CIREBON, Bisnistoday – Ancaman kebangkrutan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) serta masalah penyelundupan bahan baku rotan ke luar negeri menjadi perhatian serius bagi industri mebel dan kerajinan rotan di Cirebon. Eddy Sugiarto, Ketua DPD HIMKI Cirebon Raya, berharap pemerintah dapat mengambil langkah tegas untuk mendukung industri ini agar tetap bertahan dan berkembang.
Dukungan yang memadai akan membantu mempertahankan eksistensi produk rotan di pasar internasional dan memastikan regenerasi yang berkelanjutan di industri ini. Dengan adanya tindakan nyata dari pemerintah, diharapkan industri mebel dan kerajinan rotan di Cirebon dapat terus menjadi salah satu sektor unggulan yang berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
Industri mebel dan kerajinan rotan di Cirebon sebelumnya dikenal memiliki ketahanan yang lebih baik dibandingkan komoditas lain. Produk-produk rotan dari Cirebon terus menunjukkan eksistensinya di pasar internasional, dengan tujuan ekspor diantaranya ke negara-negara seperti Amerika Serikat, Afrika Selatan, Singapura, Jepang, Brazil, Inggris, Australia, dan Kanada. Namun, ancaman kebangkrutan industri TPT dan penyelundupan bahan baku rotan ke luar negeri telah menjadi tantangan ganda bagi industri ini.
“Ancaman kebangkrutan yang dialami oleh industri TPT sangat mengkhawatirkan kami. Industri rotan di Cirebon belum pulih benar dari upaya pemulihan akibat banyaknya celah penyelundupan bahan baku rotan ke luar negeri. Hal ini tentu sangat mengganggu dan mengancam keberlangsungan industri kami,” kata Eddy Sugiarto Kamis (4/7)
Eddy menjelaskan saat ini meskipun menghadapi berbagai tantangan, produk rotan dari Cirebon masih mampu mempertahankan eksistensinya di pasar ekspor. Namun, tanpa dukungan yang memadai dari pemerintah, keberlanjutan industri ini dapat terancam. Eddy menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menutup celah penyelundupan bahan baku dan memberikan kebijakan yang mendukung industri rotan.
Selama beberapa tahun terakhir, produk mebel dan kerajinan rotan masih menjadi salah satu komoditas ekspor utama Cirebon yang sangat berpengaruh untuk mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD). Karena itu kata Eddy Sugiarto HIMKI membutuhkan kebijakan yang jelas dan tegas terkait menutup celah penyelundupan bahan baku dan mendukung keberlanjutan industri rotan di Cirebon.
Mengacu pada data dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Cirebon, produk rotan asal Cirebon telah diekspor sebanyak 1.499 kontainer atau senilai 62,14 juta dolar AS pada 2023. Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, dengan potensi yang ada kami berusaha optimis dengan industri ini ke depannya untuk ekspor ke pasar global 2024.
Sejauh ini jelas Eddy industri mebel dan kerajinan rotan ditopang oleh bahan baku rotan dalam negeri dimana 85% bahan baku rotan tersedia di bumi Indonesia. Industri ini juga disupport oleh tenaga-tenaga ahli yang profesional. Adanya ancaman kebangkrutan yang dialami oleh industri tekstil dan produk tekstil (TPT) membuat para pelaku industri mebel dan kerajinan yang berbasis rotan di Cirebon jadi terusik.
Pasalnya industri mebel dan kerajinan rotan ini belum pulih benar dari recoveri-nya akibat masih banyaknya celah penyelundupan bahan baku rotan ke luar negeri. Eddy bersyukur saat ini sudah tidak ada lagi pihak-pihak yang menghendaki ekspor bahan baku rotan atau relaksasi bahan baku rotan.
Sayangnya, pemerintah belum bisa menutup celah penyelundupan bahan baku rotan keluar negeri. Padahal bahan baku rotan merupakan senjata strategis bagi para pengrajin. Bahan baku rotan adalah senjata yang kuat bagi industri mebel dan kerajinan rotan nasional.
Adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) masif yang menimpa industri TPT bisa juga menimpa industri mebel dan kerajinan nasional. Sebab ‘critical point’ dari jenis industri ini hampir mirip, terutama dalam hal pasar yang rentan terhadap gangguan geopolitik dan perubahan kebijakan dari negara tujuan ekspor yang condong sangat protektif.
Untuk itu kami berharap pemerintah segera melakukan pencegahan. Apabila situasi ini dibiarkan terus berlarut, tidak mustahil apa yang dialami industri TPT nasional saat ini bisa merembet ke industri padat karya lainnya, termasuk industri mebel dan kerajinan ini. Inilah yang perlu dsikapi pemerintah.
Ancaman kebangkrutan yang dialami oleh industri TPT lantaran membanjirnya produk TPT impor ke Indonesia menunjukan bahwa pemerintah tidak serius mendukung penguatan daya saing industri dalam negeri. Para pelaku usaha seperti dibiarkan berjibaku dengan segala rintangan yang menghadang. Tapi di lain pihak pemerintah memerlukan devisa dan lapangan kerja serta pajak yang makin meningkat.
Jika pemerintah membiarkan hal ini berlarut-larut, akan berdampak pada regenerasi di industri rotan. Generasi muda tidak akan tertarik di industri ini karena banyak masalah yang timbul yang berasal dari pihak eksternal. Dengan demikian akan mengancam keberlangsungan industri mebel dan kerajinan ke depan. /**




