JAKARTA, Bisnistoday – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (22/05) ditutup menguat 36,33 poin ke posisi 7.222,37. Sementara indeks LQ45 naik 4,26 poin ke posisi 895,84.
Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta menyebut, penguatan IHSG dipengaruhi keputusan Bank Indonesia (BI) menahan tingkat suku bunga pada level 6,25 persen. Keputusan ini disambut positif oleh pasar sebab upaya ini dilakukan BI dalam rangka memperkuat nilai Rupiah yang saat ini melemah dan bergerak di level Rp 16.019 per dolar AS.
Dibuka menguat, IHSG betah di teritori positif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, delapan sektor menguat dipimpin oleh sektor energi yang naik 2,30 persen, diikuti sektor teknologi dan sektor kesehatan yang masing-masing naik sebesar 1,38 persen dan 1,06 persen.
Sebanyak dua sektor turun dipimpin sektor transportasi & logistik yang turun 1,30 persen, diikuti sektor barang baku yang turun 0,68 persen.
Saham saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu BIPI, BBYB, CLEO, GARO dan PYFA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni SOLA, HELI, TOOL, IOTF, dan IBOS.
Baca juga: Pasar Merespon Positif Kebijakan BI Menahan Suku Bunga, IHSG Menguat
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 993.293 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 14,94 miliar lembar saham senilai Rp10,22 triliun. Sebanyak 281 saham naik, 267 saham menurun, dan 230 tidak bergerak nilainya.
Rupiah Menguat
Sementara itu, kurs rupiah terhadap dolar AS juga menguat setelah Bank Indonesia (BI) mengumumkan untuk menahan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 6,25 persen pada hasil Rapat Dewan Gubernur BI Mei 2024.
Pada akhir perdagangan, kurs rupiah naik empat poin atau 0,02 persen menjadi Rp15.995 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp15.999 per dolar AS.
“BI mempertahankan suku bunganya pada angka 6,25 persen seiring upaya BI menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global,” kata Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede seperti dikutif Antara.
Keputusan BI untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 6,25 persen tersebut konsisten dengan kebijakan moneter pro-stability yaitu sebagai langkah preventif dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5 plus minus satu persen pada 2024 dan 2025 termasuk efektivitas dalam menjaga aliran masuk modal asing dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Josua menuturkan kepemilikan asing pada obligasi Pemerintah Indonesia naik sebesar Rp0,12 triliun menjadi Rp803 triliun atau 14,05 persen dari total beredar pada 20 Mei 2024.
Di sisi lain, Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, menyatakan bahwa ia perlu melihat tren disinflasi selama beberapa bulan sebelum mendukung penurunan suku bunga. Pernyataannya menegaskan bahwa anggota Fed tetap berhati-hati terhadap kebijakan moneter, sehingga mendorong ekspektasi yang lebih tinggi terhadap kebijakan “higher-for-longer”.
Investor masih akan menunggu notulensi Federal Open Market Committee (FOMC) dan pernyataan pejabat bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed pada pekan ini untuk melihat sinyal kebijakan suku bunga dari The Fed.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada Rabu menanjak ke level Rp15.995 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.024 per dolar AS./


