JAKARTA, Bisnistoday — Perdagangan Bursa Berjangka Komoditi Indonesia 2026 resmi dibuka di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Pembukaan perdagangan dilakukan secara serentak oleh tiga bursa berjangka, yakni Bursa Berjangka Jakarta (BBJ), Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI), serta Indo Bursa Karisma Berjangka (IKB).
Sepanjang 2025, nilai transaksi perdagangan berjangka komoditi (PBK) tercatat mencapai Rp42.867 triliun, tumbuh 49,8 persen secara tahunan. Kontrak berjangka berbasis komoditi berkontribusi 89,48 persen.
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti Widya Putri, menyampaikan pentingnya kerja sama dan konsistensi seluruh pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan kontribusi sektor PBK terhadap perekonomian nasional.
“Untuk itu, komoditas unggulan yang saat ini belum masuk di bursa berjangka harus mulai dipetakan untuk mendapat manfaat pembentukan harga dan harga acuan serta manfaat lindung nilai (hedging),” ujar Roro dikutip melalui siaran pers Kementerian Perdagangan, Sabtu (3/1/2026).
Salah satu manfaat dan peran PBK adalah mengoptimalkan tata niaga serta ekosistem perdagangan komoditas melalui mekanisme pembentukan harga acuan.
Selain itu, PBK juga berfungsi sebagai sarana lindung nilai yang membantu pelaku usaha memperoleh kepastian harga.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Tirta Karma Senjaya, menyatakan pembukaan perdagangan PBK 2026 menjadi simbol semangat baru untuk mengakselerasi pertumbuhan industri.
“Pada 2026 ini, Bappebti beserta seluruh pemangku kepentingan PBK memiliki semangat baru yang mampu memantik perkembangan industri PBK ke arah yang lebih baik lagi di tahun ini,” ungkap Tirta.
Tahun lalu, di samping volume transaksi mencapai 14,56 juta lot, sejumlah komoditas mencatat kinerja signifikan.
Antara lain perdagangan fisik timah murni batangan ekspor senilai Rp26,98 triliun, pasar fisik emas digital sebesar Rp107,43 triliun, serta kontrak berjangka crude palm oil (CPO) senilai Rp2,69 triliun.
Perdagangan kontrak Renewable Energy Certificate (REC) juga membukukan nilai transaksi Rp1,84 miliar hingga pertengahan Desember 2025.
Tirta mengaku capaian tersebut didukung oleh penguatan literasi PBK masyarakat luas, peningkatan regulasi dan pengawasan, serta pengembangan produk dan mekanisme perdagangan produk.
“Segenap pemangku kepentingan perlu bersama-sama berupaya lebih keras dan lebih giat lagi pada 2026 ini untuk terus meningkatkan kinerja dan citra PBK di Indonesia,” pungkas Tirta.
Acara pembukaan PBK 2026 dihadiri 112 peserta dari pelaku usaha dan instansi terkait, menandai optimisme bersama agar ekosistem PBK tumbuh berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian Indonesia. (E2-NOVITA LESTARI)
Foto: YouTube @KementerianPerdaganganRI









































