JAKARTA, Bisnistoday – Pemerintah optimistis ekonomi Indonesia terus menunjukkan ketahanan di tengah dinamika global yang kian kompleks. Keyakinan ini disampaikan oleh Ferry Irawan, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN, Kemenko Perekonomian, saat acara Sarasehan 100 Ekonom INDEF bertema “Resiliensi Ekonomi Domestik sebagai Fondasi Menghadapi Gejolak Dunia” di Jakarta, baru-baru ini.
Ferry menjelaskan, meski dunia dihadapkan pada ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan proteksionis, dan volatilitas pasar keuangan, Indonesia tetap mencatat arah ekonomi yang positif. “Pemerintah terus memantau tantangan global agar perekonomian domestik tetap tangguh,” ujarnya.
Beberapa tantangan utama yang dihadapi Indonesia antara lain rendahnya produktivitas, tingginya ICOR (Incremental Capital Output Ratio) di angka 5,79, meningkatnya tenaga kerja informal pasca-pandemi, serta pembiayaan swasta yang masih terbatas.
Untuk menjawab persoalan tersebut, pemerintah menyiapkan strategi besar seperti diversifikasi pasar ekspor, transformasi digital dan ekonomi kreatif, hilirisasi industri, penguatan ketahanan pangan dan energi, hingga insentif fiskal seperti tax holiday untuk sektor prioritas.
Hilirisasi Jadi Andalan Pertumbuhan
Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM, menegaskan bahwa hilirisasi mineral dan pertambangan telah berkontribusi signifikan terhadap ekonomi nasional. “Capaian investasi sudah mencapai 75 persen dari target tahun ini, dan akan terus ditingkatkan agar pertumbuhan ekonomi tetap kuat,” jelasnya.
Todotua menambahkan, keberlanjutan hilirisasi memerlukan sinergi antara kebijakan investasi, perizinan, serta dukungan fiskal. Ia menyebutkan tiga tantangan besar yang harus dihadapi: daya saing, keberlanjutan, dan dampak lingkungan. Untuk menjawab hal itu, pemerintah tengah memperkuat strategi kawasan dan memberikan insentif pajak untuk peralatan dan bahan baku industri.
Sedangkan, Imaduddin Abdullah, Direktur Kolaborasi Internasional INDEF, menyoroti pentingnya ekosistem hilirisasi yang berkelanjutan. Todotua menjawab bahwa pemerintah kini menerapkan perizinan paralel untuk mempercepat proses usaha, sekaligus menjaga keseimbangan antara percepatan industri dan kelestarian lingkungan.
Kunci Masa Depan: Teknologi dan Energi Bersih
Sementara itu, Prof. Rina Indiastuti dari Universitas Padjadjaran menyoroti perlunya integrasi antara hilirisasi, pengembangan teknologi, serta peningkatan kualitas SDM. Menanggapi hal tersebut, Todotua menegaskan bahwa penguatan teknologi dan sinergi lintas sektor menjadi kunci dalam mempercepat hilirisasi nasional.
Namun, ia mengakui bahwa transisi menuju energi hijau masih menjadi tantangan besar. “Sebagian besar industri masih bergantung pada energi fosil, terutama batu bara, karena faktor biaya yang lebih murah dibandingkan energi hijau,” ujarnya.
Dengan berbagai strategi tersebut, pemerintah berharap perekonomian nasional tetap kokoh menghadapi tekanan global. Melalui hilirisasi, transformasi digital, serta penguatan SDM, Indonesia berupaya membangun fondasi ekonomi yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan.//









































