www.bisnistoday.co.id
Jumat , 4 September 2026
Home EKONOMI Setop Baja Impor Demi Kemandirian Industri Baja Lokal
EKONOMISektor Riil

Setop Baja Impor Demi Kemandirian Industri Baja Lokal

DISKUSI PUBLIK : Kegiatan Diskusi Publik Bertajuk "Kaleidoskop Ketahanan Industri Baja Nasional Dalam Mendukung Pembangunan Infrastruktur Dan Industri Manufaktur" di Jakarta, Kamis (8/12).
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Dewan mendesak pemerintah agar mendorong pengembangan industri baja lokal dengan menyetop masuknya baja impor. Disatu sisi, pemerintah juga harus membangun industri baja nasional yang lebih kompetitif.

Herman Khaeron, Anggota DPR RI Komisi VI mengatakan, Indonesia menjadi negara pengimpor baja tertinggi dari anggota G20 atau sekitar 35-40%. Untuk itu, pemerintah harus mempersiapkan industri baja ini mampu bersaing dan mandiri. 

“Kita ini masih pengimpor baja tertinggi diantara negara G20. Jadi perlunya industri yang memiliki keunggulan komparatif,” ujar Herman, saat kegiatan Kaleidoskop Ketahanan Industri Baja Nasional Dalam Mendukung Pembangunan Infrastruktur Dan Industri Manufaktur di Jakarta, Kamis (8/12).

Ia menceritakan, bahwa di salah satu PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) terdapat perusahaan produsen. Baja dan disekitarnya pamasok material baja. Setelah bersinergi, sehingga melakukan ekspor. “Jadi industri itu harus lebih kompetitif,” terangnya. 

Disisi produksi baja, lanjut Herman, Indonesia mampu memenuhi kebutuhan domestik. Hanya saja, masih banyak faktor agar para pengguna baja tersebut mampu beralih ke produsen lokal. 

“Seperti di Krakatu Steel, diakui tidak mampu memenuhi semua kebutuhan, karena ada keterbatasan salah satunya teknologi,” tegasnya. 

Meski begitu, untuk mendorong pemanfaatan baja domestic, Herman mengapresiasi seperti Kementerian PUPR yang telah membentuk standar atau SNI dan melakukan pengetatan penggunaan produk impor. 

“Utilisasi industri baja kita ini, masih sekitar 54% dan import masih sekitar 35-40%, sesungguhnya mampu,”terangnya. 

Menurut Herman, sekarang ini lebih gampang import dengan hitung-hitungan sederhana dan lebih kompetitif. “Padadal kita ada SDA yang cukup, produksi juga mampu dan kalau pilihan import tak butuh pabrik, dan tenaga kerja. Ini penting untuk kelangsungan industri baja kedepan,” tegasnya. 

“Industri baja kita sudah cukup mampu, setop itu baja impor,” cetusnya.

Keberpihakan Stakeholders

Kimron Manik, Direktur Keberlanjutan Konstruksi, Direktorat Jenderal Bina Konstruksi, Kementerian PUPR mengatakan, perlunya keberpihakan stakeholders. Terutama industri baja domestic sebenarnya butuh kepastian pasar baja secara nasional. 

“Jadi yang peting, kepastian pasar yang didapat dari informasi kebutuhan proyek hingga muncul RAB (rencana anggaran dan biaya) dan HPS (harga satuan). Tentu ini menjadi kendala. Bagi PUPR sebenarnya rincian ini, sudah dikunci, untuk pemanfaatan lokal,” ujarnya./ 

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Aldy Amir
EKONOMI

Aldy Amir Terpilih Secara Aklamasi Sebagai Ketua SP SKK Migas Periode 2026–2028

JAKARTA, Bisnistoday – Serikat Pekerja Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu...

Circular Economy Forum (CEF) 2026. (Dok:IBCSD)
EKONOMI

CEF 2026 Perkuat Kolaborasi untuk Akselerasi Ekonomi Sirkular dan Industri Hijau

JAKARTA, Bisnistoday– Transisi menuju ekonomi sirkular di Indonesia menjadi semakin penting di...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Kemenkop Tutup Program Magang Pengurus KDKMP Dari 31 Provinsi

LAMONGAN, Bisnistoday - Kementerian Koperasi menutup program magang pengurus Koperasi Desa/Kelurahan Merah...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menkop Dorong Pengrajin Tenun dan Petani Kopi Toraja Bergabung dalam Koperasi

TANA TORAJA, Bisnistoday — Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mendorong pengrajin tenun...