JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah meninginkan infrastruktur raksasa seperti Tol Trans Sumatera tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi, tetapi juga menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan di Pulau Sumatra. Pemerintah bersama PT Hutama Karya (Persero) mematangkan langkah strategis untuk mengoptimalkan ruas-ruas Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS).
Plt. Asisten Deputi Pemerataan Pembangunan dan Pengembangan Wilayah I Kemenko IPK, Syahrudin, menegaskan bahwa JTTS harus diposisikan sebagai tulang punggung konektivitas Sumatra. Menurutnya, pengembangan kawasan di sepanjang koridor tol menjadi kunci agar ruas-ruas yang telah terbangun semakin produktif.
“Melalui pengembangan wilayah di sepanjang koridor, kita harapkan lahir pusat-pusat ekonomi baru. JTTS akan menjadi pengungkit kegiatan ekonomi, sekaligus didukung oleh tumbuhnya aktivitas ekonomi di sekitarnya,” ujarnya dalam forum yang digelar, di Jakarta, baru-baru ini.
Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Sinkronisasi Kebijakan dan Fasilitas Pemerintah terhadap Pembangunan Wilayah melalui Pengusahaan Jalan Tol Trans Sumatra (JTTS)” yang digelar Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko IPK) bersama Hutama Karya di Jakarta. Forum lintas kementerian dan lembaga ini membahas strategi optimalisasi ruas tol yang telah beroperasi sekaligus arah kelanjutan pembangunan JTTS sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN)
Pembangunan JTTS sendiri merupakan bagian dari agenda jangka panjang pemerintah, mulai dari MP3EI 2011- 2025, RPJMN 2014–2024, hingga RPJMN 2025–2029. Infrastruktur ini juga selaras dengan agenda Asta Cita Presiden, khususnya dalam penguatan ketahanan pangan, energi, dan hilirisasi industri, dengan target kontribusi pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen pada 2029
Sebagai BUMN yang mendapat penugasan pengusahaan JTTS, Hutama Karya menegaskan pentingnya keberlanjutan pembangunan agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara maksimal. Wakil Direktur Utama Hutama Karya, Moeharmein Zein, menyebut bahwa konektivitas antarruas yang utuh akan berdampak langsung pada peningkatan output ekonomi, pendapatan masyarakat, serta penyerapan tenaga kerja di Sumatra.
Berdasarkan penugasan pemerintah, total panjang JTTS yang direncanakan mencapai 2.848 kilometer dan dibagi dalam empat tahap pembangunan. Hingga November 2025, sekitar 987,74 kilometer ruas JTTS telah terbangun dan beroperasi, termasuk yang dikelola melalui anak usaha Hutama Karya
Dampak ekonomi proyek ini juga tercermin dalam kajian CORE Indonesia (2024) yang mencatat bahwa JTTS berkontribusi pada penambahan output sektoral di Sumatra sebesar Rp924,39 triliun, peningkatan pendapatan rumah tangga Rp182,33 triliun, serta penciptaan sekitar 3,9 juta lapangan kerja. Selain itu, jalan tol ini menurunkan biaya logistik melalui efisiensi waktu tempuh dan biaya perjalanan
Meski demikian, Hutama Karya mengakui masih terdapat tantangan serius, mulai dari pembebasan lahan, skema pembiayaan, dampak sosial, hingga kepastian regulasi akibat perubahan daftar PSN. Karena itu, harmonisasi kebijakan antar kementerian/lembaga serta dukungan pemerintah daerah dalam penataan ruang dinilai menjadi faktor penentu keberhasilan JTTS ke depan.//


