SOLO, Bisnistoday – Suasana Pasar Kliwon di Solo selalu ramai sejak pagi. Di antara hiruk pikuk pedagang dan aroma malam batik yang khas, lahir kisah seorang pria yang gigih memperjuangkan warisan budaya. Dialah Andreas Soetanto, sosok di balik merek Batik Solo Sukses yang kini tak hanya dikenal di Indonesia, tapi juga menembus pasar luar negeri.
Bagi Andreas, batik bukan sekadar bisnis. Ia tumbuh dengan melihat para tetua di kampungnya tekun menggambar motif batik, mengolah malam, hingga menyulam kain dengan penuh kesabaran. “Saya selalu percaya, setiap goresan batik itu mengandung doa dan cerita. Sayang kalau hilang begitu saja,” ujarnya.
Tahun 2020, di tengah pandemi, Andreas memberanikan diri merintis usaha. Awalnya ia mencoba menjual berbagai produk, dari sarung hingga kemeja koko. Namun hatinya terpanggil kembali ke batik. Jalan itu tidak mudah. Produknya kalah cepat dengan tren fesyen instan, bahkan sempat kehilangan daya saing karena fotonya dicuri kompetitor.
“Sempat frustrasi, tapi saya pikir, kalau saya menyerah, siapa lagi yang akan melestarikan batik? Akhirnya saya berbenah, memperbaiki foto, belajar tren warna, dan mencoba menampilkan batik dengan wajah baru,” tuturnya.
Memberdayakan Lingkungan
Kini, Batik Solo Sukses bukan hanya milik Andreas. Ia berhasil membuka lapangan kerja bagi lebih dari 50 orang. Banyak di antaranya adalah penjahit dari Sragen yang sebelumnya kesulitan mencari pekerjaan tetap. “Bagi saya, ini bukan hanya soal bisnis. Ada keluarga-keluarga yang bisa makan, ada anak-anak yang bisa sekolah dari usaha ini. Itu yang membuat saya terus semangat,” kata Andreas dengan mata berbinar.
Salah satu penjahit, Ibu Sulastri (45), mengaku terbantu sejak bergabung. “Dulu saya hanya menerima pesanan jahit tetangga, penghasilannya tidak menentu. Sekarang, lewat Batik Solo Sukses, saya bisa punya penghasilan rutin, bahkan ikut bangga karena hasil jahitan saya dipakai orang-orang sampai luar negeri,” ujarnya.
Produk andalan Andreas, seperti Kutut Burgundy, Mahkota, dan Raflesia, selalu hadir dengan motif khas fauna. Ia percaya motif bukan sekadar hiasan, tetapi simbol kehidupan. “Saya ingin orang yang memakai batik kami merasa membawa cerita budaya Indonesia ke manapun mereka pergi,” ungkapnya.
Keberanian memadukan tradisi dengan gaya modern membuat batiknya diterima generasi muda. Banyak pembeli mengaku bangga memakai batik tidak hanya saat acara formal, tetapi juga dalam aktivitas sehari-hari.
Menembus Dunia
Digital menjadi senjata utama Andreas. Hampir 95 persen penjualannya berasal dari Shopee, dengan Shopee Livemenyumbang 30 persen. Berbagai kampanye belanja juga berhasil melipatgandakan penjualan.
Tak hanya itu, sejak 2021, batiknya ikut dalam Program Ekspor Shopee hingga menjangkau Filipina, Thailand, dan Singapura. “Batik itu identitas bangsa. Saat orang luar memakai batik kita, berarti budaya kita ikut berdiri di sana,” ucap Andreas bangga.
Kini, Andreas dan timnya juga berpartisipasi dalam Festival Batik Lokal Shopee hingga 5 Oktober 2025. Melalui kampanye ini, batik hadir dengan berbagai pilihan, dari kemeja, rok, celana, hingga aksesori, lengkap dengan diskon hingga 80 persen.
Namun bagi Andreas, pencapaian terbesar bukan pada angka penjualan. “Yang saya jaga adalah semangat agar batik tidak pernah hilang. Saya ingin anak cucu nanti masih bisa melihat batik sebagai bagian dari jati diri bangsa,” pungkasnya./




