JAKARTA, Bisnistoday – PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama seluruh entitas KAI Group mencatat selama periode 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, melayani 27,2 juta pelanggan, atau meningkat 7,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu melayani 25.326.114 pelanggan.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan, perkeretaapian berperan penting sebagai penghubung utama mobilitas masyarakat di tengah meningkatnya aktivitas perjalanan akhir tahun. Keterhubungan layanan antarkota dan antarmoda membantu menjaga kelancaran perjalanan keluarga, aktivitas sosial, serta pergerakan ekonomi di berbagai wilayah.
“Kereta api hadir sebagai penghubung berbagai aktivitas, mulai dari perjalanan antarkota, mobilitas perkotaan, hingga konektivitas menuju bandara dan destinasi wisata,” ujar Bobby.
Secara rinci, layanan kereta api jarak jauh dan lokal yang dikelola KAI melayani 4,17 juta pelanggan. Pada segmen perkotaan, KAI Commuter melalui Commuter Line Jabodetabek, Area II Bandung, Area VI Yogyakarta, dan Area VIII Surabaya melayani 20.611.818 pelanggan, menjadi penopang utama mobilitas harian masyarakat di kawasan aglomerasi.
Konektivitas antarmoda tercermin melalui layanan KAI Bandara yang melayani KA Bandara YIA serta KA Srilelawangsa yang terhubung langsung dengan Bandara Kualanamu, dengan total 411.955 pelanggan selama periode Nataru. Pada layanan transportasi perkotaan, LRT Jabodebek melayani 1.321.733 pelanggan, sementara LRT Sumsel melayani 321.105 pelanggan, memperkuat keterhubungan mobilitas masyarakat di kawasan urban.
Pada layanan berbasis pengalaman perjalanan, KAI Wisata melalui kereta panoramic dan kereta wisata melayani 24.460 pelanggan. Kereta cepat Whoosh melayani 362.979 pelanggan, mempercepat konektivitas Jakarta–Bandung selama periode libur. Di Sulawesi Selatan, KA Makassar–Parepare melayani 23.252 pelanggan, menunjukkan peran kereta api dalam membuka akses dan memperlancar mobilitas wisata regional.
Bobby menambahkan, kelancaran layanan selama Nataru turut memberi dampak bagi sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi masyarakat. Perjalanan yang terjaga mendorong pergerakan wisatawan, mendukung usaha lokal, serta memperkuat konektivitas antardaerah yang menjadi bagian dari denyut perekonomian nasional./










































