JAKARTA, Bisnistoday – Secara keseluruhan, keberadaan saluran market online dan offline saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan konsumen, masing-masing menyediakan pilihan kenyamanan berbelanja yang berbeda.
“Namun, keselarasan dengan preferensi konsumen perlu menjadi fokus bagi pelaku usaha agar dapat memberikan pengalaman belanja terbaik melalui berbagai saluran yang tersedia,” ungkap Helmy Herman, Regional Account DIrector, Worldpanel Division, Kantar Asia di Jakarta, Selasa (24/10).
Helmy mengutarakan, dalam kegiatan bincang-bincang bertajuk Power Lunch dengan tema “Omnichannel Trends: Meeting the Modern Shopper’s Preferences” yang didukung oleh GDP Venture.
Acara ini, mendiskusikan tentang perkembangan perilaku konsumen saat ini yang mengalami perubahan signifikan antara belanja dengan online channel namun tetap menyukai belanja secara offline karena dapat langsung melihat barang yang diminati dan melakukan interaksi kepada penjual maupun sekitar.
Turut hadir Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM Indonesia, Dimas Harry Priawan, Co-founder & CEO Dekoruma, Fransisca K. Nugraha, Group Head Groceries & Lifestyle Blibli, Helmy Herman, Regional Account DIrector, Worldpanel Division, Kantar Asia serta Yukka Harlanda, CEO Brodo.
Lebih lanjut Helmy Herman, Regional Account DIrector, Worldpanel Division, Kantar Asia mencontohkan, dalam sektor FMCG, lebih dari 50% konsumen berbelanja di lebih dari empat saluran, mencakup baik saluran offline maupun online. Hal ini mengindikasikan bahwa tren omnichannel akan terus berkembang, terutama seiring meningkatnya akses internet di berbagai daerah.
Perlindungan Produk Lokal
Teten Masduki, Menteri Koperasi dan UKM Indonesia mengungkapkan keragaman produk UMKM semakin diakui dan diapresiasi oleh masyarakat Indonesia. Pemerintah telah mengambil berbagai langkah untuk mendukung dan melindungi UMKM di Indonesia, termasuk dukungan konsisten terhadap kampanye “Bangga Buatan Lokal,” dengan alokasi sebesar 40% dari anggaran pemerintah untuk pembelian produk lokal.
Selain itu, upaya perlindungan UMKM juga terwujud melalui peraturan yang jelas, mencakup aspek teknologi, platform, dan jenis distribusi. Melalui platform e-commerce resmi, UMKM dapat menjangkau konsumen lebih luas, meningkatkan popularitas produk, dan membuka peluang baru.
“Kombinasi saluran offline yang menarik perhatian konsumen saat melihat produk secara langsung dengan kehadiran online dapat signifikan meningkatkan pendapatan para UMKM.”
Dinamika Kebutuhan Konsumen
Sebagai platform e-commerce yang mendukung perkembangan produk lokal, Fransisca Krisanti Nugraha selaku Group Head Groceries & Lifestyle Blibli berpendapat, dalam menghadapi dinamika pasar, terutama dengan perubahan tren konsumen di Indonesia yang terus berubah.
“Kami memahami bahwa keinginan berbelanja secara offline kembali meningkat seiring berjalannya waktu.”
Hal ini sejalan dengan semangat ‘Simplify to Amplify’ Blibli sebagai pelopor ekosistem perdagangan omnichannel dan gaya hidup terintegrasi. Blibli berkomitmen untuk terus berinovasi dalam memberikan pengalaman belanja yang mudah, aman, dan relevan dengan berbagai preferensi online maupun offline tanpa tipu-tipu.
“Blibli akan terus memberikan dukungan maksimal untuk produk lokal agar dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat Indonesia.” ujarnya.
Melihat Langsung Barang
Dimas Harry Priawan, Co-founder & CEO Dekoruma berpendapat bahwa tren yang sama berlaku pada industri furnitur dimana kebiasaan konsumen tetap membutuhkan rasa kepercayaan yang lebih dalam menentukan produknya.
