JAKARTA, Bisnistoday – Sebutan ‘relawan’ saat musim pemilihan presiden dan wakil presiden lima tahunan, kembali mencuat di tengah kehidupan masyarakat. Namanya juga relawan, dalam arti yang merelakan diri untuk memberikan dukunganya terhadap para calon pemimpin masing-masing yang diidolakan. Semestinya, tanpa disuruh, namanya relawan sudah bergerak dari akar rumput hingga pucuk pimpinan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah relawan sepadan dengan kata sukarelawan yang berarti aktivitas yang dilakukan seseorang secara sukarela atau tidak karena diwajibkan atau dipaksakan. Artinya, seorang relawan melakukan kegiatannya didasarkan pada motif ‘suka dan rela’.
Seperti yang dilansir dari lexico.com salah satu platform yang diprakarsai oleh Oxford Dictionary, mengartikan volunteer sebagai “a person who freely offers to take part in an enterprise or under a task” yang merupakan seseorang yang memberikan penawaran secara percuma untuk berkontribusi dalam sebuah proyek atau mengambil bagian pada tugas tertentu.
Disisi lain ada juga Schroeder, mengartikan makna relawan dengan penekanan mendalam, yakni seseorang yang rela menyumbangkan waktu, tenaga, dan kemampuan tanpa mengharapkan tambahan finansial dari organisasi.
Itulah pendapat orang pinter dalam bertutur kata. Kata relawan, juga mengingatkan seorang temen yang mengaku dirinya sebagai relawan, dan siap berjuang demi capres yang didambakannya. Ia mengaku sebagai relawan murni tidak ada udang dibalik batu, karena memang dukungan terlahir karena adanya kesamaan pemikiran, ide, pandangan serta menjadi sosok ideal sebagai calon pemimpinnya. Model relawan begini, tentu sangat dinanti-nanti bagi tim kampanye capres-cawapres tentunya.
Sebab, mereka itu rela mengorbankan waktu, tenaga, pemikiran maupun bahkan hartanya untuk mendukung si calon idolanya. Model relawan ini sangat ideal untuk hadir, dan mendukung capres-cawapres yang diidamkannya.
Namun demikian, ada juga, relawan tipe agak berbeda, mengaku rela berjuang untuk calon pemimpinnya, dengan apapun risikonya. Hanya saja, relawan ini tidak memiliki kelonggaran hartanya, tetapi waktu dan tenaganya siap disumbangkan bagi capres pilihannya. Relawan ini, bakal keluar kandang apabila muncul kegiatan gratis yang didonasikan para pendukung lainnya.
Tidak menutup mata, ada juga model relawan yang benar-benar menjadi relawan sejati apabila didukung relawan lainnya dalam melakukan kegiatan kampanye. Relawan model ini bakal bergerak searah dengan mengalirnya dana kampanye berputar. Begitupun, akan tampil didepan, dan muncul kelihaiannya apabila ada kegiatan digelar dengan kecukupan anggaran.
Disisi lain, ada model relawan yang tidak rela begitu saja. Model seperti ini, hampir segala aktifitasnya dinilai dengan uang dan seberapa besar keringat yang dikucurkan. Bahkan, model relawan seperti ini, selalu berpikir mencari untung di tengah pemufakatan pemenangan capresnya. Model relawan ini berprinsip atau berpandangan bahwa capresnya jadi pemimpin, toh nantinya tidak ingat akan perjuangan dirinya.Karena itu, mereka menghitung dan bila calonnya kalah, malah menagihnya kalau ada yang bisa ditagih.
Begitupun yang satu ini, juga tidak kalah populernya, ada yang mengaku relawan tetapi memiliki pamrih. Relawan model ini bakal berjuang mati-matian untuk memenangkan capres-cawapresnya, dengan tetap menghitung biaya yang dikeluarkannya. Setidaknya relawan yang tidak rela ini, bakal meminta imbalan balik, baik berupa dana atau jabatan ketika si capresnya menang.
Apapun model relawan, tentunya para koordinator tim kampanye tentu sudah memiliki kalkulasi tersendiri terhadap seberapa militannya para relawan yang melingkari si jagoannya. Apakah mereka memang tulus, ideal seperti yang diidam-idamkan dalam dukungan capresnya, atau sekadar menyelam sambil minum air, serta kalau ada kesempatan bakal mengadu untung? Benar atau tidak, hanya relawan itu sendiri dan Tuhan yang tahu niatnya./
Jakarta, Januari 2024
Tim Redaksi









































