JAKARTA, Bisnistoday – Manajemen PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menduga adaserangan siber yang menyebabkan layanan perbankan BSI bermasalah dalam beberapa hari terakhir. Karena itu, perseroan perlu melakukan evaluasi dan temporary switch off beberapa saluran untuk memastikan keamanan sistem.
“Terkait adanya dugaan serangan siber, pada dasarnya perlu pembuktian lebih lanjut melalui audit dan digital foreksik,” kata Direktur Utama BSI, Hery Gunardi saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (11/5).
Kendati demikian, pihaknya memastikan data dan dana nasabah berada dalam kondisi aman lantaran kedua hal tersebut merupakan prioritas utama BSI saat terdapat permasalahan.
Merujuk data Google, serangan siber dalam 90 hari terakhir mencapai 807 ribu, dengan rata-rata 9.000 sampai 10 ribu serangan per hari ke berbagai lembaga, tak hanya lembaga keuangan.
Maka dari itu seiring berkembang pesatnya teknologi serta kebutuhan nasabah untuk produk keuangan digital, BSI menyadari perlunya peningkatan risiko keamanan termasuk keamanan siber.
Hery menyebutkan peningkatan keamanan siber perseroan dilakukan sesuai dengan standar keamanan regulator, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Dalam penyelenggaraan keamanan siber dan perlindungan data nasabah, BSI selalu mematuhi regulasi yang berlaku sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi,” tegasnya.
Ia menjelaskan sebanyak 96 persen sampai 97 persen transaksi keuangan di BSI sudah dilakukan melalui saluran Information Technology (IT), baik anjungan tunai mandiri (ATM), internet banking, dan mobile banking.
Dengan begitu, perseroan harus mencurahkan tenaga dan alokasi anggaran yang cukup untuk pengembangan teknologi, baik perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), aplikasi, dan media digital.
Pada tahun 2022, belanja modal (capital expenditure/capex) untuk IT BSI mencapai Rp280 miliar, sedangkan pada tahun 2023 meningkat menjadi Rp580 miliar.
“Tahun ini lompatan belanjanya sangat besar sebagai upaya kami untuk terus menjaga, mengembangkan, mendorong agar teknologi kami semakin solid, maju, dan modern,” ujar Hery menambahkan.
Minta Maaf
Sebelumnya, Hery Gunardi menyampaikan minta maaf atas kendala yang dialami nasabah dalam mengakses layanan BSI, sekaligus menegaskan komitmen untuk menjaga keamanan dana dan data milik nasabah.
Hery menuturkan, pihaknya terus melakukan proses normalisasi dengan fokus utama untuk menjaga dana dan data nasabah tetap aman, dan hingga saat ini proses normalisasi layanan telah dilakukan dengan baik.
“Atas nama BSI, kami menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan nasabah, karena adanya kendala dalam mengakses layanan BSI pada 8 Mei 2023. Proses normalisasi layanan BSI telah kami lakukan, dengan prioritas utama untuk meyakinkan dana dan data nasabah tetap aman di Bank Syariah Indonesia,” kata Hery dalam keterangan resminya.
Seperti diketahui, layanan aplikasi BSI Mobile tak bisa digunakan sejak awal pekan ini, Senin (8/5). Bahkan nasabah juga tidak bisa menarik dana di ATM serta transaksi di teller bank juga bermasalah./




