www.bisnistoday.co.id
Selasa , 7 Juli 2026
Home OPINI Gagasan Survei Mudik Lebaran Yang Ambigu
Gagasan

Survei Mudik Lebaran Yang Ambigu

PEMUDIK
PELABUHAN Penyeberangan Merak-Bakahueni beberapa waktu lalu.
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Setelah Pemerintah (Kemenhub) merilis potensi pergerakan nasional pada Lebaran 2024 sebanyak 193,6 juta orang, banyak publik tercengang, mengapa pemudik bisa sebanyak itu. Memang lebih baik Pemerintah memberikan keterangan jumlah pemudik secara indikatif nyata bukan pada pergerakan masyarakat. Sementara banyak masyarakat awam yang mengganggap bahwa angka 193,6 juta adalah pemudik, padahal hanya pergerakan orang.

Memang ambigu bila kita menggunakan data pergerakan masyarakat, karena setiap hari di Jabodetabek saja terdapat 88 juta pergerakan masyarakat tiap hari, dengan total penduduk 33 juta jiwa tahun 2020. Artinya bisa dihitung asumsi bahwa pergerakan masyarakat nasional dengan populasi sesuai sensus 2020 (270 jiwa) ada 720 juta pergerakan / hari dengan angka koefisien 2,67.

Angka pergerakan masyarakat secara nasional ketika mudik hanya 193,6 juta sangat sedikit bila dibandingkan dengan pergerakan di Jabodetabek tiap hari yang mencapai pergerakan 88 juta per hari atau 720 juta perhari secara nasional. 193,6 juta pun tidak dijelaskan bahwa ini jumlah perhari atau pergerakan H-7 sebelum Lebaran tiba.

Dalam paparan Kemenhub disebutkan hitungan pergerakan masyarakat tersebut adalah pergerakan perorangan bukan pergerakan kendaraan, sementara untuk rekayasa lalu lintas mudik yang diperlukan adalah jumlah pergerakan kendaraan. Untuk mencari pergerakan kendaraan dengan survei Kemenhub yang menyebutkan potensi mudik dengan mobil sebesar 18,29% (35,42 Juta), umumnya pengguna mobil akan memuat rata-rata 4 orang / mobil, berarti ada 8,86 juta mobil.

Pergerakan Kendaraan

Bila dengan motor mudik 16,07% (31,12 Juta), jika menggunakan motor dengan 2 orang pemudik maka terdapat 15,56 juta pemotor. Angka ini lebih mendekati kenyataan arus kendaraan pemudik, sehingga tidak membuat panik atau ketakutan mudik macet. Kapanikan macet mudik masyarakat akan berbondong-bondong mudik lebih awal malah akan membuat puncak kemacetan.

Maka dapat diketahui semisal jumlah pergerakan mobil sebesar 8,86 juta mobil dan 15,56 motor, angka ini akan berguna bagi Kepolisian untuk merekayasa lalu lintas di jalan ataupun tol. Sayangnya dalam survey tersebut tidak ditanyakan menggunakan jalan tol atau non tol, sehingga akan lebih akurat lagi dalam prediksi perjalanan mudik dengan moda jalan.

Dalam survei tersebut dilaksanakan secara daring/online semua, maka sejatinya sulit menemukan target sasaran responden yang tepat. Hasil survei ini secara profiling mayoritas hanya kelas ekonomi menengah ke bawah bila dilihat dari pendapatan dari Rp 0 (belum kerja/belum punya pendapatan) – 5 juta / bulan sebesar 78,45 % (sangat besar) responden. Apakah potensi yang akan mudik mayoritas hanya kelompok masyarakat kelas sosial bawah saja ? Tentunya tidak.

Sementara pengeluaran ongkos transportasi mudik sebesar 500 ribu – 3 juta rupiah dari 50,7 % responden. Dari hasil survey mayoritas mudik dengan berpenghasilan 0 – 5 juta / bulan namun biaya untuk mudik sampai pada 3 juta rupiah dapat dikatakan impas/mahal untuk biaya perjalanan. Dari analisis singkat tersebut kiranya diperlukan uji validitas lagi margin error respondennya.

Sebenarnya lebih mudah proyeksi survei sebelum pandemi covid19 dulu, pada 2019 tercatat jumlah pemudik sebanyak 15,97 juta orang. Sedangkan pada 2018 tercatat sebanyak 17,31 juta orang. Hitungan ini didasarkan kondisi H-7 dan H+5 Lebaran. Jadi, pemudik 2019 turun 7,74% dibanding pemudik 2018.

