www.bisnistoday.co.id
Minggu , 5 Juli 2026
Home OPINI Gagasan Pengakuan Seorang Anak Tentang Kehidupan Keluarga Miskin Kota
Gagasan

Pengakuan Seorang Anak Tentang Kehidupan Keluarga Miskin Kota

Kemiskinan
POTRET Kemiskinan warga di bantaran sungai.
Social Media

SEJAK tahun 2021, ayah saya bekerja sebagai buruh harian lepas di Yogyakarta. Kota ini dikenal sebagai kota pendidikan dan sering disebut sebagai kota dengan biaya hidup yang murah. Banyak orang datang ke Yogyakarta untuk belajar, bekerja, atau sekadar menikmati suasana kotanya. Namun, bagi keluarga saya yang hanya bergantung pada penghasilan seorang buruh harian lepas, anggapan bahwa hidup di Yogyakarta itu murah terasa seperti lelucon belaka.

Bersama keluarga, kami tinggal di rumah kontrakan yang sederhana. Setiap bulan kami selalu dihantui pertanyaan yang sama: apakah bulan depan kami masih bisa tinggal di sini? Ayah bekerja tanpa kontrak, tanpa jaminan kesehatan, tanpa uang pensiun, bahkan tanpa kepastian apakah besok masih ada pekerjaan atau tidak. Kadang saya berpikir, rumah kami memiliki kontrak, tetapi pekerjaan ayah justru tidak.

Sudah lima tahun kami menjalani kehidupan seperti ini. Hari-hari kami dipenuhi rasa cemas. Saya selalu khawatir ketika ayah belum pulang hingga larut malam. Bukan karena beliau sengaja pulang terlambat, tetapi karena motor tua yang dipakainya bekerja sering mogok di jalan. Saya membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang bisa terjadi. Ketika suara motor akhirnya terdengar di depan rumah, rasanya seperti beban yang sejak sore saya pikul perlahan hilang.

Saya masih bisa menahan lapar, tetapi melihat adik saya bertanya, “Hari ini kita makan apa?” adalah rasa sakit yang tidak bisa saya ceritakan dengan kata-kata.

Keluarga kami sudah empat kali berpindah kontrakan. Alasan utamanya hampir selalu sama: tidak mampu membayar sewa tepat waktu. Saya masih ingat bagaimana kami mengemas pakaian, kasur, peralatan dapur, dan barang-barang lain ke dalam karung dan kardus. Semua diangkut sedikit demi sedikit dengan bantuan motor atau tetangga yang iba.

Lama-kelamaan, pindah rumah bukan lagi peristiwa yang mengejutkan. Ketika orang tua berkata, “Kita mungkin harus pindah lagi,” saya hanya menjawab, “Ya, aku wes siap ngangkati barang meneh.” Kalimat itu terdengar seperti candaan, tetapi sebenarnya menyimpan rasa lelah yang sulit dijelaskan.

Ayah menerima upah sekitar Rp90.000 sehari. Jika ada lembur, penghasilannya bisa menjadi Rp180.000. Tetapi lembur berarti beliau harus bekerja hingga malam, mengangkat beban berat dengan tubuh yang sudah tidak muda lagi. Usia ayah sudah melewati lima puluh tahun. Saya sering memperhatikan tangannya yang penuh kapalan dan wajahnya yang semakin terlihat lelah setiap hari.

Kami Sudah Bekerja Keras

Saya pernah bertanya dalam hati, mengapa orang yang bekerja begitu keras justru hidupnya tetap susah? Bukankah sejak kecil kami diajarkan bahwa kerja keras akan membawa kehidupan yang lebih baik? Kenyataannya tidak selalu demikian. Ayah bekerja hampir setiap hari, tetapi kami tetap kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Sebagai anak, saya tahu tugas utama saya adalah belajar. Guru-guru selalu mengatakan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib. Saya ingin percaya pada kata-kata itu. Namun, sering kali pikiran saya tidak berada di kelas. Ketika guru menjelaskan pelajaran, saya justru memikirkan apakah di rumah masih ada beras, apakah ibu sudah makan, atau apakah ayah hari ini mendapatkan pekerjaan.

Menahan lapar bukan lagi pengalaman yang asing bagi kami. Pernah dua hari di rumah hampir tidak ada makanan yang layak dimakan. Air putih menjadi teman paling setia untuk mengganjal perut. Saya masih bisa menahan lapar, tetapi melihat adik saya bertanya, “Hari ini kita makan apa?” adalah rasa sakit yang tidak bisa saya ceritakan dengan kata-kata.

Saya sering berharap adik tidak menyadari keadaan kami. Saya ingin ia bisa tumbuh seperti anak-anak lain yang tidak perlu memikirkan apakah besok masih bisa makan. Tetapi kenyataannya, kemiskinan membuat seorang anak belajar menjadi dewasa lebih cepat daripada seharusnya.

