JAKARTA, Bisnistoday – Peluncuran buku mengenai Ibu Kota Negara Nusantara, dinilai cukup relevan ditengah ramainya pemelesetan informasi tentang Ibu Kota Negara. Hal ini diutarakan, Andrinof Chaniago saat acara Launching buku berjudul: “ 9 alasan dan 8 harapan Memindahkan Ibu Kota” yang ditulis oleh Andrinof A Chaniago, dan M Jehansyah Seregar di Auditorium, Kementeriaan PUPR, Jakarta, Rabu (14/8).
“Perlu dengan data yang valid untuk menjelaskan secara logis dan obyektif kenapa perlu memindahkan ibukota ke Kaltim. Buku ini, tentu bekal menjadi bahan menarik banyak orang untuk menepis isu, yang selama ini ditanggapi berbagai media, atau perlu meluruskan secara ilmiah dan obyektif,” katanya.
Andrinof mengakui selama proses pemindahan ibukota ke IKN, tentu banyak kritik, rumor, dan isu-isu lain. Tujuan pemindahan ibukota dibahas publik secara berlebihan, malah membuat IKN makin melebar atau cenderung melenceng ke hal tertentu.
“Salah satu contoh bahwa pembangunan IKN dinilai lebih cenderung bisnis murni. Padahal, pembangunan IKN memiliki fungsi menggerakkan ekonomi wilayah, bukan menjadi Kawasan Ekonomi Ekslusif.”
Buku ini, tegas Andrinof, bisa digunakan untuk penetralisir isu tentang IKN. Karena IKN sebagai prasarana dasar bantalan penggerak perdagangan, bisa menggerakkan atau sebagai epicentrum yang mendorong kawasan-kawasan dibawah penngusahaan Investor.
Alasan lainya, lanjut Andrinof, tekanan atau ledakan jumlah penduduk Bogor, Depok serta Jaksel, begitu tinggi. Menurut Andrinof, apa benar setelah pencanangan prasarana yang dibangun selesai, masalah banjir, dan macet terataasi sejenak, dan sudah terlupakan. Sebenarnya, bahwa banjir, macet serta polusi udara di Kota Jakarta sungguh cukup sulit dicegah.
Disisi lain, menurut Andrinof, sejatinya bahwa masalah banjir, macet dan polusi tidak mampu diimbangi dengan penyediaan sarana dan prasarana secara permanen. Dan begitupun, masalah sosial seperti gap (kesenjangan) kaya dan miskin sulit dicarikan penyelesaian. Karena itu, Adrinof menguculkan dengan cara mengurangi beban wilayah Jakarta karena tidak ada lagi obatnya.
“Seperti diketahui bahwa pertumbuhan daerah penyangga seperti Bogor, Bekasi, Depok mengalami permasalahan penduduk yang padat. Pertumbuhan wilayah penyangga ini sekitar 60-80 persen setiap tahunnya. “Karenanya, muncul persoalan, transportasi, sampah maupun polusi udaya serta kriminal lainnya.”
Pemindahan Ibu Kota, juga lanjut Andrinof akan memecah epicentrum pergerakan orang di Pulau Jawa. Dengan begitu, masalah musiman, arus balik, serta tingkat kecelakaan selama setahun dapat ditekan. “Muncul pemindahan ibuko setiap mudik lebaran, karena penghidupan mereka di Jabotabek. Padahal arus mudik, menelan biaya dan nyawa orang sekitar 1.000-an manusia melayang.”
Selain itu, tambah Andrinof, bahwa luasan lahan pertanian di Pulau Jawa lebih optimal digarap petani. Di Pulau Jawa juga terjadi alih fungsi lahan ribuan hektare yang menggerus kemandirian pangan nasional. “Jadi, kita mendorong penyebaran transporatasi tidak terpusat di Pulau Jawa.”/







































