www.bisnistoday.co.id
Rabu , 24 Juni 2026
Home EKONOMI Bursa Anjlok, Harga Minyak Berpotensi Naik Lagi Gara-gara Trump
EKONOMIEnergiGLOBAL

Bursa Anjlok, Harga Minyak Berpotensi Naik Lagi Gara-gara Trump

Pada perdagangan awal hari ini, Senin (23/3/2026), Indeks acuan Nikkei 225 Jepang dan KOSPI Korea Selatan, masing-masing anjlok 4 persen dan 4,5 persen.

Presiden AS Donald J Trump.
PRESIDEN AS, Donald Trump./Ant
Social Media

JAKARTA-Bisnistoday: Pasar saham di kawasan Asia Pasifik anjlok setelah Presiden AS Donald Trump mengultimatum untuk menghancurkan infrastruktur energi Iran jika mereka tidak membuka kembali Selat Hormuz.

Pada perdagangan awal hari ini, Senin (23/3/2026), Indeks acuan Nikkei 225 Jepang dan KOSPI Korea Selatan, masing-masing anjlok 4 persen dan 4,5 persen. Sementara di Hong Kong, Indeks Hang Seng anjlok sekitar 2 persen.

ASX 200 Australia turun sekitar 1,6 persen, sementara NZX 50 di Selandia Baru turun sekitar 1,3 persen.

Kontrak berjangka di Wall Street, yang diperdagangkan di luar jam pasar reguler, mengalami kerugian moderat, dengan kontrak berjangka yang terkait dengan S&P500 dan Nasdaq Composite turun sekitar 0,5 persen.

Sementara itu, Al Jazeera melaporkan,  harga minyak tetap berfluktuasi di tengah kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut terhadap pasokan energi global.

Harga minyak mentah Brent, patokan internasional, naik lebih dari 1,5 persen hingga mencapai lebih dari US$114 per barel, sebelum turun menjadi sekitar US$112 pada pukul 02:00 GMT.

Pada Sabtu (22/3/2026), Trump mengancam akan “menghancurkan” pembangkit listrik Iran dalam waktu 48 jam jika Teheran tidak mengakhiri blokadenya terhadap Selat Hormuz.

Untuk diketahui, selat tersebut biasanya dilalui oleh sekitar seperlima ekspor minyak dan gas alam global. Iran berjanji untuk menutup sepenuhnya jalur tersebut jika Trump menindaklanjuti ancamannya.

Berdasarkan waktu peringatan Trump di Truth Social, batas waktu ultimatumnya akan berakhir pada pukul 23:44 GMT pada Senin ini.

Berpotensi Naik

Harga minyak telah melonjak lebih dari 50 persen sejak perang ini pecah pada 28 Februari lalu.

Para analis memperingatkan harga energi kemungkinan akan naik lebih signifikan lagi jika selat tersebut ditutup total. Beberapa pengamat memperkirakan harga minyak akan mencapai US$150 atau bahkan US$200 per barel.

Pada Minggu, Trump menelepon Perdana Menteri Inggris Keir Starmer untuk membahas situasi di Timur Tengah, termasuk penutupan efektif selat tersebut.

Kedua pemimpin sepakat bahwa membuka blokade selat tersebut sangat penting untuk memastikan stabilitas di pasar energi global,” kata kantor Starmer dalam sebuah pernyataan.

Pernyataan Trump bertentangan dengan pernyataan dia sebelumnya. Beberapa jam sebelum mengeluarkan ultimatumnya pada Sabtu, ia mengatakan bahwa pemerintahannya mempertimbangkan untuk mengakhiri operasi militer terhadap Iran.//

Arsip

Beritasatu Network

BISNISTODAY – INSPIRE YOUR BUSINESS

Related Articles

Komponen Otomotif
EKONOMIEkonomi & Bisnis

Menperin Menepis Tudingan Adanya Relokasi Sejumlah Perusahaan Komponen Otomotif

JAKARTA, Bisnistoday -Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita memerintahkan Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin,...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Aturan Baru: Platform E-commerce Wajib Cantumkan Seluruh Biaya Dalam Perjanjian Kemitraan

  JAKARTA, Bisnistoday - Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) resmi...

EKONOMIEkonomi & Bisnis

Gandeng ID Food, Koperasi Ekspor Gambir ke India dan Pakistan

JAKARTA, Bisnistoday - Koperasi Produsen Syariah Gambir Anam Koto Mandiri asal Sumatera...

Sosialisasi AASI
EKONOMIPerbankan & Asuransi

Workshop Fit and Proper Test Perdana, AASI Matangkan Kesiapan Industri Hadapi Spin-Off

JAKARTA, Bisnistoday - Menjelang target penyelesaian spin-off sesuai Peraturan Otoritas Jasa Keuangan...