JAKARTA, Bisnistoday –Guna mendukung target capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen pada 2029, Kementerian Perdagangan telah membuat target peningkatan ekspor yaitu sebesar 7,1 persen hingga 9,64 persen selama 2025–2029, salah satunya melalui program UMKM Berani Inovasi Siap Adaptasi (BISA) Ekspor. Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri mendorong para pelaku usaha untuk produktif dan inovatif jajaki ragam peluang di bidang kewirausahaan.
“UMKM BISA Ekspor adalah bentuk upaya adaptif dan responsif Kemendag terhadap berbagai tantangan perdagangan nasional dan global. Salah satu langkah konkret yaitu pelaksanaan business matching secara berkala yang difasilitasi oleh perwakilan perdagangan di berbagai negara,” tutur Wamendag Roro dalam Business Talk Ramadan Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha KAHMI (BPP HIPKA), pada Jumat (7/3) di Masjid Istiqlal, Jakarta.
Wamendag Roro memaparkan, sejak Mei 2020 Indonesia juga mencatatkan surplus selama 57 bulan berturut-turut. Menurutnya, hal ini menjadi salah satu pondasi penting bagi perjalanan menuju Indonesia Emas 2045. Adapun negara tujuan ekspor utama Indonesia masih didominasi oleh RRT, Amerika Serikat, Jepang, India, dan negara-negara ASEAN.
Lebih lanjut, Wamendag menjelaskan, kewirausahaan melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) adalah penggerak utama perekonomian Indonesia yang dapat membuka lapangan pekerjaan dan mengeksplorasi industri kreatif. Tiga hal yang disebutkan Wamendag Roro sebagai peluang perdagangan adalah, adanya pasar dalam negeri yang besar, tingginya usia produktif, dan indeks daya saing Indonesia di dunia yang meningkat.
Selanjutnya, menurut Wamendag Roro, peran UMKM juga tercermin dari daya tahan ekonomi nasional di tengah tantangan global hingga berhasil mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5,03 persen pada 2024. “Tercapainya Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi, maka kita perlu menyadari berbagai tantangan dan peluang yang ada untuk membuat langkah strategis dalam menghadapinya,” ucap Wamendag Roro.
Tantangan Perdagangan
Wamendag mengatakan, tantangan perdagangan yang perlu diantisipasi secara sigap antara lain adalah isu lingkungan dan perubahan iklim, perkembangan geopolitik global, disrupsi ekonomi dan keuangan digital, gangguan rantai pasok global, serta gejolak harga pangan dan energi. Wamendag menambahkan, untuk berhasil menghadapi berbagai tantangan tersebut, mutlak dibutuhkan sinergi berbagai pihak termasuk asosiasi seperti HIPKA yang konsisten melakukan pembinaan dan memberikan pendampingan bagi UMKM.
“Kemendag senantiasa terbuka merangkul berbagai pihak, dan asosiasi salah satu menjadi mitra strategis kami dalam upaya transformasi UMKM. Penerapan asas gotong royong adalah kunci keberhasilan mencapai target pertumbuhan ekonomi,” tegas Wamendag Roro.
Wamendag mengajak seluruh anggota HIPKA untuk jeli melihat peluang dan menghadirkan solusi yang inovatif dan berkelanjutan melalui berbagai produk, baik barang maupun jasa, serta cermat memanfaatkan program dan fasilitas yang disediakan oleh pemerintah, termasuk yang dihadirkan oleh Kemendag./








































