JAKARTA, Bisnistoday- Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Jumat (9/7) ditutup 6.039,84 atau hampir sama dengan perdagangan Kamis (8/7) yang ditutup di posisi 6.039,9. Sementara Indeks LQ45 naik 0,42 poin ke posisi 840,34
Mayoritas indeks saham di Asia sore ini Jumat ditutup melemah. Pergerakan bursa dipengaruhi oleh sejumlah faktor yaitu lonjakan kasus Covid-19, pengetatan kebijakan social distancing di sejumlah negara, dan rilis data inflasi China.
“Dari dalam negeri, IHSG stagnan seiring dengan minimnya sentimen positif di bursa. Sektor keuangan menjadi penekan indeks, terutama saham BBRI,” tulis Tim Riset Phillip Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (9/7).
Dibuka melemah, IHSG hari ini bergerak variatif baik pada sesi pertama dan juga sesi kedua hingga akhirnya ditutup stagnan.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor meningkat dengan sektor infrastruktur naik paling tinggi yaitu 1,86 persen, diikuti sektor transportasi & logistik dan sektor kesehatan masing-masing 1,32 persen dan 1,06 persen.
Sedangkan lima sektor terkoreksi dengan sektor barang konsumen non primer turun paling dalam yaitu 0,97 persen, diikuti sektor keuangan dan sektor properti masing-masing turun 0,67 persen dan 0,64 persen.
Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi beli saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah beli bersih asing atau net foreign buy sebesar Rp23,09 miliar.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.187.719 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 16,39 miliar lembar saham senilai Rp11,26 triliun. Sebanyak 178 saham naik, 292 saham menurun, dan 180 tidak bergerak nilainya.
Sementara itu bursa saham regional Asia sore ini antara lain Indeks Nikkei melemah 177,61 poin atau 0,63 persen ke 27.940,42, Indeks Hang Seng naik 191,41 poin atau 0,7 persen ke 27.344,54, dan Indeks Straits Times meningkat 22,53 poin atau 0,73 persen ke 3.130,12.
Rupiah Melemah
Sementara itu, kurs rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta ditutup melemah tipis 3 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp14.528 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.525 per dolar AS.
“Indeks dolar menguat seiring kekhawatiran berkembangnya varian delta yang menyebar cepat dari dapat menghambat kebangkitan ekonomi global yang sudah menunjukkan kelemahan,” kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi seperti dikutif Antara.
Dari dalam negeri, pelaku pasar terus memantau dampak dari penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat terhadap jumlah kasus baru Covid-19.
Pada Kamis (8/7) kemarin, jumlah kasus baru Covid-19 di Tanah Air mencapai 38.391 kasus, rekor baru selama pandemi dan tertinggi kedua di dunia, sehingga total kasus terkonfirmasi positif Covid-19 menjadi 2.417.788 kasus.
Sementara itu, pasar juga berekspektasi bank sentral Amerika Serikat The Fed mungkin akan mengumumkan strategi pemangkasan pembelian asetnya pada Agustus 2021 mendatang.
Indeks dolar yang mengukur kekuatan dolar terhadap mata uang utama lainnya saat ini berada di level 92,466, naik dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yaitu di posisi 92,417.
Sedangkan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun saat ini berada di level 1,344 persen, naik dibandingkan posisi penutupan sebelumnya 1,288 persen.
Rupiah pada pagi hari dibuka melemah ke posisi Rp14.535 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran Rp14.528 per dolar AS hingga Rp14.550 per dolar AS.
Sementara itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Jumat stagnan di posisi Rp14.548 per dolar AS./








