Untuk berangkat sekolah saja saya harus menghubungi teman-teman, berharap ada yang bisa memberi tumpangan. Motor keluarga hanya satu, dan itu dipakai ayah bekerja. Kadang saya merasa tidak enak karena terlalu sering merepotkan mereka. Namun saya juga tidak punya pilihan lain.

Di sekolah, saya belajar bahwa setiap orang memiliki hak yang sama. Tetapi ketika melihat teman-teman bisa membeli makanan di kantin tanpa berpikir dua kali, sementara saya menghitung setiap seribu rupiah yang ada di saku, saya sadar bahwa kesempatan hidup ternyata tidak pernah benar-benar sama.

Dalam pertemanan, saya juga belajar memendam perasaan. Ada kalanya perkataan teman membuat saya sakit hati. Namun saya memilih diam. Saya takut jika hubungan kami memburuk, besok saya tidak punya lagi teman yang bisa memberi tumpangan ke sekolah. Terkadang kemiskinan bukan hanya membuat seseorang kekurangan uang, tetapi juga memaksanya menelan harga dirinya sendiri.

Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu penolong bagi saya dan adik. Banyak orang memperdebatkan program itu dari sisi politik, anggaran, atau efektivitasnya. Saya tidak mengerti semua itu. Yang saya tahu, ketika perut kosong lalu mendapat sepiring makanan hangat di sekolah, rasanya seperti mendapat harapan baru.

Setiap hari Jumat, saya sering membawa pulang nasi Jumat Berkah lebih dari satu porsi. Saya memikirkan ibu dan adik yang menunggu di rumah. Mungkin bagi sebagian orang itu hanyalah sebungkus nasi, tetapi bagi keluarga kami, itu bisa menjadi makan siang yang sangat berarti.

Saya sering mendengar orang dewasa berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, investasi, bonus demografi, atau Indonesia Emas 2045. Istilah-istilah itu terdengar hebat. Namun, bagi saya, semua itu terasa sangat jauh. Yang saya lihat setiap hari adalah ayah yang pulang dengan tubuh kelelahan, ibu yang terus berusaha menghemat setiap rupiah, dan adik yang belajar memahami arti hidup dalam kekurangan.

Kadang saya bertanya kepada diri sendiri, apakah negara benar-benar melihat keluarga-keluarga seperti kami? Kami bukan pemalas. Ayah bekerja keras setiap hari. Ibu berusaha mengatur keuangan yang jumlahnya selalu kurang. Saya dan adik berusaha belajar agar suatu hari bisa mengubah keadaan. Tetapi mengapa bekerja keras saja terasa belum cukup?

Saya tidak menulis ini untuk meminta belas kasihan. Saya hanya ingin menceritakan bahwa di balik angka-angka statistik tentang kemiskinan, ada wajah-wajah manusia yang benar-benar menjalani kehidupan itu setiap hari. Ada anak-anak yang berangkat sekolah sambil memikirkan makan siang. Ada orang tua yang bekerja sampai larut malam tetapi tetap tidak mampu membayar kontrakan. Ada keluarga yang tidur dengan harapan sederhana: semoga besok masih ada pekerjaan dan masih ada makanan.

Saya masih memiliki mimpi. Saya ingin melihat ayah berhenti bekerja sebagai buruh ketika usianya sudah tua. Saya ingin ibu tidak lagi menangis diam-diam karena memikirkan uang kontrakan. Saya ingin adik bisa sekolah tanpa harus merasakan lapar. Dan saya ingin suatu hari nanti, ketika ada orang berkata bahwa hidup di Yogyakarta itu murah, saya bisa menjawabnya dengan senyum bukan lagi dengan getir.

Sampai hari itu datang, saya akan terus belajar, terus bertahan, dan terus berharap. Sebab bagi keluarga seperti kami, harapan sering kali menjadi satu-satunya harta yang tidak pernah bisa dirampas oleh keadaan. Satu hal lagi, ternyata yang namanya buruh harian lepas itu adalah kemiskian, dan kemiskinan itu hanya enak diperbincangkan namun tidak enak untuk dijalaninya.

Yogyakarta, 5 Juli 2026

Oleh: Vibi Prabawana, Seorang Murid SMA di Yogyakarta.

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Orasi Ilmiah
Gagasan

“Dramaturgi” Dibalik Skandal Riset “Bodong”

DUNIA akademik Indonesia baru saja dihantam badai yang memalukan di panggung internasional....

Kopdes Merah Putih
Gagasan

Jangan Dipersempit, Koperasi Desa Merah Putih Mesti Dipandang Lebih Holistik

RASANYA, perlu diselaraskan dalam pemikiran koperasia atas hadirnya program Koperasi Desa /Kelurahan...

Dream Job
Gagasan

Secercah Harapan Muncul, Semoga Badai Ekonomi Segera Berlalu

BELUM LAMA INI, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan perlunya disiplin fiskal. ...

KTT BRICS+
Gagasan

Ketika “The President’s Men” Mengalahkan Peraih Adhi Makayasa

JAKARTA, Bisnistoday - Pada penutupan Pendidikan Reguler (Dikreg) LXVI Tahun 2026 di...