CIBUBUR, Bisnistoday – CEO Faunaland Danny Gunalen, menegaskan kebun binatang modern tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat rekreasi untuk melihat satwa, tetapi juga harus mampu menjalankan fungsi konservasi, edukasi, dan animal welfare secara seimbang.
Hal tersebut disampaikan Danny dalam kegiatan Faunaland Media Experience di Faunaland Buperta Cibubur, kawasan konservasi urban terbaru milik Faunaland yang akan mulai beroperasi pada Juni 2026.
Menurut Danny, perubahan pola pikir masyarakat terhadap pengelolaan satwa menjadi tantangan sekaligus peluang bagi lembaga konservasi untuk berkembang lebih baik.
Baca Juga: Kolaborasi Lintas Pihak, Kesehatan Satwa Bandung Zoo Dipastikan Terkendali
Baca Juga:Vantara Dukung Pemeriksaan Kesehatan Satwa Bandung Zoo
“Masyarakat sekarang tidak hanya datang untuk melihat satwa, tetapi juga ingin mengetahui bagaimana satwa dirawat dan bagaimana lembaga konservasi dijalankan secara bertanggung jawab. Menurut kami, ini perkembangan yang sangat positif,” ujar Danny, Senin (11/5/2026).
Ia menilai pengelolaan kebun binatang modern harus mampu menyeimbangkan aspek konservasi, kesehatan satwa, edukasi, dan keberlanjutan operasional agar dapat berjalan dalam jangka panjang.
Terkait proses pemilihan pengelola baru Kebun Binatang Bandung yang saat ini tengah diikuti Faunaland, Danny menekankan pentingnya passion dan kecintaan terhadap satwa bagi siapapun yang nantinya dipercaya mengelola lembaga konservasi.
“Siapapun yang mengelola kebun binatang harus memiliki passion terhadap satwa. Karena pengelolaan lembaga konservasi bukan sekadar bisnis, tetapi juga tanggung jawab terhadap kesejahteraan satwa dan keberlangsungan konservasi,” katanya.
Danny juga menegaskan keberhasilan kebun binatang modern dapat dilihat dari kontribusinya dalam program pengembangbiakan hingga pelepasliaran satwa ke habitat alami.
“Pengelolaan kebun binatang yang baik adalah ketika lembaga konservasi mampu mengembangbiakkan satwa dan apabila memungkinkan dapat melakukan pelepasliaran kembali ke habitat alaminya,” ujarnya.
Faunaland sendiri aktif menjalankan berbagai program konservasi bersama Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, termasuk pelepasliaran Kura Leher Ular Rote dan Kucing Emas.
Selain fokus pada konservasi, Faunaland juga mengembangkan pendekatan edukasi melalui konsep Children Safari Experience yang menggabungkan interaksi satwa, pembelajaran, dan family experience.
“Kami percaya konservasi jangka panjang membutuhkan keterlibatan masyarakat dan generasi muda. Karena itu edukasi dan pengalaman interaktif menjadi sangat penting,” tambah Danny.
Faunaland Buperta Cibubur saat ini dikembangkan di atas lahan seluas 10 hektar sebagai bagian dari pengembangan kawasan konservasi urban Faunaland Group dan akan mulai beroperasi penuh pada Juni 2026.
Selain mengelola kawasan konservasi, Faunaland juga aktif membangun kolaborasi dengan pemerintah, lembaga keilmuan, serta jaringan konservasi nasional dan internasional untuk memperkuat program konservasi dan animal welfare.
“Kebun binatang modern bukan hanya tentang menghadirkan satwa, tetapi juga bagaimana membangun kepedulian masyarakat terhadap konservasi dan biodiversity secara lebih bertanggung jawab,” tutup Danny.E2







































