BANDUNG, Bisnistoday – Tidak semua pelaku usaha kopi memulai bisnisnya karena hobi ngopi.
Hal itulah yang dialami Erwin, pemilik Kedai Kopi Erky atau RKI, yang justru mengaku awalnya tidak menyukai kopi.
Berawal dari kesulitan mencari pekerjaan usai keluar dari tempat kerja pada 2019, Erwin mencoba merintis usaha kecil pada akhir 2020.
Awalnya, ia ingin membuka bengkel, namun terkendala modal yang cukup besar.
“Awalnya pengin buka bengkel, tapi ternyata kopi lebih murah daripada bikin bengkel,” ujar Erwin sambil tertawa, Jumat (15/7/2026).
Dari situlah ia mulai mencoba membuka kedai kopi kecil-kecilan. Terinspirasi dari tren coffee shop yang saat itu mulai ramai di Bandung, Erwin belajar secara otodidak dari teman-temannya yang lebih dulu memiliki usaha kopi.
“Awalnya aku juga enggak suka kopi. Tapi lama-lama jadi tahu ternyata kopi itu banyak rasanya, bukan pahit doang,” katanya.
Dengan modal di bawah Rp100 juta, Erwin mulai membangun bisnisnya. Kini, usaha yang dirintisnya telah berjalan memasuki tahun keempat.
Sempat Merasa Tersesat
Dalam perjalanannya, Erwin mengaku sempat merasa tersesat, atau salah jalan, karena saat memulai bisnis belajar bisnis kopi. Ia terlalu banyak belajar dari coffee shop besar dengan modal miliaran rupiah, sementara usahanya sendiri dimulai dari skala UMKM.
“Aku dulu bergurunya ke coffee shop yang modal awalnya miliaran. Harusnya belajar ke yang budget-nya sesuai sama yang kita punya, yang puluhan juta,” ungkapnya.
Kesalahan itu membuatnya menyadari bahwa strategi bisnis skala besar tidak selalu cocok diterapkan pada usaha kecil.
“Kalau punya modal miliaran, kreativitas dan ruang geraknya tentu beda. Kalau modal cuma Rp50 juta, harusnya belajar dari yang memang merintis dari angka segitu,” ujarnya.
Meski begitu, berbagai jatuh bangun justru menjadi proses pembelajaran penting baginya.
“Tahun pertama ego masih tinggi, enggak mau dengar masukan. Tahun kedua mulai sadar ternyata kita hidup dari customer. Akhirnya mulai belajar menyeimbangkan idealisme dengan kebutuhan pasar,” katanya.
Latar belakang Erwin yang berasal dari keluarga pegawai membuatnya harus belajar bisnis dari nol. Ia mengaku banyak belajar secara mandiri lewat buku, komunitas, pelatihan daring, hingga mengikuti berbagai program pembinaan UMKM.
“Awalnya ngerasa seperti di hutan, enggak tahu bisnis itu seperti apa,” katanya.
Perjalanannya membawanya mengikuti berbagai pelatihan dari dinas, komunitas, hingga program pembinaan UMKM dari BRI dan pemerintah daerah.
Dari sana, Erwin mulai aktif mengikuti coaching, pameran, hingga perlombaan wirausaha.
“Alhamdulillah pernah masuk empat besar lomba manual brewing dan jadi perwakilan Jawa Barat untuk buka stan di kementerian,” ujarnya.
Ia juga sempat mengikuti pelatihan terkait standar produksi hingga pengelolaan rumah produksi yang layak untuk industri makanan dan minuman.
Meracik Kopi yang Ramah di Lambung
Menariknya, konsep kopi yang dikembangkan Kedai Kopi Erky justru lahir dari pengalaman pribadi Erwin yang memiliki masalah asam lambung.
Ia melakukan riset dan pengembangan selama hampir satu tahun sebelum akhirnya resmi membuka kedai pada 2022.
“Mikir gimana caranya bikin kopi yang lebih nyaman di lambung. Jadi orang yang punya masalah lambung juga tetap bisa ngopi,” katanya.
