JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah Iran mengungkapkan pembicaraan tidak langsung antara pejabat Amerika Serikat dan Iran mengenai pencairan aset Iran senilai US$6 miliar akan dimulai kembali pada Rabu (Kamis WIB) di Doha, Qatar.
Kedua pihak belum bertemu kembali secara tatap muka sejak menandatangani kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz.
Utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner berada di Qatar pada Selasa untuk membicarakan isu-isu regional, termasuk gencatan senjata di Iran dan Lebanon, tetapi juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, menekankan bahwa pembicaraan tersebut dilakukan dengan mediator Qatar. “Mereka (delegasi AS) tidak berada di sini untuk negosiasi dengan Iran,” katanya, seperti dilansir Guardian.
Tim AS ingin mengetahui rincian rencana Iran yang akan mengenakan biaya tol di Selat Hormuz, dan bagaimana rencana tersebut terkait dengan proposal konsultasi yang diajukan oleh Oman yang akan memperkenalkan biaya untuk layanan navigasi.
Belum adanya pembicaraan langsung antara AS dan Iran mengenai cara mengimplementasikan nota kesepahaman yang ditandatangani pada 17 Juni, mencerminkan ketegangan di antara dua negara tersebut.
Iran berniat untuk mempertahankan kendali atas lalu lintas kapal tanker minyak komersial melalui Selat Hormuz, serta menentang usulan gencatan senjata di Lebanon yang dinegosiasikan oleh Israel, AS, dan pemerintah Lebanon pekan lalu.
Selat Hormuz
Pembicaraan antara Iran dan AS bahkan belum dimulai mengenai program nuklir Iran, meskipun tenggat waktu yang diberikan sejak penandatangananan damai pada 17 Juni lalu, hanya 60 hari.
Perundingan lanjutan tampaknya sulit setelah kedua pihak saling baku tembak di Selat Hormuz selama akhir pekan kemarin.
Secara teori, pembicaraan tersebut dapat diperpanjang melampaui batas waktu 60 hari, tetapi kemajuan yang lambat mulai mengkhawatirkan beberapa diplomat.
Berbicara pada konferensi pers di Teheran, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mewanti-wanti negara-negara Eropa seperti Prancis dan Inggris untuk tidak berusaha terlibat dalam pembersihan ranjau di Selat Hormuz.
“Campur tangan yang, meskipun dilakukan dengan niat baik, pada praktiknya hanya akan memperumit situasi,” katanya.
Negara-negara Barat keberatan dengan rencana Iran untuk mengenakan bea masuk bagi kapal komersial yang melewati selat tersebut, tetapi mungkin lebih terbuka untuk membahas rencana Oman mengenai kontribusi sukarela atau biaya yang dikenakan untuk layanan tertentu.
Negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengatakan di televisi pemerintah pada Selasa: “Kedaulatan Selat Hormuz berada di tangan Iran dan Oman, dan lalu lintas di selat tersebut tunduk pada pengaturan yang ditentukan oleh Iran.”
Ia menambahkan bahwa perjalanan bebas biaya melalui selat tersebut hanya berlaku selama 60 hari, sesuai dengan nota kesepahaman.
Organisasi Maritim Internasional PBB (IMO) mengadakan diskusi informal dengan Iran mengenai keberatan Teheran terhadap pembukaan jalur laut IMO melalui selat dekat Oman bersama dengan AS dan Oman.
Pada satu titik pekan lalu, IMO mengira telah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Luar Negeri Iran untuk jalur tersebut, tetapi Iran kemudian menyerang dua kapal, mungkin karena khawatir berkurangnya kendali atas selat tersebut.
Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez kemudian menangguhkan jalur tersebut untuk mengadakan pembicaraan dengan Iran.//





































