www.bisnistoday.co.id
Minggu , 5 Juli 2026
Home HEADLINE NEWS Rhenald Kasali: Negara Ini Perlu “Branding”
HEADLINE NEWS

Rhenald Kasali: Negara Ini Perlu “Branding”

PAKAR MANAJEMEN, Prof Rhenal Kasali di Jakarta, Minggu (1/10).
Social Media

JAKARTA,Bisnistoday- Pengamat transportasi public, Rhenald Kasali menceritakan pengalamannya di acara dialog Hub SPACE di JCC Senayan, Jumat, terkait dengan pembangunan infrastruktur di Indonesia.

“Saya baru terbang dari Samarinda, biasanya saya kalau ke Samarinda itu harus ke Balikpapan dulu, bertahun tahun tidak ada jalan tol, sekarang jalan tol sudah jadi,” tegas Rhenald dalam acara yang dipandu oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Cak Lontong itu.

Bandara baru yang besar di Samarinda juga sudah ada. Kalau kita pergi di Bandara sekarang ini rata rata besar dan bagus, Cuma masalahnya kebiasaan orang Indonesia.

“ Kemarin saya baca di salah satu media berdasarkan hasil studi bangsa yang paling malas jalan kaki dunia itu adalah Indonesia. Saya kaget. Rupanya di ukur pakai HP, berapa langkah satu hari. Orang Indonesia itu nomor 1 paling sedikit jalannya hanya 3.500 langkah. Ada lima bangsa di dunia dan Indonesia no 1 paling malas jalan,” ungkap Rhenald.

Jadi tidak heran ketiga Menhub membuka terminal 3 Soekarno Hatta, banyak yang protes karena jalannya jauh. Padahal di mana mana kalau anda pergi ke Singapura saja, jalannya juga jauh sekali. Orang kita senang kalau pergi ke mana saja, maunya turun dari mobil langsung bisa naik kereta api..
Makanya orang lebih senang terminal 2 karena dekat.

“Ini kebiasaan kita yang jalannya paling sedikit. Ini harus kita ubah,” kata Rhenald.

Diskusi tentang Transportasi Publik di JCC Senayan

Kedua, Rhenald mengaku pernah bicara dengan teman teman mengenai transportasi. Hampir semuanya berbeda pendapat. Mereka berfikir berdasarkan disiplin ilmunya masing masing.

“Misalnya begini, ada yang mengatakan “Sampai kiamat pun, kereta cepat itu tidak akan untung dan tidak akan balik modal”. Saya pernah menulis, saya pergi Eropa, setelah saya lihat commuter di Eropa hamper semunya ngak ada yang balik modal,” ungkap Rhenald.

Di Swiss, setiap lima menit sekali datang commuter, Sabtu Minggu orang pada tidur dan istirahat di rumah semua, penumpangnya ngak ada tapi commuter nya beroperasi terus. Keretanya pun bagus terus karena diperbaharui setiap tahun.

“Setelah saya baca itu rugi dan subsidi semua.. Tapi kalau teman teman mengatakan sampai kiamatpun ngak balik modal pasti kita tidak bangun itu,” kata Rhenald.

Dia mengingatkan bahwa transportasi publik itu harus di subsidi,. Pak Menteri Perhubungan mungkin masih ingat waktu kita ke Palembang dulu. Berapa pejabat di sana, termasuk Gubernur mengatakan bahwa ini pemerintah pusat aja yang bayar.

“Saya katakana, ndak bisa, Pemda harus ikut karena ini satu kepemilikan dan branding,” tegas Rhenald..

Ada lagi yang mengatakan buat apa kereta cepat Bandung- Jakarta, kan sekarang udah ada travel,,tol fly over jalannya bisa cepat.“Tetap menurut saya kita memerlukan reputasi.”

Coba lihat di Singapura, bangun terminal 4, banyak yang marah, ini terminal atau mall atau air terjun, mentang- mentang Singapura ngak punya gunung buat air terjun di mall bandara.

“Tapi itu diperlukan oleh bangsa itu untuk branding. Untuk membuktikan kepada dunia bahwa Singapura punya kemampuan untuk membuat yang bagus. Itu Branding.”kata Rhenald.

Tapi kalau kita hanya melihat dari ilmu ekonomi keuangan, maka kita akan berpikir kalau itu tidak balik modal kita hentikan, padahal ada ilmu lain yang kita pakai , harus ada branding juga dong negara ini.

“Saya juga senang kemarin, teman teman yang biasa mengkritik pemerintah, mengkritik pak Budi, kemarin naik kereta cepat juga dia, Ok juga, rupanya ngomong di ruang publik caci maki terus, tapi kemarin ikut juga naik kereta cepat. Dan telah berdamai hatinya,” kata Rhenald.

“Saya kasih contoh lagi ketika Presiden membangun jalan tol dari Lampung ke ujung Sumatra. Banyak yang mengatakan, itu belum waktunya dan kurang ekonomis.

“Saya setuju belum waktunya, tapi ketika dilakukan pembangunan ekonomi itu bukan hanya fungsional, bukan sekedar melihat bisakah uang kembali, tapi ada aspek lain yakni keadilan, pemerataan,”tegas Rhenald.

Apakah saudara saudara kita di Sumatra tidak dongkol dan akan mengatakan kok Jawa semua yang dibangun. Itu akan menimbulkan ketidak adilan. Karena di pulau Jawa sudah padat , kenapa di tempat lain tidak perlu.

Kalau dibangun di Jakarta atau di Jawa saja, itu ada pasal atau rasa ketidakadilan yang muncul. Jadi memang keterhubungan atau transportasi publik itu menjadi sangat penting.“Saya bangga negeri saya lebih dihormati hari ini di bandingkan di masa masa lalu,” tegas Rhenald..

Menhub Budi Karya menambahkan, dulu negeri Jiran itu selalu melihat kita sebelah mata dari sisi transportasi, tapi kini kita melihat mereka sebelah mata, mereka salut dengan kemajuan transportasi kita.“Terimakasih kita punya pak Presiden yang luar biasa,” tegas Budi. (Ril).

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Aktifitas Bongkar Muat di Pelabuhan Belawan.
HEADLINE NEWS

Vietnam Naik Kelas, PMI Indonesia Merosot ke Zona Bahaya Merah

JAKARTA, Bisnistoday - Ekonomi Indonesia bisa diportet maupun diprediksi dari satu indikator...

Produk fesyen
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Fesyen UKM Indonesia Makin Diminati Konsumen Korea Selatan

SEOUL, Bisnistoday -Produk fesyen pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) Indonesia mendapat...

HEADLINE NEWSHukum

Diperiksa KPK Soal Suap Hutan, Menhut Raja Juli Akui Kembalikan Amplop Bupati Kuansing

JAKARTA, Bisnistoday - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengakui adanya sebuah...

PELABUHAN PRIOK
Ekonomi & BisnisHEADLINE NEWS

Neraca Perdagangan Indonesia Januari-Mei 2026 Catatkan Surplus USD 4,03 Miliar

JAKARTA, Bisnistoday -  Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia masih menunjukkan ketahanan pada...