JAKARTA, Bisnistoday — Transformasi industri fesyen mendorong munculnya pelaku usaha muda yang memanfaatkan teknologi digital untuk membangun brand secara mandiri.
Salah satunya Nawla, brand fesyen pria lokal yang didirikan oleh Alwan Abdul Zaki pada akhir 2023. Brand ini lahir dari pengalaman personalnya yang telah berkecimpung di industri fesyen sejak usia remaja.
“Saya membangun Nawla dengan visi menghadirkan fesyen pria yang timeless dari segi konsep dan kualitas untuk dipakai lintas generasi. Sejak awal, Nawla dijalankan dengan tujuan menghadirkan kualitas yang sepadan dengan harga yang lebih rasional,” tutur Alwan, dikutip Minggu (28/12/2025).
Nawla menjadi salah satu contoh UMKM yang berhasil mengubah pengalaman dan keresahan personal menjadi produk bernilai komersial.
Perjalanan brand ini bahkan tercatat sebagai bagian dari rangkaian Kisah UMKM Shopee “Sukses Berkarya Sebelum 30”, yang menyoroti perjalanan pelaku UMKM dan brand lokal dalam mengoptimalkan peluang pertumbuhan melalui pemanfaatan ekosistem digital.
Cerita Awal Mula Nawla
Nama Nawla sendiri merupakan pembalikan dari nama Alwan yang merepresentasikan keterikatan personal sang pendiri terhadap brand yang dibangunnya.
Menurut Alwan, setiap produk Nawla berangkat dari kebutuhan dan keresahan pribadi yang kemudian diterjemahkan ke dalam desain serta fungsi yang relevan dengan konsumen.
“Setiap produk Nawla dirancang agar relevan digunakan lintas generasi. Saya membayangkan pakaian yang tetap layak dipakai seiring waktu, bahkan dapat diwariskan kepada anak atau anggota keluarga lain,” kata Alwan.
Pada tahap awal, Nawla memulai bisnis dengan lima artikel produk, terutama kaos dan polo berbahan knitwear dengan desain yang lebih refined dan tidak pasaran.
Seiring waktu, brand ini memperluas lini produknya, mencakup polo dengan desain signature, kemeja dengan detail jahitan rapi dan material quick dry, hingga loose pants yang dirancang nyaman untuk aktivitas harian.
Setiap artikel dikembangkan melalui proses riset, uji pasar, dan produksi bertahap guna menjaga kualitas tetap terjaga.
Penjualan Tumbuh, Pasar Ekspor Mulai Disasar
Dalam operasional bisnis, Nawla menerapkan sistem kerja kolaboratif dengan melibatkan talenta muda, mayoritas berasal dari generasi Z. Model kerja fleksibel berbasis kerja jarak jauh diterapkan untuk menyesuaikan karakter tenaga kerja kreatif.
Distribusi dan penjualan Nawla mengandalkan e-commerce Shopee. Berdasarkan data internal, lebih dari 80 persen total penjualan Nawla berasal dari platform tersebut. Sejumlah fitur digital seperti siaran langsung, konten video, program afiliasi, dan iklan dimanfaatkan untuk menjangkau konsumen secara lebih luas.
Kinerja penjualan Nawla pun menunjukkan tren pertumbuhan dalam dua tahun terakhir. Pada tahun kedua operasional, penjualan dilaporkan melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.
Kapasitas produksi Nawla tercatat meningkat dari sekitar 2.000 potong per bulan pada 2023 menjadi 4.000 potong per bulan pada 2025.
Selain pasar domestik, Nawla juga mulai menjangkau konsumen luar negeri melalui Program Ekspor Shopee. Melalui inisiatif ini, produk Nawla kini dapat diakses oleh konsumen di Singapura, membuka babak baru bagi perjalanan brand lokal menuju pasar global.
Ke depan, Nawla berencana memperluas portofolio produk ke segmen pakaian luar dan kaos berpotongan longgar, dengan tetap mempertimbangkan karakter dan menyesuaikan kebutuhan pasar.
Alwan menilai pemanfaatan ekosistem digital menjadi salah satu faktor penting bagi UMKM fesyen dalam memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.
“Bagi UMKM dan generasi muda di luar sana, perjalanan Nawla menjadi bukti bahwa dengan visi yang jelas, keberanian berinovasi, serta pemanfaatan ekosistem digital secara optimal, mimpi untuk berkarya dan bertumbuh sebelum usia 30 bukanlah hal yang mustahil,” pesan Alwan. (E2-NOVITA LESTARI)








