Memang sebelum pandemi ada kecenderungan  jumlah para pemudik menurun, secara umum kita hitung dari Jabodetabek  tahun 2019 pemudik 14 juta, tahun 2018 ada 15 juta sedang tahun 2017 ada 16 juta. Padahal prediksi survei sebelumnya tiap tahun niscaya ada kenaikan jumlah pemudik.

Mengapa pasca pandemi ramalan pemudik oleh Pemerintah menggunakan diksi pergerakan masyarakat nasional bukan diksi jumlah pemudik nasional.  Dari hasil survei pergerakan nasional masyarakat  193,6 juta Lebaran 2024 sangat sulit dipastikan berapa potensi real jumlah pemudik nasional. Sedangkan berdasarkan data empiris jumlah pemudik secara nasional hanya berjumlah 15 – 18 juta pemudik dari H-7 dan H+7 Hari Lebaran.

Resep Bagi Para Pemudik
  • Untuk tarif tiket angkutan umum mudik niscaya mahal (tuslah), tapi tidak menjadi masalah bila pemudik dari kalangan ekonomi menengah-atas. Yang perlu kita pikirkan adalah bagi pemudik dengan pendapatan kurang, kita hanya sarankan untuk mencari mudik gratis yang telah dicanangkan oleh Pemerintah (Pemda/Kementerian/kelembagaan), BUMN dan Perusahaan nasional yang peduli keselamatan pemudik.
  • Jika enggan mudik gratis, maka masyarakat terpaksa akan menggunakan motor untuk mudik. Kecelakaan jalan 70%-80% adalah pemotor adalah pemicu terjadinya kecelakaan jalan, maka lebih selamat pemudik jangan menggunakan motor untuk mudik.
  • Bila tetap ingin menggunakan motor untuk last mile tujuan mudik diharapkan mendaftarkan “motis” (motor gratis) bisa menggunakan kereta api atau kapal yang telah disediakan oleh Pemerintah untuk keperluan mudik.
  • Umumnya masyarakat mudik menggunakan motor karena last mile di desa/daerahnya tidak ada angkutan umum, maka hanya motornya sendiri sebagai sarana mobilitas ketika berada di tujuan mudik. Lebih baik baik program motis ini dapat diaplikasikan prioritas kepada pemudik yang tujuannya mudiknya di pelosok desa.
  • Untuk pemudik yang menggunakan mobil di jalan tol, diharapkan BPJT dan BUJT mempersiapkan mitigasi pembukaan rest area darurat di jalan tol. Hal ini diperlukan karena ketika mudik tahun sebelumnya biang kemacetan berada di akses rest area tol. Sekurang-kurangnya ditambah ruang parkir tambahan di sekitar rest area untuk menampung lonjakan volume pengguna jalan tol. Volume kendaraan jalan tol selama H-7 Hari Lebaran di tol trans Jawa biasanya naik sekitar 40-70%  per hari. Artinya perlu ruang parkir di rest area yang mampu manampung kenaikan volume kendaraan tersebut.
  • Pengguna jalan tol adalah bukan kendaraan pribadi saja namun juga pengguna angkutan umum (bus/travel). Maka untuk one way (satu arah) akan merugikan pengguna angkutan umum karena sarana bus/travel akan terhalang karena one way sehingga angkutan umum akan terlambat menjemput penumpang yang waktunya jauh dari skedul keberangkatan normal. Lebih baik one way ditiadakan diganti dengan diupayakan contra-flow supaya tetap ada keadilan bagi semua pengguna jalan tol.
  • Keberhasilan mudik adalah bukan sukses telah berhasil menghantarkan pemudik semua ke tujuan namun sukses karena berhasil balik (kembali) dari mudik dengan selamat. Maka sejatinya pemudik yang menggunakan motor berjarak 100 km ke atas sudah saatnya dilarang bukan dihimbau lagi./

Jakarta, 22 Maret 2024

Oleh : Deddy Herlambang Direktur Eksekutif INSTRAN

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Kemiskinan
Gagasan

Pengakuan Seorang Anak Tentang Kehidupan Keluarga Miskin Kota

SEJAK tahun 2021, ayah saya bekerja sebagai buruh harian lepas di Yogyakarta....

Orasi Ilmiah
Gagasan

“Dramaturgi” Dibalik Skandal Riset “Bodong”

DUNIA akademik Indonesia baru saja dihantam badai yang memalukan di panggung internasional....

Kopdes Merah Putih
Gagasan

Jangan Dipersempit, Koperasi Desa Merah Putih Mesti Dipandang Lebih Holistik

RASANYA, perlu diselaraskan dalam pemikiran koperasia atas hadirnya program Koperasi Desa /Kelurahan...

Dream Job
Gagasan

Secercah Harapan Muncul, Semoga Badai Ekonomi Segera Berlalu

BELUM LAMA INI, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan perlunya disiplin fiskal. ...