Menjadi pelukis itu tidak mudah. Dia harus memiliki imajinasi yang tinggi serta kemampuan mengekspresikan dirinya melalui karya seni. Seorang pelukis harus memiliki penguasaan teknik melukis, termasuk penggunaan media dan alat yang tepat.
“Tetapi itu saja tidak cukup.” kata Evelyne Dinata, pelukis klasik, asal Bukittinggi.
Kebutuhan utama dan paling urgent adalah media untuk berkarya . Setelah itu konsisten dengan tujuan untuk berkarya lebih baik dan semakin baik . Jangan berfikir soal hasil dulu ( finansial ). Butuh proses yang panjang untuk itu.
“Tidak cukup hanya bakat saja , jika tidak diasah . Banyak belajar dari lukisan terkenal . Setidaknya kita belajar dari warna “ indah” mereka . Sebab teori saja tidak cukup . Butuh referensi juga. Itu pengalaman saya,” ungkap pelukis otodidak.
Perempuan kelahiran 13 juli 1966 itu menceritakan dia tidak pernah punya cita-cita jadi pelukis . Pada mulanya melukis itu hanya sebatas hobi. Dia hanya setahun belajar di Sekolah Menengah Seni Rupa. Setelah itu drop out. Tapi dia menyadari darah seni itu datang dari ayahnya, yang juga seorang pelukis.
Kendati tidak sekolah itu, dia terus berlatih melukis dan ikut sejumlah pameran. Dari pameran ke pameran itulah dia menyadari bahwa lukisannya banyak diminati orang. Pameran pertama di Taman Budaya, Padang.
“ Itu memacu saya untuk terus melukis dan memperbaiki lukisan ke arah yang lebih bagus. Dan sudah cukup banyak juga yang mengkoleksi lukisan saya , baik di dalam maupun luar negeri. Sering aktif ikut berpameran , menjadi kan saya seorang pelukis seperti sekarang ini,”
Melalui melukis, Evelyne tak hanya ingin menciptakan sebuah keindahan karya seni. Dia juga bisa menyampaikan pesan, emosi dan pemikirannya. Seorang pelukis juga berperan penting dalam mewariskan nilai nilai budaya, merekam sejarah, dan menginspirasi orang lain.
Itulah salah satu alasan Evelyne tertarik dan fokus melukis tentang alam Minangkabau. Karya lukisannya mampu mengembalikan memori kita tentang kehidupan serta keseharian orang- orang Minangkabau.
“Konsep karya – karya saya kurang lebih mengenai alam Minangkabau, tradisi, serta keseharian perempuan Minang di masa lampau. Segala yang pernah saya lihat dan alami di masa kanak – kanak tentang budaya dan kebiasaan perempuan Minang, menjadi sumber inspirasi dalam saya berkarya,” ungkap Evelyne.
Misalnya , Evelyne melukis kebiasaan orang minang mengambil air dari perigi dengan buluh bambu yang dinamakan parian, atau lukisan perempuan yang pergi ke pasar berbaju kurung serta tikuluak dengan ketiding yang dijunjung di atas kepala. Pada kesempatan lain, Evelyne memotret ibu ibu atau remaja yang sedang menumbuk padi di lesung batu dalam lukisannya.
“Termasuk lukisan kebiasaan duduk di jenjang rumah mencari kutu di kepala . Kendaraan yang ada pada saat itu hanya bendi dan pedati. Itu semua sudah tidak dijumpai lagi di masa sekarang. Cerita” rakyat seperti Sabai nan aluih, Situ Nurbaya, Malin Deman juga memberi inspirasi untuk saya dalam melukis . Bahkan prosesi perkawinan pun. Tapi dengan gaya masa lampau . Unik dan klasik, itu salah satu yang menarik dari karya saya,” kata Evelyne.










