“Kami mengadopsi strategi omnichannel untuk memperluas penjualan sebagai respons terhadap permintaan konsumen yang menginginkan pengalaman langsung dalam melihat dan merasakan produk furnitur kami sebelum melakukan pembelian,” terangnya.
“Karena untuk kualitas, material dan kenyamanan sangat sulit sekali didapatkan dari online saja. Selain itu, dengan tujuan mengembangkan bisnis di luar kota-kota besar, kehadiran saluran offline tetap krusial karena penetrasi online dan e-commerce masih belum sekuat di daerah-daerah tersebut,” tambah Dimas Harry Priawan.
Dekoruma, lanjut Dimas, menerapkan pengalaman berbelanja yang terintegrasi. Pada tahap pertimbangan, Dekoruma hadir di platform online untuk memberikan inspirasi melalui berbagai gambar sehingga pelanggan dapat merujuk pada referensi. Kemudian, pada tahap akhir (below the line), pelanggan dapat mengunjungi Dekoruma Experience Center untuk melihat langsung sampel produk.
Di saluran online, Ia memberikan rekomendasi produk non-furnitur, seperti aksesoris, sesuai dengan preferensi pelanggan setelah mereka melakukan pembelian furnitur. Oleh karena itu, baik saluran online maupun offline memiliki peran yang signifikan dalam rangkaian pengalaman berbelanja.
Mengikuti Perilaku Pelanggan
Yukka Harlanda, CEO Brodo mengutarakan, tak dapat dipungkiri bahwa perubahan perilaku pelanggan menuntut pengalaman berbelanja yang mulus dan interaktif dengan merek favorit mereka, di mana pun dan kapan pun.
“Brodo, sebagai merek yang berasal dari dunia digital dan sedang meluaskan keberadaannya ke dunia offline, menyadari potensi besar yang ada di depan kami. Kami yakin bahwa setiap saluran, baik online maupun offline, memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing, yang membuatnya saling melengkapi.”
Filosofinya, lanjut Yukka Harlanda yakni “Treat customers like a bro(sis),” mendorong usaha untuk mengidentifikasi data setiap pelanggan yang datang baik secara online maupun offline, dan dapat melayani mereka secara personal sesuai dengan preferensi masing-masing.
“Dengan populasi Indonesia yang besar, terutama di kalangan muda dengan kelas menengah yang terus berkembang, pendapatan yang meningkat, dan minat yang tinggi dalam dunia mode, potensi ekspansi menjadi sangat menjanjikan. Strategi omnichannel menjadi pilihan yang menarik untuk memenuhi berbagai preferensi berbelanja konsumen Indonesia.” tutur Yukka Harlanda, CEO Brodo.
Tren ‘Omnichannel’
Helmy Herman kembali menengaskan, tren omnichannel di masa depan akan didukung oleh beberapa faktor kunci. Pertama, peningkatan penggunaan internet di daerah pedesaan, didukung oleh infrastruktur pemerintah yang semakin berkembang. Kedua, penyebaran luas pembayaran berbasis mobile yang memudahkan konsumen dalam berbelanja.
Ketiga, perkembangan pesat produk lokal, yang sering memulai eksistensinya secara online sebelum membuka toko offline. Keempat, pengalaman berbelanja menjadi semakin penting baik di kanal online maupun offline, mengingat keduanya menawarkan pengalaman yang berbeda. Terakhir, dorongan dari Gen-Z yang menjadi pendorong utama berkembangnya omnichannel.
“Generasi ini memiliki keahlian digital namun tetap menghargai pengalaman berbelanja offline untuk konten yang mereka hasilkan. Semua faktor ini bersama-sama membentuk pendorong utama bagi pertumbuhan omnichannel di masa mendatang.”//







































