BANDUNG, Bisnistoday – SPOGOMI Bandung 2026 menjadi ruang kolaborasi bagi generasi muda untuk belajar tentang sustainability lewat aksi nyata.
Digelar di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Bandung, kegiatan ini menggabungkan olahraga, edukasi, dan aksi lingkungan untuk menumbuhkan budaya peduli sampah yang dimulai dari kebiasaan sehari-hari.
Upaya membangun masa depan yang lebih berkelanjutan memang tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan keterlibatan berbagai sektor, mulai dari industri, institusi pendidikan, komunitas, hingga generasi muda untuk menciptakan perubahan yang nyata dan berkelanjutan. Semangat itulah yang menjadi dasar penyelenggaraan SPOGOMI Bandung 2026.
Tidak hanya menghadirkan kompetisi memungut sampah yang menjadi ciri khas SPOGOMI, kegiatan ini juga menghadirkan panel diskusi bertajuk “Circular Future: Peran Generasi Muda dalam Ekosistem Pengelolaan Sampah Berkelanjutan.”
Chief Human Resources Officer AEON Delight Indonesia, Claudya Eterina Purba, mengatakan bahwa sustainability harus dimulai dari perubahan kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
“Sustainability bukan hanya tentang bagaimana kita mengelola sampah, tetapi tentang bagaimana kita membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Langkah sederhana seperti memilah sampah, membawa tas belanja sendiri, dan menggunakan tumbler dapat menjadi awal perubahan besar,” ujarnya, dikutip dalam keterangan resmi, Senin (25/5/2026).
Dalam diskusi ini, peserta diajak memahami bahwa persoalan sampah tidak berhenti pada tahap pembuangan saja.
Pengelolaan sampah perlu dimulai sejak dari sumbernya, mulai dari kebiasaan memilah sampah, mengurangi penggunaan material sekali pakai, hingga membangun kesadaran bahwa sampah masih memiliki nilai melalui konsep circular economy.
Sebagai perusahaan integrated facility management, AEON Delight Indonesia turut membagikan perspektif mengenai tantangan sustainability yang ditemui dalam operasional sehari-hari.
Dimana sebagian besar sampah yang dihasilkan di berbagai fasilitas dan gedung masih berasal dari aktivitas rutin seperti kemasan sekali pakai, botol plastik, dan sisa makanan.
Menurut Claudya, generasi muda memiliki peran penting dalam membentuk budaya baru yang lebih sadar lingkungan. Karena itu, SPOGOMI diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang edukasi yang mampu menularkan semangat sustainability kepada masyarakat luas.
Mulai dari Kebiasaan Kecil
Sementara itu, Chief Operating Officer AEON Delight Indonesia, Ruliyanti Setiawan, budaya baik peduli lingkungan Spogami ini bisa berlanjut.
“Yang kami harapkan adalah ketika kebiasaan baik ini dilakukan terus-menerus, nantinya bisa menjadi budaya baru yang positif untuk Indonesia. Persoalan sampah saat ini sudah semakin serius, sehingga dibutuhkan kesadaran bersama untuk mulai melakukan perubahan dari hal-hal kecil,” ujarnya.
Menurut Ruliyanti, persoalan sustainability tidak hanya terletak pada bagaimana sampah dikelola setelah dibuang, tetapi juga bagaimana masyarakat mulai mengurangi dan memilah sampah sejak awal.
Ia menilai kebiasaan sederhana seperti membawa tas belanja sendiri dan menggunakan tumbler dapat menjadi langkah kecil yang memberikan dampak besar apabila dilakukan secara konsisten.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam membangun budaya baru yang lebih sadar lingkungan.
Karena itu, SPOGOMI tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang edukasi untuk menumbuhkan kesadaran kolektif di tengah masyarakat.
Kolaborasi antara industri, institusi pendidikan, komunitas, dan generasi muda diharapkan mampu menjadi langkah awal untuk membangun ekosistem yang lebih bersih, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.E2


