabu (28/9) di Jakarta.
Ia mengatakan, ketika bakal booming kendaraan listrik, sedangkan Indonesia memiliki cadangan Nikel cukup besar, dan harus bisa dimanfaatkan dengan kebijakan yang membuka lapangan kerja. “Jangan sampai Nikel diekspor setengah jadi, dan diimpor barang jadi. Kebijakan penciptaan lapangan kerja harus prioritas.”cetusnya.
Ryano menjelaskan, jangan terkecoh dengan catatan pengangguran data BPS menurun dari tahun Agustus tahun 2021 lalu 9,7 juta pengganguran lalu pada Februari 2022 tercatat turun 8,4 juta jiwa. “Para pengangguran ini, 70 persen usia produktif dan yang terserap pekerjanya atau sekitar 39% porsi terbesar sebagai pekerja sektor pertanian.”
Sebenarnya, lanjut Ryano, tidak hanya sektor mineral Nikel, tetapi sektor pertanian memang punya potensi besar penyerap pekerja, seperti halnya pengembangan Sorgum. Potensinya sangat besar untuk dikembangkan sebagai pangan alternatif dan penyerapan pekerja. ”Ada aplikasi dari India, malah menawarkan pinjaman bunga 0% untuk petani Sorgum apabila hasil panennya dijual ke India,” ucapnya.
Selain itu, menurut Ryano, untuk menurunkan angka pengangguran, perlunya penciptaan entrepreneurship untuk para milenial. Sekarang, porsi milenial sebagai wira usaha baru sektiar 1,6% atau minim sekali. Wira usaha muda juga harus dibimbing dengan dukungan seperti misalnya pinjaman lunak. “ Jadi perlu juga dihadirkan mentalitas sebagai entrepreneur sejak usia dini,” terangnya.
Krisis Ciptakan Tokoh Besar
Muhammad Faisal, Executive Director Youth Laboratory Indonesia, gelombang pandemik yang memicu krisis ekonomi sekarang ini sebenarnya sudah pernah dialami pada zaman 1917 -1920 silam. Para tokoh malah muncul dengan kondisi krisis tersebut, dan mendorong untuk berpikir jauh ke depan dan memiliki visi jangka panjang.
“Ini terjadi saat zaman kemerderkaan, melahir tokoh dan pemimpin besar seperti Soekarno, Bung Hatta, Moh Yamin dan lainnya,” terangnya.
Tren sekarang ini sebelum Pandemik, katanya, anak muda cenderung menginginkan pekerjaan sesuai dengan seleranya dan jika tidak cocok lalu ditingalkan. Sekarang ini, juga ada narasi revolusi 4.0 global, namun apa yang terjadi kaum yang mendewakan digital seperti Amazon tidak bisa diandalkan juga dalam penyerapan pekerja. “Mereka memiliki robot, untuk mengganti pekerja,” ujarnya.
Neraca Kerja Tak Seimbang
Nawawi PhD, Kepala Pusat Riset Kependudukan-BRIN, mengatakan, pengangguran dengan Pendidikan SMU dan SMK menduduki paling tinggi. Terjadi ketidakseimbangan antara kebutuhan dan dunia Pendidikan keahlian. “SMK banyak didominasi administrasi kantor, sedangkan kebutuhan, perikanan, teknologi, permesinan dan lainnya,” terangya. Sedangkan pekerja dari pedidikan tinggi, banyak sekali yang bekerja tidak sesuai keahliannya.
Kedepan, untuk menurunkan angka pengangguran, menurutnya, perlunya membuka peluang informasi pasar kerja. Hingga sekarang, informasi ini belum tergarap dengan baik. Seperti di Jepang, informasi tenaga kerja dibuka, dan lebih transparan angkatan kerja yang belum terserap.” Nah bagi pekerja yang tak terserap ini menjadi fokus difasilitas untuk melengkapi keahliannya,” tuturnya./