Kedai Kopi Erky kini dikenal dengan konsep kopi creamy yang lebih ramah di lambung. Selain itu, mereka juga mulai fokus mengangkat biji kopi asal Jawa Barat.
“Kami ingin ngangkat kopi Jawa Barat karena kualitasnya memang bagus. Sekarang fokus pakai biji dari Manglayang, Puntang, dan Halu,” jelasnya.
Menurut Erwin, setiap daerah memiliki karakter rasa berbeda tergantung proses pengolahan bijinya, mulai dari natural, full wash, hingga honey process.
Erwin juga mengaku banyak belajar tentang karakter pasar Bandung yang menurutnya unik.
Awalnya ia mengusung konsep kopi grab and go seperti coffee shop di Jakarta. Namun konsep tersebut ternyata kurang cocok diterapkan di Bandung.
“Budaya orang Bandung itu nongkrong. Jadi konsep grab and go enggak terlalu masuk. Akhirnya kami adaptasi layout dan menambah area duduk,” katanya.
Kini, Kedai Kopi Erky menawarkan berbagai menu mulai dari Rp18 ribu hingga Rp30 ribu.
Beberapa menu favorit pelanggan antara lain Butter Scotch, Matcha, Coklat, Kopi Aren, dan Kopi Karamel. Sementara untuk kopi hitam, Americano dan Espresso menjadi menu andalan.
UMKM Binaan BRI
Erwin mengaku program pembinaan UMKM dari BRI memberikan banyak manfaat bagi perkembangan bisnisnya.
Menurutnya, pelatihan dan coaching yang diberikan membantu membuka pola pikir baru dalam menjalankan usaha.
“Kalau punya bisnis tanpa ilmu itu susah. Dengan coaching dan pelatihan, kita jadi punya guideline,” ujarnya.
Melalui program Rumah BUMN BRI, ia mendapat berbagai pelatihan mulai dari manajemen, coaching bisnis, akses pameran, hingga jejaring dengan pelaku usaha lain.
“Yang paling terasa itu networking dan coaching-nya. Kita jadi ketemu orang-orang yang nyambung dan bisa diskusi soal bisnis,” katanya.
Selain itu, Erwin juga memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI untuk mendukung permodalan usahanya.
Menurutnya, program KUR sangat membantu pelaku UMKM karena menawarkan bunga yang relatif rendah dengan proses pengajuan yang cukup mudah.
“Untuk UMKM, KUR sangat membantu, terutama buat tambahan modal usaha. Bunganya ringan dan prosesnya juga cukup mudah,” ujarnya.
Ia menilai akses permodalan menjadi salah satu faktor penting agar UMKM bisa berkembang lebih cepat, terutama untuk pelaku usaha yang sedang merintis.
Dihubungi dalam kesempatan berbeda, Dewi Hestiningrum S, RCEO BRI Region 9, memastikan program KUR dapat tepat sasaran.
Dimana penyaluran KUR BRI dilakukan dengan pendekatan berbasis data dan pemetaan potensi ekonomi wilayah sehingga pembiayaan dapat tepat sasaran kepada pelaku UMKM yang benar-benar membutuhkan dukungan permodalan.
“Pertama, kami melakukan pemetaan potensi ekonomi wilayah secara cermat hingga ke tingkat kecamatan. Kedua, kami mengintegrasikan data melalui sistem Senyum sebagai platform terintegrasi Holding Ultra Mikro, sehingga rekam jejak nasabah dapat terbaca lebih komprehensif. Ketiga, kami memanfaatkan credit scoring berbasis analitik data untuk mempercepat proses penilaian kelayakan,” jelasnya.
Menurutnya, kombinasi tersebut memastikan KUR tersalurkan kepada UMKM yang produktif dan bankable, namun belum memiliki kecukupan agunan tambahan.
“Segmen inilah yang pada dasarnya paling membutuhkan dukungan permodalan,” pungkasnya.E2


