JAKARTA, Bisnistoday – Kementerian Perdagangan terus berupaya meningkatkan kapasitas pelaku ekspor dalam memahami nilai-nilai perdagangan berkeadilan (fair trade) dan perdagangan berkelanjutan (sustainable trade). Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kompetisi produk Indonesia di kancah perdagangan barang dan jasa secara global.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Didi Sumedi menegaskan pelaku usaha Indonesia harus mulai menyelaraskan praktik perdagangan, produk, dan layanannya dengan prinsip-prinsip keberlanjutan. Tujuannya untuk meningkatkan keunggulan kompetitif dan merebut peluang pasar di dunia.
“Kita perlu mendorong agar produk dan jasa Indonesia bisa memenuhi unsur-unsur sustainable trade dan fair trade supaya dapat bersaing di pasar global. Isu berkelanjutan tersebut juga sudah menjadi salah satu hal yang diperhatikan masyarakat di negara maju, seperti Eropa dan Amerika Tengah. Hal ini tentunya menjadi tantangan bagi produk-produk Indonesia untuk bisa masuk pasar tersebut,” ungkap Didi, dalam keterangan persnya di Jakarta, kemarin.
Baca juga : UMKM Lokal Tembus Pameran Terbesar se-Asia di Jepang
Peningkatan kapasitas sustainable trade dan fair trade dilakukan melalui webinar yang diselenggarakan pada hari ini, Kamis (15/7). Webinar ini dihadiri ILO SCORE Project Manager Januar Rustandhie; SCORE Expert Trainer Jeff Kristianto; Pimpinan PT XSProjek Retno Hapsari dan COO PT Munti Cahaya Sejahtera Arie Wibowo S. Hadir sebagai narasumber yaitu para ahli di bidang fair trade dan praktisi yang telah melakukan prinsip-prinsip fair trade dalam usahanya.
“Pelatihan ini bertujuan membangun kesadaran pelaku ekspor untuk melakukan perdagangan secara lebih beretika guna memenangkan persaingan global. Selain itu, pelaku usaha diharapkan dapat berkontribusi nyata dalam meningkatkan ekspor Indonesia,” jelas Didi.
Menurut Sekretaris Jenderal Forum Fair Trade Indonesia (FFTI) Netty Febriana, dampak pandemi Covid-19 telah memberikan tekanan ekonomi dan perdagangan global yang meningkatkan risiko praktik perdagangan tidak berkelanjutan. Dalam upaya memulihkan ekonomi, terdapat potensi negara-negara yang mengurangi fokus pada komitmen mereka terhadap produksi barang dan jasa, serta perdagangan yang berkelanjutan.
Baca juga : Pameran Virtual Memacu Ekspor Nasional Ditengah Pandemi
“Perekonomian global semakin saling terkait dan mengacu pada isu-isu ekonomi global. Perhatian dunia terhadap isu lingkungan dan pemanasan global mendorong dunia usaha untuk mengubah cara dalam melakukan bisnisnya,” kata Netty.
Pembukaan Pendaftaran
Direktur Kerja Sama Pengembangan Ekspor Marolop Nainggolan menambahkan, Kementerian Perdagangan menggelar sebanyak enam sesi pelatihan. Pelatihan tersebut diselenggarakan tanggal 8 Juli, 15 Juli, 22 Juli, 29 Juli, 5 Agustus, dan 12 Agustus 2021. Kegiatan ini merupakan kerja sama Kemendag dengan SIPPO, program promosi dagang dari sekretariat negara Swiss bidang perekonomian; Global Reporting Initiative (GRI); serta Forum Fair Trade Indonesia (FFTI).
Baca juga : World Tea Expo, Indonesia Raih Transaksi USD 500 Ribu
Sebelumnya, sesi pelatihan pertama dilaksanakan pada Kamis (8/7) dan diikuti sebanyak 300 pelaku usaha. Hadir sebagai narasumber President of The Asia Board, World Fair Trade Oganization Asia, Mitos Urgel; Founder Mitra Bali Fair Trade dan Praktisi Fair Trade, Agung Alit; serta moderator Sekretaris Jenderal Forum Fair Trade Indonesia (FFTI), Netty Febriana.
“Sesi pembelajaran ini terbuka untuk umum. Bagi pelaku usaha yang masih ingin mengikuti sesi selanjutnya dapat melakukan pendaftaran kepesertaan melalui tautan http://bit.ly/SESI- FAIRTRADE,” papar Marolop./



