JAKARTA, Bisnistoday – Israel telah mendeportasi ratusan aktivis asing yang diculik oleh pasukan Israel yang menyerbu armada bantuan Gaza awal pekan ini, menyusul kecaman internasional atas perlakuan terhadap mereka dalam tahanan.
Di Turki, puluhan peserta armada tiba di bandara Istanbul sepanjang Kamis (22/5/2026), beberapa aktivis mengenakan keffiyeh dan mengangkat jari mereka sebagai tanda perdamaian, termauk 9 di antaranya dari Indonesia. Kerumunan pendukung yang mengibarkan bendera Palestina menyambut mereka.
Turki telah mengevakuasi 422 orang dengan penerbangan sewaan, termasuk 85 warga negaranya sendiri, dan mengerahkan dokter dan ambulans untuk merawat para peserta.
Kementerian Luar Negeri Prancis mengatakan kelompok aktivis tersebut termasuk 37 warga negara Prancis. Beberapa aktivis Spanyol tiba di Madrid pada Kamis malam dari Turki, sementara Yordania mengkonfirmasi bahwa dua warga negaranya telah kembali ke rumah melalui penyeberangan selatan dengan Israel.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmorstein, sebelumnya mengatakan bahwa semua aktivis asing dari armada PR telah dideportasi. “Israel tidak akan mengizinkan pelanggaran apa pun terhadap blokade laut yang sah di Gaza,” tambahnya.
Pusat hukum untuk hak-hak Palestina di Israel, Adalah, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa sebagian besar dari sekitar 430 aktivis yang diculik dideportasi dari bandara Ramon di Israel selatan, dan sisanya dari bandara Ben Gurion di Tel Aviv.
Julien Cabral, seorang warga Belgia berusia 57 tahun yang berpartisipasi dalam pelayaran armada pertamanya, tiba di Istanbul dengan mata bengkak dan luka di pelipis kirinya. Kepada AFP ia mengatakan itu akibat pukulan dari seorang marinir Israel yang menyerang kapalnya yang berkapasitas tujuh orang.
“Saya mendengar mereka berkata dalam bahasa Inggris, ‘Mari kita bersenang-senang’,” katanya.
Cabral mengungkapkan para aktivis ditampar, dilecehkan secara verbal, dan dipaksa untuk mengemis makanan, air, dan produk sanitasi di setiap tahap proses penahanan. Otoritas Israel juga menolak untuk mengizinkan para korban luka menemui dokter, katanya.
Alessandro Mantovani, seorang jurnalis Italia yang ditahan bersama para aktivis dan dideportasi sebelum yang lain, mengatakan kepada wartawan di Roma bahwa dia dan yang lainnya dibawa ke bandara Ben Gurion dengan borgol dan rantai di kaki sebelum diterbangkan ke Athena.
Pasukan Israel memukuli kami. Mereka menendang dan memukul kami serta meneriakkan ‘Selamat datang di Israel’,” katanya.
Kecaman Internasional
Insiden penculikan ini terjadi pada Selasa malam lalu, ketika pasukan Israel menyelesaikan pencegatan terakhir dari lebih dari 50 kapal Armada Global Sumud saat mereka berlayar menuju Gaza di perairan internasional.
Serangan Israel mendapat kecaman termasuk oleh menteri luar negeri dari 10 negara. Spanyol, Brasil, dan India, menyebut tindakan pasukan Israel sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan hukum humaniter internasional.
Perlakuan Israel terhadap para aktivis tersebut juga dikecam oleh beberapa sekutu utama mereka.
Kritik tersebut muncul setelah Menteri Keamanan Nasional sayap kanan Itamar Ben-Gvir mengunggah video di X pada hari Rabu yang memperlihatkan dirinya mengejek para aktivis yang berlutut di lantai dengan tangan terikat di belakang punggung.
Sebagai tanggapan, beberapa negara, termasuk Prancis, Kanada, Spanyol, Portugal, dan Belanda, memanggil duta besar Israel ke ibu kota mereka untuk menyatakan kemarahan mereka. Sementara itu, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa mengatakan dia terkejut dengan perilaku Ben-Gvir, menyebutnya “sama sekali tidak dapat diterima”.
Italia telah menuntut permintaan maaf dari Israel. Menteri Luar Negeri Antonio Tajani menghubungi kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas, meminta agar sanksi terhadap Ben-Gvir dibahas pada pertemuan menteri luar negeri UE.
Perilaku Ben-Gvir juga mendapat teguran dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
“Israel memiliki hak penuh untuk mencegah armada provokatif pendukung teroris Hamas memasuki perairan teritorial kami dan mencapai Gaza. Namun, cara Menteri Ben-Gvir menangani para aktivis armada tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai dan norma-norma Israel,” kata Netanyahu.//

