JAKARTA, Bisnistoday – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di hadapan delegasi Sidang Ke-19 Parliamentary Union of the OIC Member States (PUIC), Rabu malam, mengajak negara yang berpenduduk muslim terbesar, turut berperan menjadi kekuatan penyeimbang yang membawa pesan damai dan keadilan.
“Sejak dibentuk pada tahun 1999, perkumpulan parlemen negara-negara Islam bertekad menjadi jembatan diplomasi parlementer yang memperkuat solidaritas, menyuarakan keadilan, dan menghadirkan solusi-solusi bagi masalah-masalah yang pelik dalam kehidupan global,” ungkap Presiden Prabowo saat membuka konferensi PUIC Ke-19 di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (14/5) malam.
Diketahui, bahwa Konferensi Ke-19 PUIC digelar di Gedung DPR RI, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, mulai 12 hingga 15 Mei 2025. Konferensi ini mengusung tema Good Governance and Strong Institutions as Pillars of Resilience.
Presiden Prabowo melanjutkan bahwa bahwa prinsip-prinsip perdamian yang dimaksud bukan sekadar retorika, melainkan menjadi pedoman moral dan dasar kebijakan utama dalam politik luar negeri Indonesia.
Apalagi, dalam konteks dunia yang kini dilanda konflik, ketegangan geopolitik, dan rivalitas kekuatan besar, Presiden Prabowo kembali menegaskan, pentingnya peran aktif negara-negara berpenduduk mayoritas muslim untuk menjadi kekuatan penyeimbang.
Teladani Tokoh Besar Islam
Dalam Konferensi Ke-19 PUIC, Presiden Prabowo berpidato di hadapan lebih dari 400 delegasi dari negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam dari 38 negara, termasuk 10 negara observer.
“Sebelum kita membahas isu-isu besar yang tengah dihadapi dunia Islam sekarang, saya mengajak kita semua merenungkan kisah dan keteladanan para tokoh besar dalam sejarah Islam,” ujar Presiden Prabowo.
Menurut Presiden, kisah-kisah seperti Salahuddin Al Ayyubi, Khalid bin Walid, hingga Umar bin Khattab bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sumber nilai dan inspirasi yang relevan untuk menghadapi tantangan dunia Islam masa kini.
Kepala Negara mengatakan bahwa keberanian, keteguhan, kecerdasan, dan keberhasilan para tokoh tersebut dalam membela kebenaran dan membangun peradaban, patut menjadi pelajaran berharga.
“Keikhlasan ini menunjukkan kepada kita bahwa kekuasaan bukan tujuan, melainkan suatu amanah, suatu pelajaran penting bagi kita semua yang memegang peran kepimpinan hari ini di manapun,” tegas Presiden./ant/






































