Jakarta, BisnisToday – Komal (Kolaborasi Masal) Garuda di Hati menggaungkan dua opsi keras terhadap pelatih Timnas Indonesia U17, Nova Arianto: dipecat atau dievaluasi.
Pilihan itu mencuat setelah Nova gagal membawa Timnas U17 menjuarai Piala Kemerdekaan 2025.
Nova dinilai tidak pernah mengevaluasi diri, terutama dalam skema dan pola permainan yang terlalu monoton sehingga berujung kegagalan.
Kritik deras mengalir, mulai dari kualitas individu pemain hingga hasil uji coba yang dianggap belum meyakinkan menjelang Piala Dunia U17.
“Boleh saja Coach Nova diganti, asal jangan downgrade. Kalau pelatih lokal kualitasnya sama saja, untuk apa?” ujar Dede Akmero dalam sebuah diskusi.
Menurut Dede, ada dua nama yang layak menggantikan Nova, yaitu Indra Sjafri dan Simon Tahamata.
Kritik untuk Nova
Gagasan mengganti Nova awalnya mencuat dari komentar warganet. Pemilik akun @Obrien menilai, latar belakang Nova sebagai mantan pemain belakang membuatnya lebih cenderung berpikir defensif.
“Bagaimana kalau didampingi Ponario atau Bima Sakti? Pertanyaannya, bisa sinergi atau tidak?” katanya.
Obrien menambahkan, pengalaman Bima Sakti, Kurniawan Dwi Yulianto, dan Indra Sjafri saat SEA Games bisa dijadikan contoh paket komplet kepelatihan.
“Untuk lini belakang, saya percaya Nova bagus. Tapi pendekatannya di lini tengah masih perlu dikoreksi,” lanjutnya.
Contoh nyata terlihat ketika Timnas U17 menghadapi Mali di Stadion Sumatera Utara, Senin 18 agustus 2025.
Nova gagal menunjukkan kemampuannya meracik tim. Meski publik sadar, kelompok usia U17 memang masih tahap pembinaan, kelemahan di lini tengah tetap jadi sorotan.
Muhamad Zahaby Gholy, misalnya, yang lahir pada 5 Desember 2008, memiliki potensi besar. Namun, saat melawan Mali ia tak mampu berbuat banyak karena minim suplai dari lini tengah—yang sejatinya menjadi jantung pertahanan sekaligus serangan.
“Nova harus didampingi sosok yang bisa menutupi kekurangannya dalam kepelatihan,” tegas Obrien.
Kritik serupa datang dari Dede Akmero. Ia menilai strategi Nova terlalu mengedepankan fisik.
“Padahal kaki hanya alat. Dalam sepak bola modern, kecerdasan bermain jauh lebih penting,” katanya.
Ia pun menegaskan, evaluasi Nova sangat krusial jelang Piala Dunia U17.
“Kalau tidak, Timnas kita hanya akan jadi tim pelengkap,” ujarnya.
Fenomena Titisan STY
Fenomena “Titisan STY” juga ikut menyeret Nova Arianto. Julukan itu muncul lantaran ia pernah menjadi asisten Shin Tae-yong di Timnas senior.
Publik pun berharap Nova otomatis mewarisi kualitas sang pelatih asal Korea Selatan.
Namun label itu justru menjadi beban. Nova kerap dipandang sekadar perpanjangan tangan STY, bukan pelatih dengan identitas dan taktik sendiri.
“Stempel titisan itu malah jadi masalah. Padahal dia punya pengalaman sebagai pemain maupun pelatih,” kata pemilik akun @gue_ipul.
Padahal, posisi asisten dan pelatih kepala jelas berbeda. Asisten fokus pada detail latihan, sementara pelatih kepala bertanggung jawab penuh pada strategi besar, membaca pertandingan, dan mengelola ekspektasi publik.
Fenomena “titisan STY” akhirnya membuat Nova terjebak bayang-bayang.
Alih-alih diberi ruang untuk menemukan gaya kepelatihan sendiri, ia terus dibandingkan dengan sosok yang lebih berpengalaman dan berkarisma.
“Nova butuh keluar dari bayang-bayang itu. Ia bukan STY dan tak seharusnya dipaksa menjadi kloningan,” tegas @gue_ipul.
Meski demikian, ia menilai evaluasi tetap wajib dilakukan.
“Pertanyaannya sekarang, apakah Nova benar-benar punya rencana jelas dalam membangun Timnas U17, atau hanya melanjutkan pola lama tanpa inovasi?” pungkasnya.

