www.bisnistoday.co.id
Selasa , 30 Juni 2026
Home EKONOMI Perbankan & Asuransi Kenaikan Suku Bunga untuk Menjaga RI dari Resiko Ekonomi Global
Perbankan & Asuransi

Kenaikan Suku Bunga untuk Menjaga RI dari Resiko Ekonomi Global

Kebijakan BI menaikkan suku bunga acuan menjadi 6,00 persen untuk menjaga Indonesia dari resiko ekonomi global
Social Media

JAKARTA, Bisnistoday – Kebijakan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 6,00 persen untuk menjaga Indonesia dari resiko ekonomi global. Pasalnya, perekonomian global menunjukkan kinerja pertumbuhan yang melambat serta ketidakpastian yang semakin meningkat.

“Yang menjadi perhatian adalah aliran modal asing yang masuk dan risk appetite yang berubah.  Ini mendorong readjustment potofolio global yang secara keseluruhan memberikan tekanan depresiasi cukup besar. Nah faktor ini yang ingin kami mitigasi segera,” kata Kepala Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Firman Muchtar pada acara BNI Investor Daily Summit 2023 di Jakarta, Selasa (24/10).

Firman menjelaskan perlambatan ekonomi global turut dibarengi dengan divergensi yang makin melebar. Perekonomian Amerika Serikat yang diperkirakan melandai justru menunjukkan penguatan dari sisi permintaan domestik.

Sementara itu, China yang diharapkan bergerak membaik seiring dengan pelepasan restriksinya, justru menunjukkan perkembangan ekonomi yang terus menurun.

Pada saat yang sama, terjadi eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada peningkatan harga energi serta kenaikan harga pangan. Gejolak pada kedua komoditas strategis tersebut berpotensi mempengaruhi kinerja perekonomian domestik.

BI juga turut mempertimbangkan kebijakan moneter Amerika Serikat yang diperkirakan masih bertahan dengan suku bunga yang tinggi hingga semester pertama 2024.

“Ini penting, bagaimana situasi defisit fiskal mereka yang membengkak akan membutuhkan bond yang lebih banyak dan pada gilirannya meningkatkan imbal hasil dari dolar AS, sehingga divergensi makin melebar,” kata Firman.

Sejumlah kondisi tersebut diperkirakan akan memicu risk appetite dari para investor, sehingga mereka mengalihkan portofolio. Kekhawatiran lain yang muncul adalah kurs dolar AS menguat secara global, sehingga negara-negara berkembang makin mengalami tekanan depresiasi yang besar.

“Gambaran global ini menjadi perhatian kami, karena akan mempengaruhi bagaimana ketahanan sektor eksternal kita. Kami mengambil langkah pencegahan agar kondisinya tidak semakin berlanjut dan melebar, sehingga bisa tetap menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen pada 2023 dan tetap solid pada 2024,” ujar Firman.

Sebelumnya, Deputi Gubernur BI, Juda Agung mengatakan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu panjang atau higher for longer diperlukan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dalam negeri di tengah gejolak perekonomian di tingkat global.

Ia mengatakan, di tengah belum berakhirnya krisis akibat perang Ukraina dan Rusia saat ini, dunia dihadapkan pada konflik di Timur Tengah antara Hamas dan Israel, yang memberikan ancaman kenaikan harga pangan dan energi, dan akan menyebabkan kenaikan inflasi di tingkat global.

“Ini harus direspons dengan kebijakan moneter yang mendorong tetap tingginya suku bunga di global higher for longer, ujar Juda.

Baca juga: Antisipasi Naiknya Infasi, BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 3,75 Persen

Tidak hanya itu, lanjutnya, Amerika Serikat (AS) saat ini memerlukan berbagai macam pendanaan untuk mem-backup perang yang terjadi di Rusia maupun Timur Tengah, sehingga mendorong pembiayaan politik dan keamanan negara tersebut, yang akan mendorong kenaikan yield suku bunga mereka.

“Dalam satu dua bulan terakhir, volatilitas arus modal sangat tinggi, dan dampaknya kepada pelemahan kurs secara global. Karena yield AS meningkat, terjadi strong dollar, sehingga mata uang negara lain volatilitasnya tinggi,” ujar Juda.

Tak Berdampak Signifikan

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, Royke Tumilaar berpendapat, kenaikan suku bunga acuan BI menjadi 6 persen seharusnya tidak berdampak signifikan karena krisis global yang berlangsung memberikan indikasi naiknya suku bunga ke level tinggi, yang kemungkinan juga akan bertahan cukup panjang. Sementara BI sudah lama menahan suku bunga di level 5,75 persen.

“Seharusnya masyarakat sudah tahu bahwa ada kecenderungan tren suku bunga akan naik, sehingga saya rasa ini bukan sesuatu yang masalah di banyak sektor, karena antisipasi itu sudah dimulai,” ujar dia.

Royke mengaku dari sisi BNI tidak membatasi sektor yang menjadi cakupan perbankan di tengah situasi perekonomian saat ini. Dia mengatakan, alih-alih berfokus pada sektor, BNI lebih berfokus pada risiko kredit tiap nasabah.

“Kami tidak melihat saat ini ada sektor bermasalah, semua sektor sama bagusnya. Tinggal bagaimana kami memilih customer yang baik,” tutur Royke./

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Perbankan & Asuransi

BRI Percepat Transformasi Digital Lewat BRImo dan QRIS

BANDUNG, Bisnistoday - Masyarakat Indonesia kini semakin akrab dengan transaksi digital. Mulai...

Bank Jakarta
Perbankan & Asuransi

Bank Jakarta Raih Tiga Penghargaan pada 23rd Infobank-MRI Banking

JAKARTA, Bisnistoday– Bank Jakarta kembali menorehkan prestasi dengan meraih tiga penghargaan dalam...

Bank DKI
Perbankan & Asuransi

PWI Jaya & Bank Jakarta Hadirkan Kategori Khusus Literasi Keuangan Dalam Lomba Karya Tulis Jurnalistik MH Thamrin 2026

JAKARTA, Bisnistoday - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya bersama Bank Jakarta menghadirkan...

Bank DKI
Perbankan & Asuransi

Pemprov DKI Jakarta dan Bank Jakarta Raih Penghargaan pada Cita Loka Fest 2026

JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Bank Jakarta meraih penghargaan...